Testpack Dan Pilkada

Kalau ditanya apa yang paling membuatku ded-degan “testpack” lah jawabannya. Setiap kali, melihat, bertemu, dan bersentuhan dengan testpack hati mulai gundah gulana. Tentu ekspresi bertemu testpack ini beragam: ada harapan yang tersimpan bagi sebagian orang, ada kecemasan yang tersirat bagi sebagian orang pula.

Pun dengan Pilkada, kebahagiaan bagi yang pro, ancaman bagi yang kontra. Sekilas tak ada perbedaan sensasi yang dirasakan antara tespack dan pilkada. Sama-sama menimbulkan ekspresi deg-degan, gundah-gulana, penuh harap, dan harap-harap cemas.


Testpack dan Harapan

Ada sekian harapan yang tersimpan dalam do’a bagi yang telah lama menanti kehadiran sang bayi. Pada setiap kehadiran testpack, meskipun berkali-kali kecewa, tetap tak ada kata jera bersua dengan benda satu ini. Karna bagaimanapun juga dialah salah satu cara dan jalan mengetahui apakah ada kehidupan yang sedang bersemayam dalam rahim atau tidak.

Kehidupan yang akan mengubah banyak hal. Rumah, keluarga, hubungan dengan pasangan, hingga pola hidup. Apakah testpack ini sesakti itu? Maybe yes maybe no. Setidaknya dengan keberadaannya kita bisa melakukan deteksi dini tentang kehamilan. Sehingga siapa saja bisa membuat persiapan lahir maupun batin, yang lebih matang sebelum menghadapinya

Deteksi ini pun tak selalu berhasil. Banyak kegagalan dan kekeliruan dalam hasilnya. Beragam pula jenisnya. Setiap customer akan  memberikan testimony yang berbeda, tergantung bagaimana pengalaman setiap pribadi. Ada yang mengatakan yang itu lebih bagus, ini kurang bagus, atau yang anu paling bagus. Jangan yang itu yang ini saja. Hal-hal demikian akan selalu kita temukan dalam setiap interaksi.

Bagaimanapun juga testpack hanyalah alat. Bukan satu-satunya, tapi sebagai salah satu cara mengetahui dan mendeteksi akan kemungkinan hadirnya anggota baru dalam keluarga.


Testpack dan Pilkada

Tespack dan pilkada sama-sama sebagai alat pencarian, pendeteksi, dan penemuan. sama-sama dalam upaya mencari tahu. Testpack mencari tahu kehamilan, pilkada mencari tahu pimpinan.  Hasilnyapun sama-sama bikin deg-degan dan harap-harap cemas.

Dikarenakan, terdapat harapan yang ingin dititip dalam pundak para kandidat yang menang. Harapan untuk lebih baik tentunya. Yang memberikan warna baru dalam kehidupan warganya. Yang diharapkan mampu memberi cahaya dalam kegelapan, dan sunggingan senyum dalam kekalutan.

Banyak pilkada serentak yang akan dihelat tahun ini di seantero nusantara. Berdasarkan informasi dari KPU RI dalam detik news ada 171 daerah yang akan berpartisipasi pada ajang pilkada 2018. Dari 171 daerah tersebut, terdiri dari: 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah salah satu yang akan mengikuti perhelatan pilkada serentak.

Apakah perhelatan pilkada begitu penting? bagi sebagian orang bisa jadi ini tidak penting karena hawatir akan menimbulkan kegaduhan, konflik berkepanjangan, dan syarat dengan janji manis. Bagi negara demokrasi ini penting. Mutlak. Salah satu pilar dalam berdemokrasi selain partai politik adalah pemilu. Dalam menghasilkan pimpinan harus melalui demokrasi yang terbuka, jujur dan adil. Katanya sih begitu.

Tapi, bukankah pemilu ini adalah alat dan cara. Bettul. Tak berbeda dengan testpack yang terkadang hasilnya juga bisa salah dan mengecawakan. Hal yang terpenting kemudian memanfaatkan alat ini sebaiknya-baiknya untuk mencari yang terbaik bagi daerah tercinta masing-masing khususnya, dan Indonesia umumnya.

Kalau gagal, dan tidak sesuai harapan ya harus disikapi dengan dewasa dan bijak. Tidak kemudian menimbulkan rasa fanatik yang tinggi yang merusak silaturrahim, persaudaraan, dan keharmonisan. Sekali lagi saya tegaskan pilkada adalah alat jangan sampai kita diperalat.

Gunakan hak suara sebaik-baiknya, dengan cara yang baik, maka insyaallah kebaikan-kebaikan akan hadir tanpa akhir. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru