Perempuan dan Tubuhnya

” segala urusan gender perempuanlah yang paling ramai diributkan”

-Goldstein-

Saya akan memulai diskusi saya dengan pengakuan saya akan tubuh saya. saya selalu percaya bahwa tubuh adalah penting dalam konstitusi saya menjadi saya. Tetapi, tubuh saya juga tidak dapat mendefinisi saya secara memadai sebagai saya karena fakta biologis dan fakta kultural bukan saja tidak dapat di reduksi menjadi salah satu diantara keduanya, atau tidak dapat dipisahkan dari yang lain, melainkan juga karena makna tubuh saya harus melibatkan pertimbangan bagaimana saya memanfaatkan tubuh yang merupakan “takdir” saya dan bagaimana budaya dan masyarakat menginskripsi tubuh saya itu.

 

Aquarini memaparkan bahwa tubuh tidak dapat secara mutlak mendefinisi sesuatu ada; diri (being), tubuh hanyalah satu elemen untuk menjadi ada atau diri tertentu. Selanjutnya Merleau-ponty juga menunjukkan bahwa tubuh bukanlah fikiran, bukanlah substansi. Baginya, tubuh bukanlah lawan dari fikiran. Tubuh dan fikiran adalah elemen yang saling mengisi, yang saling berhubungan satu sama lain atau dengan semua elemen yang lain. Heidegger juga memaparkan bahwa tubuh bukanlah suatu benda, tubuh adalah suatu situasi; tubuh adalah cengkeraman kita terhadap dunia dan sketsa dari proyek-proyek kita.

 

Faktanya adalah, secara umum kebanyakan perempuan mempunyai otot yang lebih sedikit daripada laki-laki, mempunyai rahim dan payudara, tetapi fakta biologis itu telah diberikan makna tertentu dalam konteks sosial tertentu yang menyebabkan adanya pengalaman hidup yang berbeda di antara mereka yang bertubuh perempuan dan laki-laki. Pengalaman yang dihidupi (lived experience), misalnya dapat merupakan pengalaman dengan payudara (breasted experience), sebagaimana diargumentasi oleh Iris Marion Young bahwa payudara dan penis tidak dihargai setara.

 

menurut Iris Marion Young payudara adalah penanda bahwa seorang perempuan sebagai obyek dari pandangan laki-laki, sehingga akan terkesan amoral, tidak layak untuk dikonsumsi oleh khalayak ramai ketika melihat perempuan telanjang dada, meskipun itu fakta yang terjadi pada peradaban sebelumnya. Bahkan akan tetap dikatakan tidak layak meskipun hanya dalam bentuk foto atau sketsa, sementara penis merupakan penanda bahwa laki-laki lebih dekat dengan peradaban, yang memastikan subjektivitasnya.

 

Kesemua ini bukan merupakan “abstraksi valid”, tetapi hingga saat ini abstraksi inilah yang berlaku di dalam masyarakat kita. Bagaimanapun seorang perempuan adalah pertama-tama seorang manusia. Tubuhnya tidak seharusnya dipandang sebagai penjara dan keterbatasannya, melainkan suatu cengkeraman, suatu sentuhan, terhadap dunia. Dalam sentuhan, tidak ada subjek yang absolut ataupun objek yang absolut.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru