Masjid Pertama Kecamatan Suela


KM. Sukamulia – Sejarah penyebaran dan perkembangan agama Islam di Pulau Lombok meninggalkan bukti yang begitu banyak, tidak salah jika kemudia Pulau Lombok dijuluki Pulau Seribu Masjid sebab memang sejak awal perkembangan islam di Lombok banyak didirikan masjid-majid dengan konsep arsitektur tradisional. Salah satu peninggalan islam itu adalah Langgar Sapit yang disebut-sebut sebagai masjid pertama di wilayah Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur saat ini.

Langgar Sapit yang berada di Dusun Montong Kemong Desa Sapit Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur ini merupakan salah satu dari rentetan Masjid Kuno peninggalan Kedatuan Selam Bayan sebab pada masa lampau, Sapit merupakan bagian dari wilayah administratif Kedautan Selam Bayan (Kerajaan Islam Bayan). Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, Langgar Sapit didirikan pada sekitaran ahir abad ke-15 Masehi. Langgar ini merupakan masjid terahir yang didirikan di wilayah Kedatuan Selam Bayan sebab daerah ini dikatakan sebagai wilayah terahir penyebaran islam yang dilakukan oleh Gaus Abdurrazak (Datu Selam Bayan) semasa memegang kukuasaan sebagai raja.

Bentuk Arsitektur Langgar Sapit hampir sama dengan konstruksi masjid kuno lainnya yang ada di sekitaran wilayah Kedatuan Bayan pada masa lampau. Namun terdapat sedikit perbedaan dengan masjid-masjid lainnya, perbedaannya terletak pada bagian pondasi. Pondasi Langgar Sapit terbuat dari tanah liat yang berketinggian 90 cm dengan 5 buah anak tangga. Bentuk pondasinya serupa dengan pondasi Rumah Adat Sembalun yang menggunakan konstruksi arsitektur Bale Gunung Rata. Disebut dengan nama itu sebab pondasinya tinggi menyerupai gunung namun bagian atasnya rata.

Bangunannya inti berukuran 9 x 8 meter daitambah serambi depan berukuran 1 meter sehingga bangunan langgar ini berbentuk persegi dengan badan berketinggian 170 cm dan pada bagian atap yang agak menjulur sehingga menutupi setengah dari bagian badan masjid. Lantai langgar tebuat dari bahan tanah liat, bagian badan bangunan Langgar ini dipagari menggunakan anyaman bambu yang diiris kasar sedangkan bagian atapnya ditutupi dengan atap re (atap ilalang). Pada bagian dalam terdapat sebuat tiang soko guru yang menjadi tiang menyangga atap bangunan tersebut. Pada bagian depan, tepatnya di tengah-tengah bangunan dibuat mihrab dengan ketinggian sekitar 1,5 meter atau ketinggiannya sama dengan pintu depan Langgar.

Di dalam ruangan Langgar Sapit hanya terdapat peksi (mimbar tempat membaca khutbah), tempat menaruh kemenyan dan tombak. Di depan bangunan Langgar terdapat dua buah telaga yang cukup besar. Konon kedua telaga ini digunakan sebagai tempat berwudu. Perlu diketahui bahwa sejak dulu Langgar ini digunakan sebagai pusat pelaksanaan kegiatan islam, termasuk tempat melaksanakan shalat wajib secara berjamaah.

Menurut informasi yang kami terima dari Amaq Mustiasih (Penjaga Bale Langgar Sapit), Langgar Sapit mulai tidak digunakan sebagai tempat pelaksanaan shalat 5 waktu pada sekitaran 20 tahun lalu. Sejak Masjid Al-Mutaqin dibangun dan dapat digunakan maka pusat pelaksanaan peribadatan dipindahkan ke sana dan Langgar hanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan Gawe Gama saja, yakni Maulid Adat, Bubur Putiq, Bubur Abang dan Maleman.

Warga dan pencinta Kampung Media yang kami banggakan, kiranya hanya ini informasi singkat yang dapat kami sampaikan mengenai keberadaan Bale Langgar Sapit yang merupakan Masjid Pertama di wilayah Kecamatan Suela. Hingga saat ini, bangunan Langgar yang berada sekitar 1 km dari gerbang Taman Nasional Sapi ini masih utuh dan dijaga dengan baik sehingga saat ini Langgar Sapit dijadikan sebagai salah satu objek wisata religi di wilayah Kecamatan Suela dan Langgar ini tetap dikunjungi oleh wisatawan lokal dan manca negara.

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru