Perempuan Dalam Pandangan Imagologi - Sebuah Kritik Atas Modernisme

Oleh: Darsono Yusin Sali* (Direktur Samalas Institute)

Keberadaan teknologi dengan segala perangkatnya terbukti berhasil mengubah wajah dunia dari bentuknya yang tradisional ke wajahnya yang kini serba modern. Era kemodernan telah dimulai semenjak ideologi kristiani konservatif tak mampu mengalahkan ledakan survival pemikiran progresif para saintis semisal Galileo.

Kini dunia tehnologi telah menghiasi setiap detik kehidupan umat manusia. Sejak bangun hingga tidur lagi, manusia seolah-olah tak mampu keluar dari kekangan teknologi yang mahadahsyat.

Produk teknologi pun sudah menghasilkan beragam produk siap konsumsi oleh umat manusia hanya dengan fasilitas layanan serba murah. Hal tersebut berimplikasi pada terjebaknya umat manusia untuk ‘seolah-olah’ berkeinginan memenuhi kebutuhan akan kehadiran teknologi dalam setiap laku kehidupan mereka.

Keberhasilan teknologi yang telah menteknologikan manusia menjadi prestasi paling gemilang atas keberadaan teknologi itu sendiri. Imbasnya, umat manusia telah kehilangan jati dirinya menjadi seorang manusia. Kebutuhan ‘seolah-olah’ akan teknologi telah memenuhi otak manusia sehingga sadar tak sadar telah menjadi barang primer yang mau tidak mau harus dipenuhi.

Lihat saja dengan cerdiknya saat penguasa teknologi meluncurkan produk teknologinya, konsumen dengan seketika meminati dan memborongnya. Keinginan untuk memiliki produk-produk teknologi yang setiap saat ada dalam pikiran dan kesadaran manusia adalah candu berbahaya hasil rekayasa teknologi yang tak kita sadari selama ini.

Sementara di satu sisi, ciri teknologi dari kepentingan bisnisnya selalu saja menampilkan kebaruan yang setiap saat selalu berganti wajah. Anehnya di setiap pergantian kebaruan bentuk teknologi tersebut, selalu saja kita sebagai manusia ingin memilikinya sebagai barang kebutuhan yang wajib ada di dalam kehidupan kita.

Kekuatan pengaruh teknologi tersebut kini tidak hanya mengubah perilaku manusia dari sekedar menjadikannya sebagai ‘seolah-olah’ kebutuhan hidup semata, akan tetapi juga telah menjadikannya sebagai tujuan hidup. Tujuan berarti akhir dari segala bentuk pencarian setiap orang. Dengan begitu, keberadaan teknologi pada bagian sisinya telah mampu mengubah tujuan mulia manusia sebagaimana yang diutarakan Marshal McLuhan salah seorang pemikir media.

Kondisi itu kini diperparah dengan adanya kenyataan bahwa setiap orang menghendaki diri mereka untuk menjadi teknolog. Tentu segala syarat-syarat untuk mendatangkan sebutan itu dengan cara apapun mereka berusaha memenuhinya sadar atau tidak sadar karena konsepsi yang kini terbangun telah menjadi _common sense_ setiap orang. 

Realitas yang _common sense_ tersebut dapat berarti bahwa kenyataan yang dipahami bersama oleh semua orang sebagai kelumrahan (lazim) yang umum. Akibat tumbuhnya kesadaran kelaziman itu, atas nama tehnologi modern, setiap orang berusaha terus menerus berinteraksi dengan teknologi dari bentuknya yang paling sederhana hingga yang sangat kompleks. Seperti pamflet, bulletin, spanduk, surat kabar, bilboard, handphone, komputer, internet.

*Imagologi Perempuan*

Menurut Mark Slouka, imagologi merupakan sistem produksi halusinasi yang dipercaya sebagai sistem pengetahuan publik yang berderajat pengetahuan _common sense_. Secara mekanis, imagologi dibangun lewat aksi-pasi dan relasi setiap rajutan simbol ditambah pemanfaatan daya imajinasi. Secara sederhana imagologi diartikan sebagai paduan ‘kata’ dan ‘gambar’, yang keduanya berjalin sedemikian rupa membentuk narasi medium (teks).

Proses pemediuman berbagai realitas pun terjadi akibat dari kebutuhan masyarakat terhadap medium (media masa, elektronik dan layar) yang tinggi, tak terkecuali fenomena keperempuanan yang telah banyak mengalami pe-medium-an dengan segala bentuknya yang menyebabkan makna dan identitas perempuan tercerabut dari akarnya.

Akibat dari itu, fenomena keperempuanan yang telah dimediumkan mendatangkan kematian bagi identitas perempuan dengan sendirinya. Selain itu juga telah menyebabkan realitas faktual keperempuanan mengalami konstruksi wujud utuh menjadi tampilan-tampilan layar keperempuanan semata.

Keberadaan perempuan selanjutnya dinilai dari yang tampak luar, yang dalam proses imagologi dibuat dalam bentuk teks-teks sehingga perilaku keperempuanan selalu diukur pada simbol yang mewakili realitas yang ditampakkan dari perempuan itu sendiri.

Untuk membentuk  _common pepole_ melalui media, ada dua proses yaitu generalisasi terhadap isu-isu tertentu dan pengidentikan massal melalui medium dilakukan melalui cara-cara produksi pemikiran dan narasi yang direproduksi secara khusus, dan konsisten sambil memberikan gambaran mengenai definisi sesuai pemahaman mereka.

Cara ini akan membentuk pengetahuan masyarakat sbagaimana digambarkan dalam medium tersebut, sehingga muncullah suatu kesepakatan tak tertulis yang dipahami bersama masyarakat. Sebagai contoh, isu ‘emansipasi’ saat sekarang ini telah menjadi wacana yang lazim di tengah-tengah perempuan.

Padahal, kita tidak pernah tahu siapakah yang memulai isu tersebut? Alhasil, ibu rumah tangga yang keberadaannya selama ini mendampingi suami dan mendidik anak harus berhadapan dengan definisi  _common sense_  tentang ‘emansipasi’.

Isu poligami sejumlah tokoh dan ulama juga pernah menghentak jagat media. Kasus poligami Da’I kondang Aa Gym yang di _blow up_ media secara besar-besaran seolah menggiring pembaca bahwa Islam itu adalah poligami. Reduksi makna kegamaan menjadi hanya poligami tentu salah karena disitu realitas Islam telah mengalami penyempitan makna akibat reduksi atas realitas Islam yang sesungguhnya. 

Tidak hanya itu, produk-produk kecantikan yang ditampilkan dalam layar media juga memiliki pengaruh luar biasa terhadap perubahan definisi tentang ‘cantik’. Pe-medium-an alat-alat kecantikan telah merubah makna lengkap kecantikan. ‘Cantik’ tidak lagi dipahami secara utuh, tapi dipahami berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan oleh produk-produk kecantikan yang tampil di layar medium seperti harus putih, mempunyai wajah mulus, tidak berjerawat, modis, kece dan berbagai identifikasi kecantikan berdasarkan kategori yang menghiasi layar media.

Kesadaran tentang ‘cantik’ berdasarkan kategori di atas kini telah menjadi _common sense_ yang mendistorsi keberedaan perempuan. Apakah ini berbahaya bagi perempuan? Tentu sangat berbahaya mengingat media saat ini telah menjadi tujuan setiap orang, bukan hanya sekedar alat semata. Belum lagi efek pembesaran media atau eskalasi terhadap suatu objek yang mendorong terjadinya pemahaman umum secara berlebihan atau menyangatkan.

Misalnya fenomena hijab modern yang digunakan oleh perempuan dan senantiasa menghiasi layar media saat ini. Terlebih perempuan-perempuan yang ditampilkan di layar media sebagian besarnya ialah idola-idola dari layar sinetron dan film yang kebanyakan diantaranya digemari masyarakat. Celakanya, kesan muslimah yang diciptakan tanpa diikuti oleh perubahan perilaku keagamaan pelakunya.

Melalui mereka, prototype perempuan yang benar-benar muslimah dicitrakan sedemikian rupa sehingga para pembaca, penonton dan masyarakat pada umumnya terdorong untuk memiliki hijab dengan prototype semirip mungkin dengan artis idola mereka. Alhasil,  _common sense_ yang terbangun di tengah-tengah perempuan adalah muslimah itu harus menggunakan hijab berdasarkan kategori tampilan layar media di atas. 

Ikonitas yang ditampilkan oleh artis-artis itu pun kini ramai digunakan oleh perempuan masa kini guna mengidentikkan diri mereka sebagai perempuan ‘muslimah’. Pada kondisi ini, realitas utuh seorang muslimah telah mengalami proses reduksi.

*Kritis Terhadap Teks*

Untuk memperbaiki citra diri perempuan,  setiap perempuan harus kritis membaca setiap pesan yang ditampilkan melalui layar media. Pesan yang disampaikan melalui simbol dan banyak narasi teks harus dipahami dengan benar dan tidak setengah. Karena pesan apapun yang disampaikan melalui media, tidak akan mampu menggambarkan keseluruhan dari realitas.

Teks tidak dapat dilepaskan dari gerak pembentukan realitas di masyarakat. Setiap kenyataan yang ada di masyarakat baik berupa gejala sosial, gejala keagamaan, gejala keperempuanan, disusun melalui teks-teks. Teks yang tersusun memberikan informasi bagi orang lain sekaligus menjadi semacam alat rekam dari kegiatan tersebut.

Setiap pemahaman yang lahir dari teks-teks tersebut akan melahirkan sikap-sikap baru dan respon-respon baru di masyarakat, itulah yang dinamakan teks membentuk realitas/kenyataan baru di masyarakat.

Sebaliknya, teks itu pun terbentuk akibat dari adanya realitas/kenyataan yang ada di sekeliling manusia yang dipahami manusia dan dikonstruksi menjadi teks. Proses konstruksi menyebabkan adanya reduksi karena tidak semua realitas/kenyataan itu dapat diwakili oleh kata-kata teks, gambar, simbol dan suara. *_Wallahu a'lam bisshawab_* []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru