Perempuan Gemuk or kurus, so what?

Sesungguhnya yang terpenting adalah bagaimana perempuan menerima dan mencintai tubuhnya. Tanpa takut dengan pendapat atau penilaian masyarakat. Serta bagaimana perempuan tumbuh dengan sehat dan menjadi diri sendiri. Saya sependapat dengan pernyatan salah satu kontributor di konde institute, Poedtji Tan.

Selama beberapa dekade masyarakat di sekitar kita baik wanita dan pria di kota hingga ke pelosok kampung, termasuk kampung suami di Sekotong Lombok Barat sudah dikonstruksi dengan apa itu cantik, dan bagaimana seharusnya menjadi cantik. Bahwa cantik itu langsing, putih, mulus, dan tinggi. Gemuk tentu tidak masuk dalam kategori. Pun yang kurus banget.

Ketika kuliah dulu saya iseng saja menanyakaan teman sekelas laki-laki saya yang terbilang paling pintar.

Saya : Seandainya kamu diminta memilih antara perempuan cantik tapi bodoh, atau perempuan jelek tapi pintar, kamu pilih yang mana?.

Teman : Saya pilih perempuan cantik walaupun bodoh”

Saya : Kenapa?” 

Teman : Karena kalau bodoh bisa diajarkan menjadi pintar, lah kalau jelek susah dibikin cantik (sembari ketawa)”.

Dari jawaban saya tersebut, tentu saya tidak bisa memprotes secara langsung (hanya menggugat dalam hati), karna setiap orang berhak berpendapat sekalipun betentangan dengan kita. Bahwa segala hal selesai dengan menjadi cantik (langsing, putih, mulus, dan tinggi), Tanpa perduli otaknya kosong atau terisi. Intinya cantik titik.

Feminitas dan seksualitas perempuan dalam iklan kecantikan

Aquarini dalam bukunya “kajian budaya feminis” mengatakan dalam konteks feminitas dan seksualitas perempuan dalam iklan, tubuh perempuan dikonstruksi untuk menyesuaikan dengan selera “pasar”, yang dalam hal ini pasar adalah kuasa yang menentukan kecantikan dan bentuk tubuh tertentu berterima atau tidak. Bentuk tubuh gemuk atau kurus ikut andil dalam pendefinisakan cantik ini.

Dulu ketika masih SD saya ingin sekali memiliki rambut hitam dan lebat seperti iklan “sunsilk” karna saya sering di-bully “bulu jagung” dikarenakan rambut saya pirang. Rambut pirang saya dikategorikan menjadi tidak diinginkan perspektif "tren pasar" dan mendoktrin masyarakat untuk membenarkan hal tersebut.

Ketika SMA, saya ingin memiliki kulit putih mulus karena kulit saya sawo matang, agar para laki-laki melirik saya seperti iklan “ponds white” di TV. yang sebelumnya tidak dilirik oleh laki-laki, kemudian setelah mengoleskan krim pemutih diwajahnya dan menjadi putih, membuat si laki-laki tersebut terpukau. Duh! Betapa naifnya aku.

Wacana kecantikan tidak dapat dilepaskan dari konstruksi budaya patriarki yang memberikan kuasa kepada laki-laki untuk memberikan pengakuan. Di sisi lain, perempuan selalu mencari pengakuan atas feminitasnya dari laki-laki.

Waktu tubuh saya menggemuk, sayapun mencoba melakukan segala macam cara agar menjadi kurus. Dari mengikuti resep teman hingga iklan. Sudah banyak uang yang saya gelontorkan demi menjadi kurus. Sempat kurus tapi ketika tidak lagi mengkonsumsi obat pelangsing, tubuhpun kembali menggemuk. Saya berhenti semena-mena terhadap tubuh saya, hal utama yang saya tanamkan dalam diri saya adalah yang penting sehat, tidak sakit.

Hingga saat ini pasar masih mendefinisikan cantik itu “langsing”. Bertubuh gemuk dan glambir-glambir seperti saya, menjadikan saya “tidak sempurna” versi feminitas pasar hari ini. Langsing direpresentasi sebagai yang disukai/diinginkan dan juga sebagai ideal.

Langsing ini sendiri tidak akan berhenti di sini, akan diikuti dengan tanda-tanda lainnya seperti; kulit harus putih, badan harus tinggi, gigi harus putih.

Feminitas menurut Aquarini akan tetap menjadi GAP dan diri yang diinginkan dan disukai tidak akan pernah tercapai karena apa yang diidealkan sesungguhnya kondisi yang tidak akan pernah terpenuhi.

Wahai para perempuan bertubuh gemuk ataupun kurus, berbahagialah menjadi dirimu apa adanya.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru