Ayah Sejuta Santri NTB Berpulang

Ketika kabar itu datang, para pedagang segera menutup lapaknya, para ibu rumah tangga segera meninggalkan pekerjaannya, para lelaki yang tengah bermain badminton langsung meninggalkan gedung bermain, seluruh aktifitas mendadak berhenti. Seketika Kota Santri Kediri langsung dirundung duka. 

Kabar menyebar dengan sangat cepat dari toa satu ke toa yang lain, dari mulut satu ke mulut yang lain, dari ponsel satu ke ponsel yang lain. Dalam sekejap lini masa sosial media dipenuhi kabar duka. Rupanya tidak hanya Kediri, duka telah menyebar ke seluruh NTB.

TGH Safwan Hakim, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hakim Kediri Lombok Barat, NTB semalam telah berpulang untuk selama-lamanya di Puskesmas Kediri. Sebagai salah satu santri beliau selama 3 tahun pada tahun 2006-2009, saya pribadi merasa sangat kehilangan. Rupanya tidak hanya para santrinya yang tersebar di seluruh NTB, Bali, NTT, hingga pulau-pulau seberang yang merasa kehilangan. Seluruh jamaahnya pun mengalami rasa kehilangan yang sama, bahkan ibu saya yang hanya mendengar ceramah-ceramah beliau dari pengeras suara masjid dari rumah pun tampak sedih mendengar kabar meninggalnya beliau.

Kami para santrinya memanggil beliau dengan sebutan "Abun Safwan". Abun sendiri dalam Bahasa Arab berarti Ayah. Selain karena beliau adalah Pimpinan Pondok, Abun Safwan adalah sosok yang pendidik dan ulama yang mengajar dan mendidik layaknya seorang Ayah yang penuh kasih sayang. Saya sendiri selama menjadi santrinya dulu, tidak pernah melihat beliau marah. Santri yang tertidur saat pengajian beliau akan diminta dibangunkan dengan lembut.

Tidak hanya berperangai lemah lembut layaknya seorang Ayah. Abun Safwan juga memiliki ilmu agama yang sangat luas dengan penyampaian yang tidak pernah membosankan tak heran sebagai Tuan Guru, pengajian beliau selalu dinanti-nanti bahkan di salah satu koran lokal yang menyediakan rubrik khusus untuk beliau. 

Untuk prestasi yang lain sendiri tak terhitung jumlahnya, bahkan beliau menerima penghargaan jasa lingkungan hidup. “KALPATARU”, diserahkan lansung oleh Presiden Republik Indonesia. Susilo Bambang Yudoyono pada 7 Juni 2011 yang lalu. Beliau selalu berkominten, Lebih baik merubuhkan bangunan kelas atau yang lainnya dari pada menebang pohon yang sudah tumbuh. 

Tepatnya pada 20 Juni 2018 malam, 6 Syawal 1439 H, TGH Safwan Hakim wafat. NTB kehilangan salah satu sosok Ulama yang sangat dicintai oleh berbagai kalangan. Selamat jalan Abuna.. 

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُونَ

*اَللّـــــــــــهُمَّ اغْفِرْلَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه وَأَكْرِمْ نُزُلَه وَوَسِّعْ مَدْخَلَه وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَايُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النّار*

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru