Filsafat Itu Mirip Mahluk Halus

"Bertebaran dengan Kepala Rasional, bersayap Analisis-Kritis dan berkaki Universal-Sistimatis Filsafat mengembara di dunia persilatan, hingga imbas dari hasil pengembaraan itu. Apakah melahirkan obat atau penyakit"

Mahluk halus adalah sosok yang tak nampak yang mencari tau takaran Iman seseorang, sedangkan Filsafat adalah pisau analisa yang mencari tau hakikat kebenaran. 

Abad pra Masehi merupakan Abad yang harus dicari kebenarannya, entah itu lewat buku atau mungkin coretan tangan para filsuf. 

Kehadiran Filsafat diperhalatan manusia di dunia ini telah meluruskan dan membolak balikkan pola pikir manusia itu sendiri, entah karena kepiwaiannya dalam menyelam bersama Filsafat atau mungkin karena kelalaiannya dalam menyambut doktrin filsafat. 

Mungkin begitulah Filsafat beraktifitas dalam alam pikiran dan Qalbu manusia, menerjemahkan jalan buram dalam menyikapi desas desus roh kehidupan manusia, yang terkadang roh kehebatan filsafat itu tak sampai pada maqam yang ditujuh, menyelam bersama kenikmatan yang sedang dirasakan hingga imbasnya bertumpu pada kesesatan, semuanya tidak terlepas dari hadirnya filsafat dalam perhelatan kehidupan manusia, dan itu dimulai saat masa peleburan bersama filsafat sampai dengan bercinta dengannya. 

Dengan membawa bungkusan yang berisi "Rakus" Rasional, analisis, kritis, universal dan Sistimatis, membuat Filsafat  itu sangat sulit untuk diterima dan  berat untuk ditolak. sama seperti mahluk halus "menyebar tak terlihat". 

Oleh karena itu, dengan beratnya kehadiran Filsafat untuk ditolak dan diterima, maka hal yang wajar dan wajib untuk kita menakar siapa dibalik kehadiran "Mahluk halus" itu.

Tepat pada tahun 470 SM sampai dengan 322 SM telah tampil para Filsul Filsuf dari Yunani, diantaranya Socrates, Plato, Zeno, Thales dan Aristoteles. Mereka membawa kado Istimewa yang bernama Filsafat. mereka adalah sosok yang mampu merubah paradigma peradaban zaman. Mulai dari ketajamannya dalam sebuah analisa sampai dengan berimbas terganggunya Alam pikiran(Gila)

Menurut Aristoteles Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang berisi ilmu metafisika, retorika, logika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan).  Rene Descartes ikut nimbrung dalam memberikan definisi, bahwa Filsafat menurutnya adalah ilmu (pengetahuan) tentang sifat bagaimana sifat sesungguhnya dari kebenaran. Tidak jauh beda dengan Descartes. Langeveld juga mendifinisikan filsafat. Bahwa Filsafat itu, berpikir tentang masalah final dan menentukan, yaitu masalah makna keadaan, Tuhan, kebebasan dan keabadian.

Besebrangan dengan para Filsuf di atas, Ustat Abu Minhal mendifinisikan dalam Coretannya yang berjudul "Filsafat Perusak Akidah Islam" mengatakan bahwa, Filsafat adalah filsafat bukan asli dari bahasa Arab. Apalagi dalam kamus syariat Islam. Ia berasal dari Yunani, negeri "para dewa" yang disembah oleh manusia.

Benturan Ummat manusia dan penyatuan ummat itu ditandai dari banyak kisah. Karl max(1818), Giordano Bruno dan Gali Leo Gali Lei (1640) yang dipasung mati oleh Grejani karena bertolak belakang dengan dogma dogma agama, dan semua itu atas tajamannya pengaruh Filsafat (analisis kritis) 

Tidak sampai disitu, kahadiran Filsafat justru menjadikan mereka sosok yang lucu, dicintai dan dirindukan, Salah satunya adalah Pribadi yang hidup pada masa Dinasti Abasyiah, tepat pada Khalifah Harun Al Rasyid(786-803), ia adalah Abu Nawas Al Ḥasan ibn Hani al-Ḥakami (Penyair Ulung Nan Jenaka). 

Dari berbagai Referensi dan coretan di atas, penulis ingin menyimpulkan bahwa betapa kehadiran Filsafat dalam kehidupan manusia tiada bedanya dengan "Mahluk Halus". Mengadu domba, merusak moral, menyatukan ummat, melahirkan senyum dan bahkan menggangu kejiwaan. 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru