Merekam Jejak Majapahit Di Sumbawa

Pada pertengahan Juni 2019,  saya mendampingi tim peneliti dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan RI ke Sumbawa dan Sumbawa Barat dalam ranga merekam jejak Majapahit di Pulau Sumbawa dari aspek sastra dan tradisi lisan.

Dari perjalanan ini saya menemukan istilah Melting Pot untuk Pulau Sumbawa sebagai tempat atau wadah pertemuan arus peradaban dari beebagai negeri. Gugusan pulau Sumbawa terutama di sisi utara nemiliki potensi alam yang beragam sebagai tempat persinggahan berbagai suku bangsa, produk perdagangan, sosial budaya dan bahkan sistim politik dan pemerintahan. Di sepanjang pantai utara Sumbawa menyimpan berbagai kekayaan alam seperti kayu, rusa,, kuda, madu dan komoditi lainnya yang dibutuhkan oleh para musafir dan pedagang untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan maupun berdagang. Ketersediaan mata air tawar dan lekukan teluk teluk mungilnya yang sangat potensial sebagai tempat persinggahan menghadapi badai dan perubahan musim adalah alasan yang juga menjadi daya rangsang para pelaut untuk singgah di pulau Sumbawa.

Penelusuran tentang jejak Majapahit di pulau Sumbawa merujuk pada penyebutan nama nama wilayah yang disebut dalam Negarakertagama sebagai Desantara Majapahit. Kami mengawali penelusuran di desa Ongko kecamatan Empang. Di desa ini terdapat dusun Majapahit yang sekarang dimekarkan menjadi dusun Maja Dalam dan Maja Luar. Sejarahwan Sumbawa Aries Zulkarnain menuturkan bahwa dusun Majapahit adalah basecam pasukan Nala sebelum menuju Dompo.

Budayawan Sunbawa Barat Wahyu Sunan Kalimati menuturkan, jejak Majapahit masih terekam dalam bentuk Lawas dan kutir dan tradisi lisan lainnya seperti Batu Ble,Papin Acak, Jampang Ama Ndoa, upacara panen padi, upacara Tanak Ngeneng Uyin( upacara minta hujan) dan lain lain.

Disamping itu terdapat gong dan benda pusaka di dusun Mantar serta nama nama kampung yang diyakini sebagai bagian dari jejak majapahit di Sumbawa Barat seperti kampung Maja, Menala( nala), kampung Tatar dan Tongo, serta bukit Singa yang diperkirakan dari Singasari.

"Sumbawa adalah Tanja( campuran) Melayu, Sulawesi dan Jawa Kuno" demikian kata Wahyu yang juga pengasuh pondok pesantren Kalimati Sumbawa Barat

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru