Teliti Informasi Dahulu, Sebelum Menyesal Kemudian

“Sebarkan berita kebohongan berkali-kali, maka orang akan mengangap itu adalah kebenaran”

(Adolf Hitler)

 

Indonesia di bangun dalam bingkai kebhinekaan. Para founding father kita mampu menyatukan warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke dalam beragam suku, pulau, dan bahkan Agama (kepercayaan). Dan mereka pun hidup berdampingan dalam satu perahu, yang namanya Indonesia. Tidak ada saling sikut, apalagi saling fitnah. Tidak ada saling bacok, apalagi saling bunuh. Mereka hidup damai dalam satu bingkai yang namannya kebhinekaan.

Memasuki era digitalisasi ini, nilai-nilai kebhinekaan mulai meredup. Nilai persahabatan mulai menghilang. Menyebar kebencian hingga hasutan semakin menjadi. Menabur fitnah, dan sejenisnya semakin merajalela. Perkelahian antar suku dan bahkan Agama pun semakin menghebat. Menyebar fitnah semakin tak terelakkan.


Di era keterbukaan informasi ini, penyebaran berita hoax tak bisa dibendung lagi. Penyebaran berita hoax yang disebarkan lewat media sosial akan menambah penajaman konflik. Penyebaran berita hoax dilakukan oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan, baik itu kepentingan politik, suku, dan bahkan kepentingan Agama. Kepentingan politik misalnya, seorang (publik figure) yang ingin menaikkan popularitasnya, dia rela menyebarkan berita hoax ke publik. Publik dipaksa untuk terpakau dengan kesuksesannya. Shafiq Pontoh, (Republika.co.id) mengatakan bahwa jenis berita hoax yang paling diterima adalah masalah sosial-politik serta masalah SARA.

Menurut Shafiq Pontoh, bahwa berita hoax di bidang sosial-politik sekitar 91,8 persen, sedangkan masalah SARA sekitar 88,6 persen dan lain-lainnya hanya sekitar dibawah 50 persen, (Republika.co.id). Dan parahnya lagi, konten beritanya berisi hal-hal negative, yang bersifat hasutan dan fitnah. Berita hoax yang memancing emosi masyarakat tersebut akan menimbulkan opini negative sehingga terjadi disintegratif bangsa.

Sebagai ilustrasi bahwa, pada tahun 1939, Adolf Hitler pernah menyebarkan berita hoax kepada parlemen Jerman tentang militer Polandia menembaki tentara Jerman. Atas berita hoax tersebut, “Perang Dunia II” dimulai. Berita hoax itu terbongkar setelah ketahuan tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan perbatasan Polandia.


Belum lagi blusukan-blusukan yang dilakukan oleh publik figure yang ingin terjun ke dunia politik. Hal ini, dimanfaatkan betul oleh media. Media memiliki peran strategis untuk mempromosikan kesuksesan seseorang tersebut. Kesuksesan yang diraih oleh seseorang (publik figure) tersebut seolah nyata, tetapi sejatinya syarat rekayasa. Lain halnya jika publik figure tidak disukainya (tidak di sukai oleh media masa), maka akan dijadikan objek penderitaan oleh media masa tersebut.

Meminjam istilahnya Jean Baudrillard, dunia semacam itu merupakan dunia “simulasi”. Dunia simulasi dalam pandangan Baudrillard bahwa realita yang ditampilkan di publik seolah nyata, tetapi sejatinya penuh rekayasa. Dalam pandangan Baudrillard, bahwa dunia “simulasi sengaja dimunculkan sebagai upaya (oleh media dan model)  untuk menciptakan kembali realita sesuai kode-kode yang dihasilkan model dan media itu sendiri.” Itu artinya bahwa realita yang muncul di hadapan publik seolah nyata, tetapi terkadang rekayasa.

Realitas tersebut merupakan reproduksi atau hasil rekayasa agen-agen yang memiliki kepentingan yang terkadang tanpa melihat realitas atau asal usulnya. Hal ini mungkin yang dimaksudkan oleh Baudrillard sebagai dunia hypereality. Ungkapan Baudrillard tersebut, terbukti di era digital sekarang ini. Kita melihat publik figure dengan gagah tampil dihadapan publik, menampilkan program pencerahan, kesejahteraan masyarakat, tetapi semuanya itu hanyalah khayalan semata.

Maka dari itu, penyebaran hoax tidak bisa dibiarkan menjalar begitu saja. Harus ada upaya serius dilakukan untuk memfilterisasi penyebaran hoax tersebut. Jika hal ini dibiarkan menyebar begitu saja, maka akan menimbulkan perpecahan yang sudah lama di jaga dan di bangun dalam bingkai kebhinekaan ini. Walaupun kita tidak bisa keluar dari lingkaran hoax tersebut, minimal ada upaya untuk meminimalisir penyebaran hoax tersebut. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalak check and recheck (tabbayun). Seseorang harus melakukan check and recheck terlebih dahulu terhadap informasi yang di dapatkannya.

Dalam Al_Qur’an surah Al-Hujuraat ayat 6 Allah berfirman yang artinya bahwa “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa jika kita mendapatkan informasi, maka seyogyanya kita memeriksanya dengan teliti terlebih dahulu.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru