Geopark, Isu Lingkungan Dan Mitigasi Bencana Geologi

Simposium internasional Asia Pacific Geopark Network 2019 yang digelar di Lombok, NTB berlangsung sukses. Sejak 31 Agustus, simposium yang dimotori oleh Unesco Global Geopark ini selain mengenalkan dan membahas geopark di Kawasan Asia Pasifik juga mengusung tema besar soal lingkungan, mengajak masyarakat lokal di setiap geopark agar peduli dan membahas bagaimana mengurangi resiko bencana geologi. Tidak hanya bagi keberlangsungan situs warisan geologi namun secara umum untuk kesejahteraan masyarakat.

Sesuai jadwal APGN 2019, pada Selasa kemarin agenda diskusi dan presentasi membahas beberapa topik utama diantaranya, memperkuat sosial ekonomi masyarakat lokal untuk pengembangan lingkungan geopark, pelibatan masyarakat dan komunitas dalam menangani resiko bencana geologi dan pemulihan, mengenalkan ilmu pengetahuan tentang lingkungan kepada public, promosi geopark lokal sebagai global geopark dan lanskap jaringan gunung api geopark global.

Secara umum kepentingan pemerintah provinsi terkait gelaran APGN 2019 ke enam ini adalah bagaimana membangkitkan kepercayaan dunia khususnya pariwisata pasca bencana gempa pada tahun lalu. Berikutnya adalah mengusulkan Tambora sebagai Unesco Global Geopark. Setelah mendapatkan sertifikat pengakuan dari Unesco, Tambora  sebagai warisan dunia maka seluruh masyarakat dunia akan ikut bertanggungjawab terhadap kelestarian situs geologi tersebut. Kepentingan lain dalam konsep geopark secara umum seperti dikatakan M Ridha Hakim dari World Wild Life (WWF) NTB adalah konservasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Geopark Rinjani telah lebih dulu mendapat pengakuan sebagai global geopark sejak 2018. Rekomendasi sebagai global geopark tersebut tidak lepas dari peran Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB dalam mendorong Kawasan Rinjani sebagai geopark nasional pada 2018. Pada tahun yang sama juga ditetapkan sebagai zona inti dari area Cagar Biosfer Lombok.

Geopark Rinjani termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) NTB. Kompleks hutan Gunung Rinjani memiliki luas 125.000 hektare yang terdiri atas beberapa fungsi hutan. Di mana 41.330 hektare atau 32,86 persen merupakan hutan konservasi yang dikelola Balai TNGR. Gunung Rinjani juga menjadi satu-satunya sumber air untuk 54 sungai atau sekitar 90 persen sungai di Lombok berhulu di Gunung Rinjani.

Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata. Tercatat terdapat 90 pemegang ijin track organizer (TO), baik badan usaha maupun perorangan; 449 pemandu wisata; dan 1.157 porter. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Sudiyono menyebutkan, minimal terdapat 1.696 sumber daya manusia (SDM) yang terlibat secara langsung dalam objek destinasi wisata Gunung Rinjani. Bentuk intervensi konservasi yang dilakukan BTNGR dalam Model Desa Konservasi yaitu dengan memberikan sejumlah bantuan kepada kelompok masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui gerakan pemberdayaan, sehingga dapat mengurangi konflik dan tindakan pelanggaran kehutanan di kawasan taman nasional tersebut.

Begitupula dengan Geopark Tambora yang sedang digadang gadang menjadi Unesco Global Geopark. Setelah resmi menjadi cagar biosfer dunia dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Prancis pada Juni lalu, agenda besar lainnya setelah deklarasi kawasan Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora (Samota) di Pulau Sumbawa seperti dikatakan Delegasi Geopark Tambora, Ridwansyah adalah menyatukan Tambora ke dalam Samota sebagai konsep konservasi menyeluruh.

Wakil Gubernur, Sitti Rohmi Djalilah mengatakan pengakuan cagar biosfer memiliki makna penting sebagai cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi, sekaligus didukung kajian ilmiah.

Kata Rohmi, Pemprov NTB dan masyarakat telah siap dan bersedia untuk mengambil langkah nyata demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer. Pemprov siap mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau), termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu.

"Pengesahan Saleh, Moyo, Tambora atau Samota sebagai cagar budaya dunia merupakan pengakuan dari komunitas internasional atas kerja keras dari masyarakat NTB dan pemerintah Indonesia," ujar Umi Rohmi.

Samota, ujarnya, adalah bagian dari sunda kecil. Kawasan ini mencakup dataran rendah hingga ke perbukitan dan gunung-gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0 hingga lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. Rohmi menyampaikan cagar biosfer Rinjani di Lombok dan Samota di Sumbawa akan menjadi Kawasan konservasi terpadu.

Untuk diketahui, cagar biosfer bisa menjadi muara kegiatan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pasokan kebutuhan logistik (Riset, Monev, Pendidikan Dan SDM). Cagar Biosfer juga merupakan laboratorium alam bagi pembangunan berkelanjutan.

Memiliki cagar biosfer juga memberikan akses bagi tampilnya NTB di forum Internasional. Misalnya, di Forum ICC MAB yang terdiri dari 122 NEGARA. Juga Forum WNBR (World Network of Biosphere Reserve). Ada lagi Forum SeaBRnet (Southeast Asia Biosphere Reserve Network), dimana Lombok akan menjadi tuan rumah pertemuannya pada tahun 2020 mendatang. Juga, SSC (South-South Cooperation).

Menurut Rohmi, cagar biosfer juga bermanfaat untuk sejumlah kebutuhan. Misalnya, bagi masyarakat di sekitarnya, bisa menggerakkan aktivitas jasa ekosistem, kegiatan produksi dan kelestarian budaya. Selain itu, juga memiliki manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem.

Cagar biosfer juga akan bermanfaat sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya sebagai laboratorium alam. Bagi pemerintah, (daerah maupun pusat), cagar biosfer akan bermanfaat untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya dan citra pemerintah. Bagi sektor swasta, cagar biosfer akan memberikan nilai berupa penyediaan komoditas.

Mitigasi Bencana

Seperti diketahui, Geopark Rinjani terdampak bencana gempa setahun lalu. Pentingnya pemetaan detail potensi bahaya yang selanjutnya dijadikan dasar dalam mendesign upaya mitigasinya dijelaskan oleh Kusnadi, Ketua IAGI NTB. Ada 3 potensi bahaya geologi di kawasan Gunung Rinjani yaitu potensi gempa bumi, tanah longsor dan gunungapi. Beberapa pihak seperti DPH Geopark Rinjani-Lombok dan Dinas LHK Provinsi NTB juga menyoroti perlunya managemen kebersihan yang lebih baik di Rinjani sehingga kasus-kasus penumpukan sampai di puncak dapat dihindari kedepannya termasuk aspek sosial ekonomi sebagai sumber penghidupan masyarakat disekitar Rinjani sebagai obyek wisata maupun lainnya.

Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani, Sudiyono menyampaikan bahwa belajar dari kejadian Gempa Bumi tahun 2018, TNGR secara bertahap akan berupaya untuk menyiapkan standar keaman yang baik untuk pendakian mulai dari safety check sebelum pendakian mulai dari kesehatan, perlengkapan pendakian sampai pemberian informasi-informasi mitigasi yang penting saat melakukan pendakian. Begitu juga dengan prosedur tetap dalam upaya evakuasi pengunjung yang mendapatkan masalah dijalur Rinjani yang melibatkan multi pihak.  Ia juga menghimbau travel organizer yang membawa wisatawan dapat lebih terampil dalam mitigasi dan mampu mensosialisasikan kepada wisatawan sebelum melakukan pendakian.

Kusnadi menambahkan, potensi kejadian gempa bumi besar memang relatif kecil setelah kejadian gempa bumi tahun 2018 tapi dengan kejadian gempa bumi itu akan menimbulkan potensi gempa bumi menengah sampai rendah dengan Magnitudo 5 ke bawah, potensi longsor dari retakan – retakan yang telah terbentuk akibat gempa bumi sebelumnya perlu diantisipasi dengan memasang penanda yang jelas dan dalam bentuk yang lebih modern seperti dengan menambahkan QR Code sehingga lebih banyak informasi yang bisa diberikan. Letusan gunungapi untuk saat ini potensinya hanya dalam radius 1,5 km dari Gunung Barujari sehingga bukan merupakan ancaman yang terlalu serius memingat pengunjung tidak boleh turun ke danau Segara Anak.

Selain upaya konservasi sebagai bentuk perlindungan terhadap lingkungan, mitigasi bencana dimaksudkan pula perlindungan kepada manusia sebagai pengelola lingkungan. Tujuannya adalah kesejahteraan. Untuk itu, sebagai pola yang berkelanjutan, mitigasi penting dilakukan dengan melibatkan komunitas terkecil di desa sampai dengan penggunaan anggaran Dana Desa dalam RPJMD dan RPJMDes.

Peranan penting desa/kelurahan dalam lingkungan geopark sebagai upaya pengurangan risiko bencana, diharapkan para pihak dapat mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya dengan cara adaptasi dan mitigasi melalui perencanaan dan kebijakan anggaran terhadap penanggulangan bencana.

Kabupaten Lombok Tengah misalnya, memiliki potensi terhadap ke empat jenis bencana alam geologi yaitu Gempa Bumi, Tsunami, Gunungapi dan Gerakan Tanah dengan tingkat potensi yang berbeda-beda. Contoh, bagian Selatan Lombok Tengah seperti Awang, Kuta, dan Selong Belanak memiliki potensi yang cukup tinggi terhadap tsunami karena pantai-pantainya langsung menghadap samudra Hindia tempat bersemayamnya megathrust. Sedangkan potensi gempa bumi seperti dikatakan Kusnadi, berada pada level menengah sampai rendah karena jarak dari sumber gempa bumi yang jauh dan jenis batuan di Kabupaten Lombok Tengah didominasi oleh Batuan Vulkanik berumur jutaan tahun yang telah mengalami pengerasan sehingga mampu lebih meredam getaran gempa bumi. Kecuali bagian Utara seperti Batukliang Utara memiliki potensi yang lebih besar karena disusun oleh endapan vulkanik gunung Rinjani yang masih terbilang muda dan kurang terkonsolidasi.

Untuk potensi dampak letusan gunungapi di Kabupaten Lombok Tengah bagian utara relatif rendah yaitu hanya berpotensi terhadap aliran lahar dan banjir bandang sedangkan dampak langsung seperti jatuhan batupijar, awan panas, lava dan gas beracun tidak sampai tempat ini. Potensi gerakan tanah di Kabupaten Lombok Tengah didominasi oleh potensi rendah dibagian tengah dan sebagian tempat yang memiliki tingkat kelerengan yang besar seperti bagian Utara yang dekat dengan gunung Rinjani dan perbuktian bagian Selatan berpotensi sedang sampai tinggi.

Yang penting dilakukan adalah meningkatkan upaya mitigasi di desa-desa yang memiliki potensi bencana alam geologi melalui upaya edukasi, penyadaran, kampanye dan menerapkan aturan atau awik-awik desa terutama dalam pembangunan desa tangguh bencana.

Mengacu pada Permendes No. 16 Tahun 2018, prioritas penggunaan dana desa untuk kegiatan Adaptasi dan Mitigasi memberikan kemudahan dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan penganggaran melalui dana desa sehingga tercipta desa tangguh bencana. Minimal 1 % dari dana desa harus dianggarakan untuk upaya pengurangan risiko bencana sehingga tercipta desa tangguh bencana sehingga ada sinergi dengan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah kabupaten/ kota. Dengan demikian, kelestarian yang terjaga sebagai obyek wisata geopark dapat memberikan kesejahteraan dan mempercepat pemulihan situs geopark jika terjadi bencana. (jm – tim media/ dari berbagai sumber/ foto : mountainforecast).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru