Reorientasi Orang Tua Bagi Anak Dalam Menyongsong Tahun Pelajaran Baru

 Para orang tua mulai disibukan dengan aktivitas mencari sekolah baru bagi anaknya. Pilihan sekolah dasar (SD) bagi anak yang baru menempuh pendidikan formal. Begitu pula pilihan sekolah setingkat SMP dan SMA, setelah menyelesaikan pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Bagi orang tua yang mempunyai visi masa depan anak, maka mereka akan menentukan sekolah berdasarkan kriteria yang diidamkan. Kriteria yang bersumber dari penilaian diri sendiri maupun saran orang lain.

Biasanya, popularitas sekolah dapat menjadi magnet bagi orang tua untuk merekomendasikannya sebagai tempat belajar buah hati. Dalam perkembangannya, mereka tertarik pada sekolah yang memiliki prestasi intrakurikuler dan ekstrakurikuler serta memiliki fasilitas lengkap yang membuat anak mereka nyaman selama menempuh pendidikan.

Namun, ada yang menarik untuk ditelusuri tentang kesiapan orang tua terhadap anak ketika menempuh pendidikan pada sekolah yang dipilih. Bukan hanya terkait uang, dan kendaraan yang tampak secara langsung. Akan tetapi, ada sisi lain yang terlupakan dan sering menjadi keluhan bagi guru yang mulai diabaikan para orang tua.

Peran orang tua memantau proses belajar anak yang tidak semuanya diletakan pada para guru di sekolah. Ada keseimbangan yang dibutuhkan sehingga perkembangan anak selalu dipantau. Situasi itu jarang terjadi lagi dan berdampak pada ketimpangan anak sebagai siswa yang dapat dijumpai pada proses belajar serta hasil belajarnya.

Fakta kekinian menunjukkan proses kesadaran yang cenderung menurun terhadap keterlibatan aktif peran orang tua dalam memantau proses belajar anak. Jika dicermati secara kuantitas, maka hanya sedikit orang tua menaruh perhatian pada perkembangan belajar anak di lingkungan sekolah.

Orang tua hanya berusaha memenuhi kebutuhan eksternal seorang anak di sekolah. Sikap demikian dapat merugikan anak itu sendiri dari upaya guru memberikan pembelajaran yang terbaik. Oleh karena motivasi yang diciptakan pada lingkungan sekolah dapat hilang ketika anak kembali di lingkungan keluarganya.

Keluhan tentang realitas tersebut perlu diatasi karena memiliki efek negatif. Terutama siswa sebagai pribadi yang dipersiapkan untuk menjalani kehidupan sehingga perlu diisi sikap positif. Sikap ini akan hadir dengan keterlibatan langsung orang tua yang mendukung peran guru di sekolah. Hubungan yang baik antara orang dan guru memberi peranan perkembangan belajar siswa.

Muller (2009) menyatakan bahwa hubungan antara keluarga dengan pendidik dan komunitas telah memberi definisi baru pada batasan dan fungsi pendidikan. Sudah banyak riset menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memantau proses belajar anak di sekolah, berdampak pada:

1) nilai yang lebih tinggi, 2) keberhasilan pendaftaran ke jenjang yang lebih maju dan lebih tinggi, dan 3) kesiapan menghadapi tantangan secara lebih baik. Kesadaran orang tua terhadap orientasi yang keliru menjadi penting. Bukan hanya masalah kesiapan dana, pakaian, dan transportasi untuk kebutuhan anak.

Ada hal yang lain yang dibutuhkan tentang keterlibatan langsung orang tua. Sisi yang membedakan adalah kemanusian yang memiliki jiwa, bukan diwakili oleh fasilitas dari benda mati tersebut. Pada lingkungan sekolah, ada guru yang memiliki jiwa sebagai pengajar dan pendidik. Sedangkan lingkungan keluarga, ada orang tua yang mempunyai jiwa mengayomi terhadap buah hati untuk menjadikan mereka sebagai orang yang berhasil. Jiwa-jiwa ini memberi peluang anak menjadi siswa yang sukses pada lingkungan pendidikan. Jika demikian, orang tua tidak hanya berorientasi pada kriteria sekolah.

Tidak pula pada fasilitas yang harus diberikan selama menempuh pendidikan. Hal paling urgen adalah keterlibatan secara langsung memantau perkembangan belajar anak. Motivasi yang diperoleh dari sekolah, tetap terjaga ketika berada di rumah. Stabilitas tersebut mampu mendorong anak menjadi siswa yang berprestasi.

Pribadi anak yang dapat terlibat aktif pada berbagai kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler di sekolah. Pihak sekolah merasa mendapatkan siswa yang tepat. Guru mempunyai siswa yang mapan secara afektif, kognitif, dan psikomotorik. Sedangkan orang tua merasakan kebahagian karena buah hati sesuai harapan. Dengan demikian, peran secara menyeluruh menjadi kewajiban orang tua dalam mendukung upaya guru dan pihak sekolah.

Oleh Kurniawan Guru Man 1 Sumbawa

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru