Pengangguran Bertambah, Tanggung Jawab Siapa?

Berbicara masalah pendidikan tentu sudah tidak asing lagi bagi kaum anak-anak, kaum remaja dan bahkan hingga tingakat dewasa, dari pelosok desa hingga kota dan dari berbagai macam negara-negara asing lainnya. Pendidikan yang kita tahu adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.

Musim pertengahan tahun 2016 lalu  atau lebih tepatnya pada tahun ajaran baru akan menjadi musim di mana calon-calon sarjana baru akan bersaing mencari lapangan pekerjaan yang pas, yakni dengan memfungsikan gelar sarjana jurusan masing masing. Berangkat dari pengertian sarjana secara rasional, yaitu gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S-1). Untuk mendapatkan gelar sarjana, secara normatif dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun, tapi ada juga yang menyelesaikannya dalam 3,5 (tiga setengah) tahun ataupun lebih dari 6 (enam) tahun. Hal tersebut tergantung dari kebijakan dari perguruan tinggi yang ditetapkan. Karya ilmiah yang diwajibkan dan merupakan persyaratan untuk memperolah gelar sarjana alias skripsi itu.
Dengan berharap banyak kepada pemerintah pusat maupun daerah sama saja kalau tidak memanfaatkan kretifitas jurusan masing masing yang diraih hingga menempuh gelar strata satu tersebut. Maka dari itu, banyak keluhan di kalangan sarjana yang meraih gelarnya di tahun tahun sebelumnya (sarjana lama).

Namun setelah itu, perasaan was-was akan timbul jika perayaan gelar sarjana yang besar usai. Rasa takut mulai mengelilingi diri seseorang yang telah menerima gelar strata satu tersebut di karenakan tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. .

Indonesia yang memiliki perguruan tinggi yang bermacam-macam dari negeri maupun swasta dan setiap tahunnya mengeluarkan ribuan bahkan jutaan serjana muda. Akan tetapi 10% yang memiliki tempat untuk bekerja dan 90% tidak tau apa yang akan dilakukan, ini menunjukkan bahwa setiap tahun Indonesia mengeluarkan Serjana Muda dan menambah deretan pengangguran. Dari sinilah banyak timbul pertanyaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa, tentang bertambahnya serjana muda dan bertamabahnya deretan pengangguran dan ini menjadi tanggung jawab siapa...??

Pada dasarnya pengangguran biasanya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebandng dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Pengangguran sering kali menjadi masalah dalam prekonomian, karena dengan adanya pengangguran, produktifitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang, sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Namun siapa yang kita salahkan, siapa yang bertanggung jawab pada saat ini, toh juga pemerintah tetap saja tidak akan melihat, apalagi ke pelosok-pelosok desa tentunya. Jangan heran jika buruh melakukan atau menggelar aksi tiap hari, karena mereka menginginkan haknya sebagai rakyat.

Seharusnya pemerintah berupaya untuk membuat lapangan kerja, guna untuk mengurangi penganguran dan untuk mengurangi kemiskinan pula. Beberapa faktor ini merupakan penyebab utama pengangguran, diantaranya adalah

  1. Pendidikan Keterampilan yang rendah
  2. Tekhnolgi yang semakin modern
  3. Pengusaha yang selalu mengejar keuntungan dengan cara melakukan penghematan-penghematan.
  4. Kurangnya lapangan kerja
  5. Angkatan kerja tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta dunia kerja.

Namun paling menonjol adalah kurangnya lapangan pekerjaann. Karena kita tahu setiap tahun indonesia mengeluarkan ratusan ribu serjana. Persaingan akan terjadi di setap tahunnya.

Ini tanggung jawab siapa..?? ketiaka seorang serjana muda yangmenjadi pengangguran. Dari berbagai macam laporan, tuntutan, dan lain-lain dari kalangan masyarakat termasuk seorang serjan muda yang mengnginkan tempat untuk singgah atau bekerja. Dari sinilah pemerintah harus bergegas dalam memperbaiki hal ini. Ini juga yang membuat Negara Indonesia kalah lebih maju dari Negara-negara lain apalagi Negara tetangga yang masih sedikit penghuninya.

Ciri lain dari kesempatan kerja indonesia adalah dominannya lulusan pendidikan SLTP ke bawah. Ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja yang tersedia adalah bagi golongan berpendidikan rendah. lalu buat apa kita akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi jika SLTP di proritaskan sebagai pekerja..!!

Seluruh gambaran di atas menunjukkan bahwa kesempatan kerja di indonesia mempunyai persyaratan kerja yang rendah dan memberikan imbalan yang kurang layak. Implikasinya adalah produktivitas tenaga kerja yang rendah.

Pengangguran tenaga kerja terdidik menjadi persoalan. Persoalan mendasar ketenagakerjaan di indonesia saat ini menyangkut tingakat penganggura. Ini disebabkan pertambahan angkatan kerja baru jauh lebih besar dibanding pertumbuhan lapangan kerja produktif yang dapat di ciptakan setiap tahun. Pasca krisis moneter, gap tersebut semakin membengkak tajam.

Seharusnya pemerintah menjadikan ini PR penting untuk menyediakan lapangan kerja bagi lulusan-lulusan sekolah maupun perguruan tinggi. Karena kenapa, ini menjadikan tinkat kemiskinan akan berkurang di Inndonesia ini. tentunya juga akan membuahkan hasil bagi RI untuk lebih baik, dan bisa jadi tidak akan kalah dari negara-negara  tetangga yang semakain tahun semakin maju.

Selain membuka lapangan kerja, solusi untuk mengatasi pengangguran adalah dengan enterpreneurshp atau membuka program kewirausahaan untuk masyarakat. Enterpreneurship juga di maksudkan untuk mendorong masyarakat berdaya asing dan memiliki kemandirian, terlebih dalam mengahadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Setelah menyediakan enterpreneurship di setiap skolah ataupun perguruan tinggi, ini akan mengatasi persoalan pengangguran. Di sekolah akan diberikan materi kewirausahaan, tapi sifatnya lebih kepada workshop, karena harus lebih aplikatif. Makaknya kembangkan kita kembangkan sekolah kejuruan dan Balai Latihan Kerja (BLK). Sehingga kalau tidak bisa kerja, bisa buka usaha sendiri.

Dengan menyediakan BLK untuk mereka yang ingin menekuni keterampilan tertentu, atau ingin menjadi wiraswasta. BLK ini tersedia di sejumlah skolah untuk meningkatkan kemampuan yang baik.

Untuk itu, mari kita sama-sama untuk meningkatkan peluang kerja termasuk juga pemerintah yang bersangkutan untuk lebih baik lagi dalam mengatur ketenaga kerjaan. Untuk mengurrnagi tingat kemiskinan juga di Indonesia. Masak kita kalah dengan negara-negara tetangga yang semakin maju. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru