Kemeriahan Bulan Agustus Diganti Dengan Pilu

KM. Masbagik. Kemeriahan di Bulan Agustus Diganti Dengan Pilu. Kalimat ini sangat cocok untuk menggambarkan suasana Pulau Lombok dan sekitarnya yang sedang dirundung pilu. Hampir memasuki empat minggu suasana kelabu masih menyelimuti Pulau tercinta. Berkali-kali Pulau Seribu Masjid ini digoncang dengan gempa tektonik dan gempa vulkanik yang banyak sekali menimbulkan korban jiwa.


Seperti diketahui, sejak tanggal 29 Juli 2018, terjadi beberapa gempa besar di wilayah NTB, khususnya di daerah Lombok. Tercatat ada empat gempa besar yang terjadi, yaitu pada tanggal 29 Juli dengan kekuatan 6,4 skala richter, tanggal 5 Agustus dengan kekutan 7 skala richter, dan tanggal 19 Agustus terjadi dua kali gempa berkekuatan 6,5 skala richter serta 6,9 skala richter. Sebanyak 515 orang menjadi korban tewas akibat gempa yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 29 Juli 2018 hingga saat ini. Korban jiwa paling banyak terjadi pada saat gempa berkekuatan 7 skala richter mengguncang NTB pada tanggal 5 Agustus 2018, yaitu sebanyak 479 korban jiwa. Sementara itu, pada peristiwa gempa terakhir yang terjadi pada Minggu (19/8/2018) malam, sebanyak 14 orang menjadi korban tewas, sedangkan 24 orang lainnya mengalami luka-luka. Dari 14 korban tewas tersebut, sebanyak enam orang meninggal dunia di wilayah Lombok Timur dan Sumbawa, sementara di Lombok Tengah serta Sumbawa Barat masing-masing satu korban tewas.

Hingga hari ini masih terjadi gempa susulan namun dengan kekuatan yang lebih rendah. Namun tetap saja para warga sekitar diminta untuk tetap mawas diri dan waspada karena yang namanya bencana tidak mengenal kapan, dimana dia akan datang. Tidak kenal dengan detik, menit, jam, hari, bulan hingga tahun ia bisa datang dan kembali kapan saja.

Terkait dengan judul artikel yang penulis buat, Bulan Agustus merupakan salah satu bulan yang  bersejarah bagi segenap warga Indonesia. Karena tepat pada tanggal 17 Agustus merupakan hari di proklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia setelah lama dibelenggu oleh para penjajah. Namun, kemeriahan yang seharusnya terjadi setiap tahun dapat kita lihat menurun khususnya yang berada di Pulau Lombok. Ini tidak mengherankan karena seperti yang diungkapkan sebelumnya musibah ini datang terus menderu warga Pulau Lombok.

Namun, penulis menyadari sangat besar pelajaran yang dapat kita ambil mulai dari bagaimana memperbaiki pribadi secara khusus maupun memperbaiki diri dengan alam. Karena seperti yang dituliskan dalam ayat suci Al-Qur’an “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubah nasibnya sendiri”. Kita harus yakini bersama bahwa ini sebagai teguran untuk kita semua agar bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Salam toes dari kampung. Mari meriri.

By_Andre D’Jails

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru