MUSDA Asosiasi Pokdarwis Lotim Bangun Harapan Baru


KM. Sukamulia - Musda I Asosiasi Pokdarwis Lotim yang berlangsung pada hari Kamis, 14 November 2019 merupakan momentum yang sangat bersejarah bagi para pelaku dan penggiat pariwisata yang tergabung dalam Asosiasi Pariwisata Lombok Timur. Bagaimana tidak, Musda ini adalah Musda Perdana Asosiasi Pokdarwis di Indonesia pada umumnya dan Lotim pada khususnya. Momentum seperti ini sudah cukup lama didambakan oleh para pengurus Pokdarwis di seluruh wilayah Lotim dan terselenggaranya Musda ini membangun harapan baru bagi perkembangan berbagai aspek kepariwisataan di Lotim pada khususnya dan NTB pada umumnya.

Melalui Musda I Asosiasi Pokdarwis Lombok Timur ini terbangun harapan baru untuk memantapkan gerakan memapankan pembangunan pariwisata Lombok Timur yang berbasis kerakyatan dan harapan baru membangun kerja sama serta komitmen bersama dengan kalangan pemerintah, pihak swasta dan berbagai lembaga yang bergerak dan perduli akan pentingnya pembangunan pariwisata daerah dan nasional.

Musda yang diketuai oleh saudara Mirzuan Ilhamdi ini murni bertujuan untuk memantapkan gerakan perjuangan membangun wisata Lotim yang berbasis kerakyatan yang selama ini dirintis dan dikembangkan oleh saudara Wendi Sazali dan saudara Zaenul Fadli selaku Ketua Forum Pokdarwis Lotim periode dan periode dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Dispar Lotim dan Dispar Provinsi NTB serta pihak-pihak lainnya.


Alasan utama diselenggarakannya Musda I ini adalah geliat pariwisata Lotim yang begitu besar saat sebelum terjadinya gempa dan geliat itu sempat melemah akibat gempa yang meluluhlantahkan pulau Lombok. Pasca gempa, para pelaku dan penggiat wisata Lotim berlomba membangun potensi wisatanya masing-masing tanpa keterlibatan Pengurus Inti Asosiasi Pokdarwis yang pada dasarnya sangat dibutuhkan dalam hal tersebut. Hal itu kemudian menimbulkan perspektif yang beragam sehingga beberapa kalangan menganggap bahwa pengurus Asosiasi Pokdarwis melempem alias pakum, lebih-lebih menjelang ahir tahun 2019 ini kegiatan tahunan Pokdarwis (Jambore Pokdarwis) tidak dilaksanakan sebab Dispar Lotim tidak memiliki anggaran untuk hal itu.

Pada setiap tahunnya Jambore Pokdarwis dijadikan sebagai ajang silaturrahmi, evaluasi keterlaksanaan program dan penetapan rencana kerja di tahun mendatang. Momen tersebut tentunya sangat dirindukan oleh setiap anggota Asosiasi Pokdarwis Lotim, termasuk oleh pak ketua (Fadli). Saya tahu betul bagaimana kerinduan beliau akan hal itu dan atas rasa rindu serta tanggung jawabnya maka beliau mencoba melakukan negosiasi dan menawarkan Even Asosiasi Pokdarwis Award 2019 kepada Dispar Lotim dan Dispar NTB. Tawaran pak Fadli direspon positif oleh pihak Dispar dan bahkan oleh Pemda Lotim. Namun, minimnya anggaran yang dimiliki oleh Dispar menyebabkan Fadli hanya mendapatkan dukungan moril sehingga beliau tidak kuasa melaksanakan even tersebut. Dan tentunya, hal itu menjadi pemikiran yang cukup berat bagi bapak Fadli, lebih-lebih tahun 2019 adalah ahir masa baktinya sebagai Ketua Asosiasi.


Mengacu dari hal itu, maka tidak ada satupun pihak yang bersalah atas tidak terselenggaranya Jambore Pokdarwis dan berbagai program asosiasi. Selaku Ketua, Fadli sudag berikhtiar sekuat tenaga namun ikhtiar beliau belum mendapatkan ridho dari Yang Maha Kuasa. Pihak Dispar Lotimpun tidak bersalah atas hal tersebut sebab Dispar tidak memiliki anggaran yang cukup besar.

Pada dasarnya kita semua (para pelaku dan penggiat pariwisata Lotim) berkeinginan untuk memajukan dunia kepariwisataan Lotim. Hanya saja, kita terkendala oleh minimnya anggaran dan adanya perubahan struktural dalam tubuh Dispar Lotim yang tentunya junga berpengaruh signifikan terhadap keterlaksanaan program.

Di sisi lain, anggota Asosiasi Pokdarwis Lotim terus bergerak membangun potensi wisata desanya masing-masing dengan penyelenggaraan berbagai even pariwisata, seraya mendesak pengurus Asosiasi untuk merapikan langkah. Demikian juga dengan Dispar Lotim yang terus berusaha meningkatkan kapasitas SDM para pelaku, penggiat dan pengusaha pariwisata Lotim melalui berbagai kegiatan DIKLAT yang didanai lewat Anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik. Pembangunan infrastruktur pendukung di beberapa objek wisata Lotim juga dilaksanakan. Itu berarti bahwa kita semua punya niat yang sama, yakni "Membangun Pariwisata Lotim". Hanya saja, strategi yang kita gunakan berbeda-beda.

Kita kembali kepada MUSDA, pada prinsipnya tidak ada pihak yang bersalah dalam penyelenggaraan MUSDA tersebut. Tujuannya juga sangatlah baik, langkah yang ditempuh juga sudah cukup baik alias tidak melanggar kode etik sebab sebelum MUSDA dilaksanakan, terlebih dahulu dilaksanakan Temu Kangen Pokdarwis Lotim. Hasil diskusi Temu Kangen itulah yang kemudian dibranding dengan nama Musda I Asosiasi Pokdarwis Lotim.


Meski tanpa dana awal, para penggagas Musda tersebut terus bergerak dan mengintimkan diskusi dengan berbagai pihak. Anggota Pokdarwis Lotim pun termotovasi untuk mensukseskan Musda tersebut dengan memberikan donasi sebagai dana penyelenggaraannya. Al-hasil, Musda terselenggara dengan baik yang meskipun peda evaluasi ahir tercatat bahwa biaya yang dikeluarkan melebihi dana yang terkumpul dari donasi. Namun demikian, itu bukanlah permasalahan bagi pengurus baru sebab Royal dan segenap inisiator Musda siap menanggulanginya.

Panitia Penyelenggara Musda bukan tidak pernah konfirmasi kepada pihak Dispar Lotim dan pihak Dispar bukan tidak perduli terhadap kegiatan tersebut, buktinya Bidang Pengembangan Kapasitas Dispar Lotim ikut berdonasi sebesar Rp. untuk biaya penyelenggaraan Musda tersebut.

Lalu bagaimana dengan persepsi bahwa Panitia Penyelenggara Musda tidak pernah konfirmasi kepada bapak Fadli selaku Ketua Asosiasi Pokdarwis Lotim atas agenda pemilihan pengurus inti Asosiasi Pokdarwis periode berikutnya. Sungguh itu adalah persepsi yang salah sebab panitia dan inisiator Musda tersebut tentunya adalah orang-orang yang paham betul mengenai tatacara dalam berorganisasi.


Dengan demikian, terlalu ekstrim jika ada yang mengatakan bahwa bapak Fadli dikudeta. Sesungguhnya, Musda I Asosiasi Pokdarwis Lotim tidak sedikitpun berniat untuk mengkudeta bapak Fadli. Bahkan, diawal pembicaraannya setelah resmi terpilih sebagai Ketua Asosiasi Pokdarwis Lotim di Musda I, Royal Sembahulun mengatakan, "Secara pribadi dan kita semua patut berterimakasih kepada bapak Fadli yang selama ini telah banyak berjuang dan membimbing kita memajukan asosiasi ini dan memajukan pariwisata Lombok Timur".

Jadi menurut pandangan saya, Musda tersebut terselenggara dengan baik atas dukungan anggota Asosiasi Pokdarwis dan berbagai kalangan. Intinya adalah komunikasi antar beberapa pihak yang belum begitu intim dan terjalin dengan mapan.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini, demikian juga dengan Musda I Asosiasi Pokdarwis Lotim yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Sehingga kita tidak perlu lagi saling menyalahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

"Inilah hidup, hari ini hidup kita benar-benar bersejarah seban hidup itu penuh dengan sejarah dan ini adalah perjuangan kita semua", ungkap Jaya Kusuma yang dinobatkan sebagai Bendahara Asosiasi Pokdarwis Lotim pada Musda I ini.

Memetik perkataan saudara Jaya Kusuma tadi, maka marilah kita anggap semua yang kita lakukan dalam membangun pariwisata Lotim selama ini adalah sejarah perjuangan yang indah. Di dalam sejarah tentunya ada hal baik dan hal buruk. Mari kita ambil dan pertahankan kebaikannya dan perbaiki kesalahan itu bersama-sama dengan saling asih, saling asuh dan saling asah atau dalam selogannya Pokdarwis Waringin Adem disebut dengan  "Berajong Rembak Bebarid Indip". Dan atau Ahyak Mudin menyebutnya "Sopok Angen Tunggal Gawe". Sesungguhnya tujuan kita satu, hanya cara yang kita tempuh untuk mencapai tujuan itu berbeda-beda dan mari kita satukan langkah.

Penyelenggaran Musda I Asosiasi Pokdarwis Lotim menuai berbagai persepsi. Dan itu adalah suatu kewajaran, hal yang lumrah terjadi dalam berorganisasi. Pda ahirnya, persepsi-persepsi tersebut akan menyatu menjadi harapan baru untuk masa depan yang lebih baik dan maju.

Perlu kami sampaikan bahwa puncak dari Musda yang dipandang kontripersial oleh beberapa kalangan ini adalah pemilihan Pengurus Inti Asosiasi Pokdarwis Lotim. Dalam pemilihan tersebut, Royal Sembahulun membawahi dua kandidat lainnya dengan perolehan suara sebanyak 42, menyusul Mirzoan Ilhamdi dengan 23 suara dan Jaya Kusuma 2 suara. Dengan demikian Royal mengemban jabatan ketua, Ming selaku Sekjen dan Jaya ditunjuk sebagai Bendahara.

Bale Abang Pesanggrahan Desa Timba Nuh Kecamatan Pringgasela adalah saksi bisu momentum bersejarah dalam dunia kepariwisataan Lotim pada khususnya dan Indonesi pada umumnya sebab Musda I Asosiasi Pikdarwis Lotim adalah Musda Perdana di Indonesia. Tempat ini akan menjadi bukti sejarah bahwa Asosiasi Pokdarwis Lotim adalah penyelenggara Musda Pertama di Bumi Pertiwi yang semoga kedepannya kegiatan yang sama dapat terlaksana di seluruh NKRI.

Mari kita hayati goresan pesan saudara Wendi Sazali yang berlaku sebagai pimpinan sidang pada MUSDA bersejarah ini, "Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Tetapi jika ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama karena apa yang mendefinisikan siapa kita, tidak ada artinya dibandingkan apa yang menyatukan kita".

Terbentuknya pengurus inti yang baru merupakan harapan baru bagi Asosiasi Pokdarwis Lotim. Ke depannya, Royal beserta segenap jajarannya dalam kepengurusan diharapkan mampu menjalin komunikasi yang baik dan signifikan dengan seluruh elemen yang bergerak dalam dunia kepariwisataan, termasuk pihak Dispar dan Pemda, kementerian dan Pemerintah Pusat, kades seluruh kawasan Lotim, beserta seluruh anggota Pokdarwis Lotim demi terwujudnya Wisata Lotim yang bermartabat dan NTB Gemilang.
_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru