RIMPU MBOJO (Dalam Upaya Menerjemahkan Nilai-Nilai Agama dalam Budaya Lokal)

Rimpu merupakan salah satu pakian adat masyarakat yang ada di wilayah Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu (yang awalnya ketiga daerah tersebut merupakan serumpun). Kehadiran rimpu di daerah tersebut tidak bisa dipisahkan dari masuknya Islam. Islam dan rimpu merupan satu kesatuan yang memiliki sejarah panjang. Di sini muncul pertanyaan kita semua, kenapa mesti kita berrimpu?. Pertanyaan yang menarik untuk direnungkan oleh masyarakat “mbojo” di era digitalisasi ini. Rimpu merupakan bentuk ketaatan “dou mbojo” dalam menjalankan nilai-nilai agamanya. Konon katanya, rimpu merupakan pakian yang paling sopan dalam pemahaman “dou mbojo”. Kenapa dikatakan sopan, karena dalam rimpu terdapat nilai-nilai, baik itu nilai keindahan, nilai kesopanan, hingga nilai agama, tentunya agama Islam.

Rimpu merupakan salah satu upaya dalam menjaga nilai-nilai (kesopanan, budaya, Islam) dari pengikisan budaya yang tergerus oleh modernisasi, globalisasi serta sekularisme, Diha (2017). Secara rinci Attun menjelaskan bahwa ada tiga kenapa “dou mbojo” harus berrimpu. Secara teologis, bahwa dalam kitap suci ummat Islam (Al-Qur’an) terdapat tiga ayat yang menjelaskan tentang wacana pembatasan diri dan tata cara berpakian kaum perempuan, yakni Al-Ahzab (33;53 dan 59) dan an-Nur (24;31). Al-Ahzab ayat 53 membahas wacana tentang hijab (tabir). Secara sosiologis, bahwa rimpu merupakan sebuah identitas ke-lokal-an yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk membatasi diri perempuan dari pandangan-pandangan yang menjadikan mereka (perempuan) sebagai objek, selain itu juga praktik budaya rimpu juga memiliki dampak secara ekonomis. Sedangkan secara teoritis bahwa walaupun banyak pihak yang memperjuangkan feminisme dan berkilah bahwa jilbah/hijab merupakan usaha untuk meng-Arabisme-kan dunia. Dalam pemahaman feminisme Barat (sekuler), bahwa jilbab di dunia Islam khususnya Arab merupakan sebuah penindasan perempuan, karena di sana dipaksakan untuk memakai jilbab sehingga perempuan tidak memiliki power untuk menolak menggunakan jilbab. Dalam konteks masyarakat suku Mbojo, memakai rimpu merupakan kesadaran yang tumbuh pada diri mereka sendiri dan juga tidak ada paksaan secara kelembagaan untuk mengharuskan memakai rimpu, (Attun dalam Diha, 2017).

Merujuk dari pendapat di atas, bahwa rimpu merupakan upaya “dou mbojo” dalam menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam bentuk kedaerahannya. Rimpu merupakan busana adat harian “dou mbojo” yang berkembang sejak masa kesultanan dengan tujuan untuk menutup aurat kaum perempuam “dou mbojo”. Untuk itu, Rimpu dan Islam tidak bisa dipisahkan dari “dou mbojo”. “Dou Mbojo” memeluk Islam terinspirasi dari pedagan yang berkunjung ke daerah “Mbojo”. Di sinilah rimpu mulai digunakan dalam keseharian “dou mbojo”. Hal itu senada dengan Hilir Ismail, yang mengatakan bahwa keberadaa rimpu tidak lepas dari upaya pemerintah (masa Sultan Nurudin) untuk memanfaatkan kain sarung atau kain tenun dou Mbojo yang sudah lama dikenal dan bahkan menjadi komoditi perdangangan dunia yang sangat laris sekitar abad 13 lampau, (Lamusia : 2013).

Selain memperkenalkan hasil kreasi “dou Mbojo” ke publik, Sultan Bima (Sultan Nuruddin) juga menyisipkan nilai–nilai agama karena pada masa perempuan “dou Mbojo” yang sudah akil balik wajib menggunakan rimpu jika hendak keluar rumah, jika tidak, maka itu sudah melanggar hukum agama dan hukum adat. “Hukumannya lebih kepada hukuman moral. Orang yang melanggar dengan sendirinya akan merasa malu,” (Hilir Ismail dalam Lamusiah). 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru