Membangkitkan Pariwisata Pedesaan


Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), berada di atas dua pulau yang dihuni oleh beberapa etnis berbeda. Pulau tersebut adalah Lombok dan Sumbawa. Di Pulau Lombok, sebagian besar dihuni oleh etnis Sasak dan minoritas etnis Hindu-Bali. Sedangkan Pulau Sumbawa dihuni oleh etnis Samawa, Bima dan Dompu.

Dilirik dari sisi pariwisata, kedua pulau ini memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Pulau Lombok dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Sedangkan pulau Sumbawa, dikenal dengan potensi geopark sebagai sasaran akademik, penelitian dan tentu sebuah ekowisata.

Orang asing datang ke NTB, tujuannya untuk melncong, menikmati keindahan alm semesta, keunikan budaya dan keramahtamahan masyarakat menyambut tamunya yang datang. Dengan senyum yang manis disertai sikap gotong royong oleh tiap warga dalam membersihkan, melestarikan dan mengamankan lingkungan yang indah. Ditambah cita-cita, agar para wisatawan asing mau lebih lama melancong dan lebih lama tinggal di daerah sasarannya. Sehingga pendapatan dan penghasilan warga dapat meningkat yang bersumber dari jasa hotel, restoran, travel, dan jasa transportasi.

Dengan begitu, warga NTB, mendapatkan pekerjaan dengan mudah, sehingga mereka menjadi sejahtera. Jika masing-masing keluarga sudah mendapatkan kesejahteraan, dengan sendirinya dengan mudah pula melaksanakan kewajibannya, berterima kasih kepada Sang Pencipta alam semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika kesadaran ini tetap ditegakkan dengan dorongan rasa otimisme yang kuat, tentu pelestarian budaya dan pariwisata yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Di kemudian hari dapat dinikmati oleh anak cucu mereka.


Dampak yang ditimbulkan oleh pariwisata terhadap warga masyarakat cukup besar. Katakan saja, semisal tanah-anah masyarakat banyak yang terjual, lingkungan banyk yang tercemar, sifat kegotongroyongan makin memudar beralih ke sifat individual. Kebutuhan masyarakat makin sulit dan mahal, kejahatan makin merajalela, narkoba, perampokan, AIDS, dan pencurian makin meningkat. Kepadatan penduduk makin membludak, penduduk kota banyak yang membeli tanah di desa-desa dengan menjual tanah ke kota, sistim pertanian ditinggalkan, generasi muda beralih ke bidang pariwisata.

Warga NTB banyak jadi penganggur, karena sulit mendapatkan pekerjaan. Hotel, restoran dan jasa angkutan banyak dimiliki dan dikusai oleh orang orang asing. Masyarakat NTB masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kesenian sakral banyak yang diperjualbelikan, guide-guide dn pemandu pariwisata bukan sepenuhnya warga NTB, sehingga informasi terhadap kebudayaan dan pariwisata yang meruakan implementasi dari nuansa religious menjadi tidak tepat. Hotel, restoran, art shop, perusahaan, warung-warung yang ada sebagian besar dimiliki oleh orang-orang asing dan sedikit dimiliki oleh orang pribumi warga NTB.

Melihat dampak yang diakibatkan oleh industry pariwisata, pemerintah bersama masyarakat, sudah waktunya mulai memikirkan untuk mencari solusi, bagaimana menanggulangi dampak negative yang diakibatkan oleh industri pariwisata.


Salah satu solusinya adalah mengadakan promosi pariwiata pedesaan. Jika cara ini mutlk dilakukan, masyarakat pedesaan akan bisa menikmati secara langsung nikmatnya dolar yang dibawa oleh para wisatawan asing maupun lokal. Masyarakat pedesaan bisa mengelola desanya sendiri bersama seluruh masyarakat desa. Obyek wisata yang dibuatnya disesuikan dengan kondisi alam desanya sendiri dengan menampilkan dan mementaskan semua kebudayaan yang dimiliki oleh desa tersebut, misalnya membuat rafting, jika desa tersebut memiliki sungai yang bagus. Di beberapa desa di kecamatan Narmada dan Lingsar (Lombok Barat) misalnya, dikembangkan wisata pertanian dengan menampilkan proses mencangkul, membajak, menanam sampai memanen padi. Menggerakkan usaha kecil dan menengah (UKM) sesuai dengan keterampilan yang dimiliki oleh warga masyarakat desa yang bersangkutan.

Pariwisata pedesaan akan bisa mengurangi pengangguran, serta membidik warga masyarakat NTB untuk bisa mandiri dan kreatif serta mengurangi terjadinya urbanisasi dari desa ke kota. Karena lapangan pekerjaan, pendidikan, hiburan dan sebagainya telah ada dan tersedia di kamung halamannya.

Pariwisata pedesaan bisa terwujud jika pemerintah mengembangkannya melalui promosi dan sosialisasi bersama-sama seluruh komponen dan lapisan warga masyarakat NTB. Tetapi tidak menjadi penonton, kelaparan dan kehausan di negerinya sendiri.

Masyarakat local melalui organisasi pengelola obyek wisata yang dibentuk, tentunya dengan dipasilitasi sarana dan prasarana yang memadai. Dengan begitu, diharapkan dapat tercapainya community based sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan yang berbasis pada masyarakat.

Sebagai ilustrasi kecil, bagaimana gigihnya masyarakat Desa Senaru di kecamatan Bayan-(KLU). Mereka masyarakat setempat bisa menggiring Gunung Rinjani menjadi sebuah asset yang mampu menggemparkan dunia internasional. Bagaimana tidak, gunung yang menjadi kebanggaan masyarakat KLU secara khusus, mampu memecahkan rekor pendakian. Dari rekor ini, belum termsuk jumlah pendaki lokal dari berbagai daerah di Indonesia.

Demikian pula pencapaian jumlah pegunjung di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dipastikan akan mencapai angka tertinggi dari yang pernah ada. Peningkatan jumlah pengunjung TNGR ini, otomatis akan berdampak langsung pada masyarakat sekitar. Ini dilihat dengan semakin meningkatnya harga sewa porter (kuli angkut di gunung) ke TNGR. Jika biaya porter sekitar Rp.100 ribu per hari, kita bisa mengkalkulasikan angka, seorang pendaki asing meninggalkan uang sebanyak US$ 300 selama empat hari. Jika rata-rata 5000 pendaki asing per-harinya, silahkan hitung sendiri berapa dolar atau berapa milyar rupiah uang yang disumbangkan oleh pendaki asing. Ini belum termasuk uang yang dibawa pendaki nasional.

Itulah sebabnya, mengapa asset yang ada di pedesaan perlu dikelola oleh masyarakat desa bersangkutan. Perlu terus membangkitkan pariwisata pedesaan. *Lalu Pangkat Ali

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru