Pesona Budaya Pengadangan Satukan Adat Dan Agama


KM. Sukamulia - Even Pesona Budaya II Desa Pengan Adat Gama yang bertema "Berbaris Indip Berajong Rembak" bukan sekedar menebar pesona atau pamer belaka, namun even tersebut dilaksanakan dengan tujuan memperlihatkan kepada dunia bahwa sesungguhnya adat dan agama adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa terpusahkan, dimana adat dan agama saling mendukung satu sama lain. 

Terkait dengan hal itu, di awal sambutannya pada Opening Ceremony Pesona Budaya II Desa Pengadangan, Iskandar (Kades Pengadangan) menceritakan bahwa Even Pesona Budaya II Desa Pengadangan Adat Gama dilaksanakan berangkat dari pandangan orang luar terhadap Desa Pengadangan yang memandang Pengadangan tidak beragama karena melaksanakan adat.

"Kami bersedih, Pengadangan disebut beragama selain islam bahkan disebut tidak beragama. Lalu, kami selaku generasi muda pengadangan mengkaji adat itu bagaimana ? Ternyata, alhamdulillah adat yang dituangkan oleh leluhur kami ternyata  luar biasa", papar Iskandar.

"Tidak beragama kalau tidak beradat, kalau sudah beradat maka pasti sudah beragama. Itu yang kami temukan sehingga kami bersepakat untuk membangkitkan bagaimana adat ini selama tidak menodai agama. Maka kita harus mensyukuri bahwa orang tua kita sudah mempunyai adat", tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Iskandar juga menyampaikan kesedihannya kepada pihak pemerintah yang hadir pada kegiatan itu. Beliau menyampaikan salam kerinduan masyarakat desanya kepada Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur serta Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang tidak menghadiri undangan mereka.

Setelah itu, beliau menegaskan "Hari ini kita buktikan, dari kabupaten, dari provinsi bahkan dari luar daerah bisa bersatu dan berbaur dengan kita. Mudah-mudahan lilin-lilin kecil  dari desa ini bisa menerangi dunia".

Sebelum mengahiri sambutannya, Kades Pengadangan membacakan goresan pemuda Desa Pengadangan, "Indonesia tidaklah diterangi oleh lampu-lampu besar yang ada di kota, tetapi penerang sesungguhnya adalah lilin-lilin kecil yang ada di desa dengan demikian mengabdi pada desa adalah memberikan cahaya terang untuk Indonesia tercinta. Anngunnya paras budaya, syaratnya nilai dan makna yang terkandung dalam adat istiadat, serta peran keduanya sebagai media pemersatu merupakan tinta-tinta indah yang akan mempercantik dan mengukuhkan eksistensi desa dan Indonesia pada umumnya. Inilah yang menjadi nazar pemikiran kami untuk menyelenggarakan Even Pesona Budaya ini secara berkesinambungan".

Pada ahir sambutannya, Iskandar menyampaikan harapannya dan seluruh masyarakatnya, "kedepan kami berharap, even ini dapat memperkuat persatuan masyarakat yang sama-sama bergerak selaras mewujudkan keindahan, kedamaian dan kesejahteraan atau yang kami sebut berajong rembak berbaris indip", tegasnya.

Benar apa yang dijelaskan oleh kepala desa Pengadangan tadi, sesungguhnya adat dan agama adalah dua hal yang tidak terpisahkan sebab itulah melalui Even Pesona Budaya II Pengadangan, masyarakat Desa Pengadangan menunjukkan kepada dunia akan betapa erat hubungan adat dan agama.  Hal itu dicerminkan melalui kegiatan-kegiatan ritus yang dilaksanakan pada even tersebut yang terdiri dari gemuruh salawat, kumandang dzikir jiwa, alunan doa sebagai kegiatan bernuansa islami serta pawai dulang, betetulak, begibung dan pagelaran seni tradisional sebagai rangkaian kegiatan bernuansa adat istiadat.
_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru