Perempuan Sasak Dalam Peradaban Sasak

Perempuan sasak dalam peradaban masyarakat sasak memiliki tempat yang sangat istimewa secara hakiki. Hal tersebut disampaikan oleh Drs. H. Lalu Fathurrahman (mantan kepala taman budaya, mantan kepala museum negeri NTB, budayawan sasak, dan pengajar filologi dan bahasa kawi) pada kuliah umum yang diselenggarakan oleh Universitas Nahdlatul Wathan Mataram hari rabu tanggal 27 September 2017.

Kuliah umum tersebut bertemakan “transformasi budaya dan kedaulatan kultural untuk menegakkan martabat bangsa”. Dalam kesempatannya narasumber kuliah umum menyampaikan tentang siapa sasak, asal usul sasak, dan jati diri sasak. Namun kali ini saya tidak akan mengulas tentang hal tersebut , saya memiliki ketertarikan dengan hal lain yang kemudian saya tanyakan kepada penulis buku Kosmologi Sasak tersebut.

Bagaimana peran perempuan sasak dalam peradaban sasak menjadi hal yang menyedot perhatian saya, dan mengundang rasa keingintahuan yang sangat membuncah. Beliau kemudian menyampaikan bahwa perempuan sasak dalam suku sasak diberikan tempat yang sangat istimewa.Hal tersebut bisa dilihat dari penyebutan-penyebutan dalam masyarakat sasak  seperti Inen Paer untuk menyebut bumi, Epen Bale untuk menyebut istri, Inen Ime untuk menyebut ibu jari.

Pertama, Inen Paer (ibu bumi). Masyarakat sasak memiliki pandangan bahwa bumi ini sebagai nine (perempuan) yang memiliki kasih sayang, memberikan kenyaman, dan sebagai pusat kosmos. Hal tersebut yang membuat kita manusia secara sadar atau tidak sadar merasa nyaman berada di alam. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya, apabila kita merusak alam, mengeksploitasinya dengan membabi buta sama artinya dengan kita menyakiti Ibu kita sendiri.

Kedua, Epen Bale (pemilik rumah). Ketika masyarakat sasak di Lombok menyebut istrinya sebagai pemilik rumah, bisa diartikan bahwa istri memiliki pengetahuan lebih tentang rumah dan segala isinya. Selain itu juga menunjukkan bahwa andil istri sangat besar dalam menentukan harkat dan martabat keluarga.

Ketiga, Inen Ime (ibu jari). bahkan dalm jaripun pada masyarakat suku sasak menggunakan Inen (ibu) dalam penyebutannya. Jadi bisa dimaknai bahwa dalam banyak hal perempuan sasak juga menjadi the hidden leader (pemimpin yang tersembunyi) yang memiliki peran dan andil besar secara tidak terlihat dan tak terpublikasi secara visual dalam peradaban sasak, akan tetapi tertanam, tumbuh, dan mengakar dalam setiap pribadi masyarakat sasak. []

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru