Gempa Dan Spirit Bangkit

Di umur yang berpuluh-puluh tahun ini, saya baru menemukan gempa dengan kekuatan 7.0 SR (versi BMKG) mengguncang tanah Lombok. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 5 Agustus 2018, pukul 19.46 WITA dengan pusat gempa di Kabupaten Lombok Utara (KLU). 

Malam itu saya sedang ada kegiatan KKP (Kuliah Kerja Partisipatif) di Desa Lelong, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah.  Saya tinggal di Lombok bagian barat, tepatnya di Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari. Berada jauh dari keluarga membuat saya  dan rekan-rekan KKP lainnya panik di posko. Ada yang nangis-nangis, pingsan, kebingungan dan lain sebagainya. Saya hanya bisa terdiam sambil berdo’a dalam hati (saking shock-nya). Kaki dan tangan gemeteran. Jantung berdetak keras. Malam yang tidak bisa dilupakan hingga akhir haya

Beberapa menit setelah gempa terjadi, saya mencoba menghubungi ibu. Lima kali panggilan tidak terjawab karena sinyal tiba-tiba blank saat gempa terjadi. Panik, khawatir, bingung dan takut bercampur jadi satu. Saya hanya bisa melihat kegelepan (saat gempa, listrik langsung mati) dan mendengar isak tangis tiada henti. 30 menit kemu dian, saya bisa menghubungi ibu saya. Keadaan di desa Kekeri kisruh akibat info  gempa berpotensi tsunami dari BMKG yang kemudian info tersebut dicabut 15 menit pasca gempa.

Hari Pertama Pasca Gempa…

Saya izin dari posko untuk pulang mengunjungi keluarga. Di sepanjang jalan saya melihat genteng rumah berjatuhan, tembok rumah retak-retak bahkan ada yang miring, tenda-tenda biru beralaskan tikar serta wajah-wajah sedih dan ketakutan. Tapi tidak sedikit juga rumah yang masih berdiri kokoh tanpa penghuni.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiba di rumah Kekeri, saya menyaksikan keadaan tempat tinggal saya sama dengan apa yang saya saksikan di perjalanan tadi. Saya begitu sedih melihat raut wajah ibu saya yang pucat dan kelelahan karena tidak tidur semalaman. Ibu saya selalu kaget dan ingin keluar rumah setiap merasakan getaran kecil di bawah kakinya. Namun saya tetap berusaha menangkannya sebisa saya. Saya hanya berkata “Ma, itu cuma suara truk lewat depan rumah !”. Rumah ibu saya berada di pinggir jalan, jadi kami tidak bisa membedakan mana gempa kecil dan mana suara kendaraan. Baru kali ini merasakan trauma akut. 

Kota Duka… (7 Agustus 2018)

Tiga hari pasca gempa saya bersama teman-teman rumah pergi mengunjungi KLU (saya menyebutnya kota duka pada saat itu) untuk mengantar donasi menggunakan truk. Dari atas truk itulah saya melihat 90% rumah di tempat ini roboh. 10% rumah yang masih berdiri kokoh di tempat itu adalah rumah  bedek (rumah kayu/bambu). Ada juga beberapa rumah hanya atapnya saja di atas tanah. Di sepanjang jalan saya hanya bisa melongo karena orang-orang di kota ini sibuk kesana kemari sambil memasang wajah tanpa senyum.

 


Sirine ambulance melintas dari segala arah. Pemandangan ratusan tenda menemani setiap perjalanan menuju lokasi. Dari anak kecil hingga orang dewasa berdiri di pinggir jalan membawa kotak amal. Pemuda-pemuda di pinggir jalan tidak berhenti berteriak meminta air untuk kebutuhan pokok. Walau tidak diberi, tapi mereka masih bisa tersenyum. 

Dusun Luk Barat

Dusun Luk Barat adalah salah satu dusun dengan tingkat kehancuran yang tinggi. Lokasinya lumayan ke dalam melewati jalan-jalan kecil yang belum diaspal. Seluruh bangunan di dusun ini roboh. Tidak ada manusia lagi di tempat ini. Hanya ada suara hewan ternak yang tidak terurus karena pemiliknya pergi mengungsi ke dataran tinggi. Hewan-hewan ternak itu kelihatan sedih dan bingung. Saya tidak tau mereka sudah makan atau belum. Ingin memberi makanan tapi tidak ada makanan yang saya bawa dari rumah.

Kami memutuskan untuk mencari posko pengungsian warga Dusun Luk Barat dengan bertanya ke beberapa warga di sekitar jalan raya.Ternyata warga-warganya mengungsi ke dataran tinggi di sekitar Desa Santong. Kami langsung berangkat ke tempat tujuan.


 

Sampailah kami di posko pengungsian warga Dusun Luk Barat.Tenda besar beratapkan terpal biru membentang luas di dataran tinggi yang kering. Ribuan orang duduk di bawah atap biru. Suara tangis anak kecil mengiringi kedatangan kami. Para orang tua tampak sibuk mengiris-iris antap (kacang panjang). Anak laki-laki berumur 4 tahun kencing berdiri di tempat itu tanpa ada air untuk membasuh. Mata memerah menghiasi duka. Mereka menatap ke arah kami dengan penuh harapan. Donasi yang kami bawa ternyata sangat terbatas. Untuk menghindari cemburu sosial, kami memberikan donasi tersebut kepada koordinator posko. Saya berusaha menahan air mata. 

Kembali Ke Posko KKP… (8 Agustus 2018)

Pagi itu orang-orang di posko KKP sibuk membungkus nasi dan mengisi air dengan botol plastik besar. “Gimana keadaan keluarga dan rumah fadil ?” tanya Ibu Kades khawatir. “Alhamdulillah semuanya baik-baik aja ibu” jawabku senyum. “Syukur dah kalo begitu nak” tanggap ibu. Ternyata makanan dan minuman tadi akan dibawa ke Dusun Paoq Rempeq, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, KLU. Saya memasukkan ratusan bungkusan nasi itu ke dalam plastik merah, mengangkut donasi lainnya ke mobil. Pukul 8.40 WITA saya berangkat bersama Ibu kades dan rombongan remaja Lelong.

Setengah perjalanan sudah ditempuh, namun kami menemukan mobil-mobil yang berderet panjang ke arah utara. Laju kendaraan hanya 1 meter per 10 menit. Entah kami akan sampai jam berapa di tempat tujuan. Mau putar balik juga tidak bisa karena di jalur sebelah sudah full dengan roda dua. Menunggu adalah jalan satu-satunya untuk sampai ke lokasi.

Lokasinya cukup ekstrim untuk pengendara pemula. Jalan beraspal retak parah dengan pemandangan jurang menyeramkan. Untung para driver-nya hebat-hebat. Jalan setapak ke dusun tersebut juga belum diaspal dan sempit. Memang lebih mudah dan aman kalau menggunakan roda dua.

 


Kondisi Atap Masjid Paoq Rempeq Pasca Gempa

 

Kami tiba pada pukul 17.40 di Dusun Paoq Rempek. 95 persen bangunan di dusun ini tak layak huni. Semuanya pakai tenda. Ketika berkeliling melihat kondisi dusun ini, saya bertemu dengan seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi. Tampak bayi masih berumur baru dilahirkan. Setelah ngobrol sedikit dengan sang ibu, ternyata bayinya lahir tanggal 5 Agustus 2018. Sebuah angka yang tidak bisa dilupakan warga Lombok. Dengan rahmat Tuhan, Ibu dan anak itu selamat dari guncangan dahsyat tanpa luka sedikitpun. 

Seorang Ibu yang melahirkan saat gempa

(Sorry lupa nama ibu dan bayinya)

The Second 7, 0

Malam itu adalah malam terakhir saya bercanda ria bersama teman-teman KKP dan masyarakat Lelong. Acara dzikiran yang diiringi sambutan Ibu Kades dan salah satu teman KKP saya membuat suasana begitu haru. Bahagia pun tidak lupa hadir saat moment itu. Adik-adik di Desa Lelong memberi kami bingkisan lucu untuk dibawa pulang.Beberapa dari mereka juga banyak yang menulis surat kecil untuk kami. Tanpa sadar air mata kami tiba-tiba jatuh. Unforgettable moments! 

Usai merajut kenangan bersama msayarakat Lelong, saya dan teman-teman KKP lainnya membuat lingkaran kecil terakhir. Kami sudah membuat banyak konsep pada malam terakhir itu. Niatnya konsep-konsep itu mampu meninggalkan kesan dan pesan indah. Namun sebelum niat tersebut dilakukan, tiba-tiba tanah bergemuruh dengan cepat. Rasanya seperti diayunan. Listrik padam seketika. Kejadian ini persis seperti malam 5 Agustus. Pingsan dan tangisan kembali datang. Seperti biasa, BMKG selalu menginformasikan kekuatan gempa setelah gempa terjadi. Notification 7, 0 SK dengan status “Tidak Berpotensi Tsunami” muncul di layar utama smartphone saya. Suasana semakin histeris! Saya tetap berusaha menenangkan teman-teman. Layaknya Psikolog dadakan.

The Last Day In The Morning!

Fajar terbit di penghujung ke-20 Agustus. Ini menandakan kami tidak serumah lagi. Pagi terakhir itu kami sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang ke rumah. Mata anak-anak kecil dan warga sekitar posko memerah menyaksikan kami semua. Seperti tidak ikhlas melepaskan kepergian kami di kampong halaman mereka. Kami pun merasa sudah menjadi bagian dari mereka. Air mata tidak dapat terbendung lagi. Kami berpelukan satu sama lain sambil mengucapkan kata-kata kenangan. Pagi dan malam penuh air mata!

Kekeri terasa berbeda ketika pulang dalam keadaan bencana besar. Satu bulan lebih saya tidur di luar rumah. Itupun tanpa rasa tenang. Tidak seperti sebelum gempa menghantam Lombok. Segala aktivitas terganggu oleh sugesti negatif karena gempa datang setiap menit.

Biasanya menyambut weekend, saya tetap hunting photo bersama kakak sepupu saya. Bersendau  gurau dengan bisikan angin, menikmati hijaunya alam bersama kicauan burung-burung liar, menyentuhkan kulit dengan aliran air sungai dan menikmati pantulan sunset dari bilik pohon-pohon. Tapi setelah gempa datang ke Lombok, saya sama sekali tidak pernah melakukan semua itu lagi. Negative thinking selalu menghantui setiap perjalanan yang saya lalui. Bahkan ke pantai saja saya masih berpikir “jangan-jangan  gempa trus tsunami”.

Hunting foto di Persawahan Bukit Tinggi

 

Hunting foto di Desa Sade

 

Sebelumnya saya sering mengambil gambar pantai, air terjun, bukit, tebing dan tempat-tempat indah lainnya, tapi semenjak gempa Lombok, di gallery hp saya hanya tersimpan gambar reruntuhan rumah dan aktivitas warga Lombok saat gempa terjadi. Tangan dan mata saya tidak bersemangat seperti dulu ketika memotret sesuatu. Sejak saat itu, saya tidak pernah senyum ketika mendapatkan hasil foto yang saya inginkan. Malah meneteskan air mata. Saya tidak pernah menyangka tanah kelahiran saya akan menemukan kejadian seperti ini.

Semua pekerjaan warga Lombok terhambat bahkan hilang. Tidak terkecuali kakak sepupu saya. Sudah susah-susah dapat pekerjaan setahun lalu malah harus kehilangan pekerjaan karena gempa melanda. Agustus adalah bulan duka dan kesedihan bagi warga Lombok. Laksana raga tanpa ruhnya.

Saya terus berdo’a dan berharap Lombok bisa cepat pulih seperti dulu lagi. Infrastruktur daerah segera direkontsruksi, kepingan-kepingan rumah didirikan lagi sehingga membawa senyum dan kebahagiaan masyarakat Lombok seperti sediakala. Saya percaya Lombok pasti Bangkit! Amiin… []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru