Jejak Masjid Kuno Tertua di Lombok Bagian Utara


KM. Sukamulia – Masjid Kuno Gunung Batua, demikianlah nama sebuah peninggalan sejarah Islam yang dianggap sebagai Masjid Kuno tertua di wilayah Pulau Lombok bagian Utara. Menurut informasi yang kami dapatkan dari beberapa orang narasumber yang ada di sekitaran Kecamatan Sembalun, Kecamatan Sambeli dan Kecamatan Bayan, Masjid Kuno Gunung Batua adalah induk dari masjid kuno yang tersebar di wilayah Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, Kecamatan Bayan dan Kayangan Kabupaten Lombok Utara. Sayangnya, saat ini Masjid Kuno Gunung Batu hanya tinggal pondasi dan beberapa makam tua yang ada di sekitarnya.

Pondasi Masjid Kuno Gunung Batua berada di Puncak Gunung Batua yang ada di wilayah administratif Desa Madayin Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timut Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari beberapa orang tokoh masyarakat Desa Madayin, Masjid Kuno Gunung Batua memiliki konstruksi yang sama dengan Masjid Kuno Bayan Beleq dan bangunan masjid tersebut runtuh total pada sekitaran tahun 1985. Masjid tersebut makan usia sebab tidak pernah direnovasi sehingga saat ini yang tersisa hanya pondasinya.

Warga dan pencinta Kampung Media yang kami banggakan, Masjid Kuno Gunung Batua dibangun oleh para penyebar islam yang berasal dari Sulawesi yang masuk melalui selat Sulawesi. Masjid ini diperkirakan dibangun pada sekitaran ahir abad ke-XIV Masehi. setelah misi penyebaran agama islam mereka lakukan di sana (wilayah Gunung Batua), para penyebar Islam melanjutkan misinya ke wilayah Sembalun dan Bayan dan mereka kemudian mewariskan masjid tersebut kepada Titi Supakel beserta warga yang tinggal di wilayah itu. Sepeninggal mereka, Titi Supakel-lah yang menjadi imam besar di Masjid Kuno tersebut hingga anaknya yang bernama Titi Mutering yang dikenal dengan gelar Gauz Abdur Razak pulang dari negeri Baghdat.

Konon, setelah Gaus Abdul Razak menyempurnakan pengetahuan islamnya dari Baghdat,  ia diutus untuk kembali ke Lombok oleh gurunya dengan mengemban tugas mendirikan kerajaan islam dan membesarkan pengaruh islam di Lombok. Sesampai di Lombok, Gauz Abdurrazak kembali ke tanah kelahirannya (Loloan-Bayan).

Sesampai di Loloan, Gauz Abdur Razak menemukan saudaranya yang bernama Titi Serempung yang saat itu telah menggantikan ayahandanya (Titi Supakel) memegang tangkup pemerintahan di Loloan. Kepada Titi Serempung, beliau menceritakan misinya untuk mendirikan kerajaan islam di bumi Lombok. Mendengar cerita saudaranya, Titi Serempung menganjurkan saudaranya untuk meminta izin kepada ayahandanya (Titi Supakel) yang saat itu tengah berhaluat diri di Gunung Batua (wilayah Desa Madayinl saat ini).

Gauz Abdur Razak yang bernama kecil Titi Munter ini melanjutkan perjalannya untuk menemui ayahandanya. Sesampai di Batua, beliau menemukan ayahandanya tengah berhaluat di dalam sebuah masjid kecil yang disebut dengan nama Masjid Gunung Batua (sekarang tinggal pondasinya saja). Di sana, Gauz menceritakan tugas yang diembannya dan sang ayah-pun merestuinya untuk mencirikan kerajaan islam dengan persyaratan, ia harus membawa tiang sokoguru Masjid Gunung Batu. Ia boleh mendirikan kerajaan di suatu tempat yang dimana tiang soko guru itu bisa berdiri dengan tegak. Beliau-pun setuju atas titah ayahanda-nya. Konon, tiang soko guru masjid tersebut (Masjid Gung Batua) terbuat dari Kayu Santaguri (Lenggasingan).

Singkat cerita, Gauz Abdur Razak melanjutkan misinya. Sebelum berangkat, Titi Mas Supakel meminta 43 orang pengikutnya untuk menemani Gauz Abdur Razak melakukan perjalanan guna mencari tempat yang tepat untuk mendirikan kerajaan islam dan mendirikan tiang soko guru masjid tersebut. Perjalanan-pun dimulai, Gauz Abdur Razak dan 43 orang pengikutnya turun dari Gunung Batua, mereka membawa tiang sokoguru itu ke arah barat daya. Sesampai di Bilok Buntu (sekarang disebut Bilok Petung), mereka mencoba mendirikan tiang tersebut. Al-hasil, tiang itu tidak bisa berdiri dengan tegak, konon tiang itu berdiri miring ke arah utara.


Untuk mengabadikan bahwa di tempat itu mereka pernah mencoba mendirikan tiang tersebut maka Gauz dan para pengikutnya membuat sebuah masjid kecil yang sekarang disebut dengan nama Langgar atau Masjid Lokak Bilok. Di masjid itu Gauz meninggalkan seorang pengikutnya untuk mengurus masjid tersebut sekaligus ditugaskan untuk mengajarakan konsep islam sejati kepada orang-orang yang ada di tempat itu. Pengikutnya itu bernama Titi Langgara yang disebut juga dengan nama Lokaq Bilok, beliaulah yang menjaga masjid itu dan menyempurnakan pemahaman islam orang-orang yang ada di sekitaran wilayah itu. Sementara itu, Gauz Abdur Razak dan 42 orang pengikitnya melanjutkan perjalanan hingga tiang itu berdiri tegak di Memontong (tempat berdirinya Masjid Kuno Bayan saat ini).

Selama melakukan misinya, Gauz Abdur Razak dan jamaahnya pernah mendirikan tiang sokoguru masjid itu dibeberapa tempat dan setiap tempat mendirikannya diberikan pertanda dengan membangun sebuah masjid yang bentuknya sama dengan Masjid Kuno Gunung Batua. Hal itu dilakukan untuk mengingat bahwa di tempat itu mereka pernah mendirikan tiang sokoguru yang nantinya akan menjadi tiang sokoguru Masjid Agung di pusat kerajaan Islam Lombok.

Tempat-tempat mendirikan tiang sokoguru itulah yang saat ini menjadi Masjid Kuno yang dapat kita temukan di sekitaran wilayah Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur serta Kecamatan Bayan dan Kayangan Kabupaten Lombok Utara, dinataranya adalah: 1) Langgar Bilok Petung Desa Dasan Bilok Kecamatan Sembalun, 2) Masjid Kuno Batu Santek Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan, 3) Masjid Kuno Barung Birak Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan, 4) Masjid Kuno Salut Desa Salut Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara, 5) Masjid Kuno Semokan Desa Sukadana Kecamatan Bayan, 6) Masjid Kuno Sukadana Desa Sukadana Kecamatan Bayan, 7) Masjid Kuno Labuhan Carik Desa Anyar Kecamatan Bayan dan 8) Masjid Kuno Bayan Beleq Desa Bayan yang merupakan masjid agung (masjid yang didirikan di tengah-tengah pusat Kedatuan Islam Bayan) sebab disanalah tiang sokoguru Masjid Gunung Batua itu bisa berdiri dengan tegak.

Mengacu dari informasi tersebut maka jelaslah bahwa Masjid Kuno Gunung Batua adalah induk atau cikal bakal dari keberadaan 8 masjid kuno lainya. Hingga saat ini, ada 6 Masjid Kuno yang masih aktif dan sisanya tinggal pondasi (Masjid Kuno Gunung Batua, Masjid Kuno Batu Santek dan Masjid Kuno Labuhan Carik yang saat ini pondasinya sudah dibangun menjadi masjid pelabuhan. Keberadaan Sembilan masjid kumo tersebut juga bisa dijadikan sebagai petunjuk akan sejarah persebaran islam di wilayah Lombok bagian utara.

Warga dan pencinta Kampung Media yang kami banggakan, jejak peninggalan islam yang berupa Pondasi Masjid Kuno di Gunung Batua ini masih sering dikunjungi oleh para pengkaji tarekat dan para petapa dari berbagai daerah dan itulah menyebabkan kami tertarik untuk mengunjungi dan mempublikasikan keberadaan jejak masa lalu (peninggalan islam) yang satu ini.

Pada wala bulan September 2017, kami mencoba menelusuri situs tersebut dan alhamdulillah kami bisa sampai dan menemukannya. Pondasi Masjid Kuno Gunung Batua ini berukuran panjang 9 meter dengan lebar 9 meter. Pada bagian kiblat terdapat mihrab dengan ukuran panjang 1,5 meter dan lebar 90 cm. Pada bagian dalam pondasi masjid terdapat empat buah batu yang dulunya merupakan tempat didirikannya tiang sokoguru masjid tersebut. Masing-masing batu berjarak 3 meter sehingga kalau ditarik garis luru maka keempat tempat berdirinya tiang sokoguru itu membentuk bidang persegi dengan ukuran 3 x 3 meter.