Membangun Kabupaten Literasi Dalam Perspektif Seorang Literer

Nama Doktor Abdurahman Wahid atau biasa disapa Aba Du Wahid sudah malang melintang di dunia Literasi Indonesia hingga di negeri Kanguru. Dengan perlahan beliau membangun keadaban literasi melalui Uma Kalikuma di jalan Industri, Ampenan, Kota Mataram. Rumah yang sederhana disulapnya menjadi perpustakaan dan ruang diskusi untuk umum dan mahasiswa.

Dengan dicanangkannya Kabupaten Bima sebagai kabupaten literasi, beliau sangat berantusias dengan menuliskan sebuah gagasan genial di akun facebooknya mengenai bagaimana nantinya tahapan untuk mewujudkan Kabupaten literasi tersebut. Dalam pandangannya kabupaten Literasi harus dilalui tahapan sebagai berikut :

Jika di-list hajat hidup masyarakat se-Kabupaten Bima ada 100 item yang harus diurus oleh pemerintah, maka satu di antaranya adalah masalah pengetahuan/ilmu/akal sehat/isi kepala-hati, gampangngnya literasi. Dan itu SUDAH dicanangkan. Kalau sudah begitu - ibarat kata - ndak boleh mundur, harus tempur, ndak boleh eksperimen, harus sukses!

Langkah pertama dan monumentalnya: BANGUN PERPUSTAKAAN

Cukup 1 % dari APBD

Hitungan gampangnya kira-kira begini:

1.800.000.000.000 (1.8 T): APBD 2018
18.000.000.000 (18 M): 1% perpustakaan

Rinciannya:
1.800.000.000 (1.8 M): Buku + SDM
1.800.000.000 (1.8 M): Hardware + software
1.800.000.000 (1.8 M): Kampanye publik
12.600.000.000 (12.6): Gedung (persis anggaran Masjid Terapung Kota Bima).

Catatan:
Kampanye publik mencakup sayembara penulisan buku penulis lokal untuk content lokal. Gedung harus megah dan berwibawa, boleh kecil tapi tidak boleh ecek-ecek!

Tahun kedua: OVOL (ONE VILLAGE ONE LIBRARY) dari dana desa

Tahun ketiga: program/gerakan BOOKS IN HOME - setiap rumah ada perpustakaan

Dan juga menurut beliau setelah tahapan-tahapan diatas itu dibangun lalu ada tahapan selanjutnya yaitu :

Tahun pertama 1 M cukuplah untuk garuk buku-buku mulai dari Aceh sampe Papua.

Tahun kedua, garuk buku-buku dari malaysia, Singapura, Thailand, Philips, Australia.. Kirim pejabat bappeda, dinas perpustakaan, para pejabat progresif di bidang ini ke negara-negara itu sekalian studi banding + hadiah jalan-jalan atas kesuksesan awalnya.

Tahun ke tiga dan seterusnya: gantian penulis atau publik luar yg datang bawa karya dan buku-buku.

Tahun ke empat dan seterusnya: penulis Bima yg harus keliling dunia.

Tahun ke tujuh dan seterusnya: Kabupaten dan masyarakat Bima adalah warga dunia!

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru