Buntut Pahit Nikah Siri

Oleh: Lalu Pangkat Ali,S.IP

Masih jelas dalam ingatan kita, sebuah konten kontropersi yang lagi viral belakangan ini. Konten yang dibangun oleh Aris Wahyudi itu adalah nikahsiri.com. Dalam konten situs  ini, Aris Wahyudi menggelar lelang keperawanan dengan cara mudah dan murah. Hanya berdalih ingin membantu masyarakat miskin yang tidak memiliki biaya untuk pernikahan secara sah di mata agama. Akhirnya situs nikahsiri.com mampu menjaring ribuan orang dalam waktu singkat. Namun kemudian harus berurusan dengan pihak berwajib, karena melanggar sejumlah Undang-Undang.

Berkaca dari kasus tersebut, saya kemudian beropini sekaligus memberikan rambu-rambu terhadap nikah siri ini. Seperti judul di atas, kita segera mengambil kesimpulan, apa buntut dari nikah siri itu.

Peringatan bagi kaum hawa, hati-hati dengan ‘pernikahan siri’ atau nikah di bawah tangan. Kedua istilah ini, lazim digunakan untuk menyebut mereka yang menikah tanpa sepengetahuan Kantor Urusan Agama (KUA) – sekarang Kementerian Agama (Kemenag). Cukup dengan Pak Kiai atau orang kepercayaan lainnya.

Dari sisi syariat Islam, pernikahan model begini sah-sah saja, tapi dari segi administrasi negara jelas salah. Akibatnya, bisa berbuntut panjang di belakang hari, dan justru mengancam ketenteraman hidup rumah tangga yang sudah susah payah dibina.

Ihwal buntut nikah siri inilah yang kini disesali setengah mati oleh Imok (33 tahun). Ibu tiga anak ini tidak habis menyesal, mengapa dulu oke-oke saja ketika Dolah (sama seperti Imok, cuma nama samaran) menikahinya tanpa lewat Kemenag alias KUA. Cukup melalui Pak Kiai atau Penghulu di desanya dengan disaksikan sejumlah tetangga.

Awalnya memang tidak ada masalah. Meskipun di desanya mereka tidak terhitung kaya, toh kehidupan mereka cukup bahagia, aman, tenteram dan harmonis. Sampai anak ketiganya lahir, tidak sedikt pun terlintas di benak Imok, bahwa kehidupan keluarganya akan mengalami prahara yang serius.

Imok seperti disambar petir siang bolong, ketika tahu suaminya sudah menikah lagi dengan Leha (juga bukan nama sebenarnya), wanita kenalannya yang tinggal di desa sebelah. Lebih membuat schok lagi lantaran drama Dolah – Leha (27 tahun) ini sudah berlangsung sejak setahun yang lalu. Tepatnya beberapa bulan setelah Leha menyandang ‘gelar’ janda karena ditinggal mati suaminya. Tapi Imok tergolong wanita yang berkepala dingin. Meskipun tahu suaminya sudah ikut dimiliki orang lain, dia tidak langsung melabrak  pesaingnya itu. Dia memilih mempermasalahkan persoalan ini dalam dialog bilateral dengan Dolah. Nah, dalam kesempatan dialog bilateral itulah, di luar dugaan, Dolah blak-blakan mengakui hubungan gelapnya. Bahkan, lagi-lagi di luar dugaan Imok, Dolah justru menunjukkan buku nikahnya dengan Leha. Sah seratus persen dari KUA setempat.

Meskipun ibarat main bola, Imok sudah ketinggalan dua gol (gol pertama dia tidak tahu suaminya menikah, gol kedua suaminya bisa menunjukkan “buku nikah” dari KUA). Tapi dia tidak kehabisan akal. Pasti ada yang tidak beres di KUA,begitu pikirnya. Maka langkah terakhirnya untuk membalas ketinggalan gol itu adalah, melabrak KUA, yang dalam pandangannya telah lancang mengeluarkan surat nikah. Padahal pengantin prianya sudah menikah, beranak tiga lagi.

“Kenapa KUA bisa menikahkan suami saya tanpa sepengetahuan saya sebagai istrinya yang sah?” tanya Imok geram kepada Petugas KUA.

“Lho, Anda sendiri bagaimana, kok bisa kecolongan?” Petugas KUA malah balik bertanya.

Akhirnya setelah berpanjang-panjang kata, ketahuan bahwa, pangkal persoalan sebetulnya ada pada Imok sendiri. Yakni perkawinan dengan Dolah ada cacat hukumnya; tidak sepengetahuan KUA, sehingga tidak ada buku nikah yang bisa jadi bukti perkawinan mereka.

“Mana KUA tahu kalau Dolah sudah beranak tiga, wong dia mengaku jejaka dan di arsip KUA sendiri tidak tercatat dia pernah menikah,” kata Petugas KUA tadi. Inilah pasal yang membuat KUA meluluskan permintaan nikah Dolah, sehingga pernikahannya dengan Leha si janda kembang itu berjalan mulus tanpa hambatan,” lanjutnya.

Imok pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan hati berantakan, dia terpaksa menerima kenyataan adanhya the othe woman atau WIL (wanita idaman lain), yang sah dalam kehidupan suaminya. Lebih dari itu, dia juga tidak bisa mempermasalahkan lebih  jauh, saah-salah justru perkawinannya yang dipersoalkan. Sebab tidak ada buku nikah keluaran KUA yang dia kantongi.

Alhasil, ada hikmah berharga di balik tragedi Imok ini. Jangan berat mengayunkan langkah dan meluangkan waktu untuk mensahkan perkawinan di KUA. Menikah tanpa lewat KUA atau Kemenag, awalnya mungkin tidak ada masalah apa-apa. Namun dalamnya laut bisa diduga, hati orang siapa tahu. Nah kalau tipe “hati”nya adalah tipe hati Dolah ini, siapa yang bakal menyesal setengah mati di belakang hari?

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru