TGB Pemimpin yang di Tunggu Umat

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang bagaimana peluang Dr. M. Zainul Majdi, MA atau yang sering kita panggil dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) menjadi calon RI satu (1) dan calon RI (2). Didalam media sosial (medsos) kemudian banyak komentar-komentar yang positif dan juga sangat banyak komentar negatif. Komentar negatif yang banyak muncul sering di kaitkan dengan kuantitas semmata, di katakan bahwa pemilih di provinsi NUsa Tenggara Barat hanya sekitar 4 juta sekian pemilih sedangkan jumlah pemilih di Indonesia sudah mencapai 200 juta. berarti NTB hanya sekitar 2% dari jumlah pemilih di Indonesia. Lalu apakah itu menjadi ukuran? lalu seberapa besar peluang TGB maju menjadi calon RI 1 atau RI 2?

Dalam menjawab pertanyaan demi pertanyaan ini tentu kita harus melihat dari semua sisi paradigmmatik, baik itu secara teoritik maupun secara faktualnya. Sehingga menyimpulkan dan menjawab setiap pertanyaan dapat di lakukan. Pertama yang ingin saya sampaikan sebagai pijakan bersama adalah kuantitas tidak menjadi ukuran dan keberhasilan menjadi orang nomor satu di Indonesia. Kenapa demikian?

Mari bersama kita melihat data yang ada. Presiden Joko Widodo merupakan seorang rakyat biasa yang muncul menjadi idola bagi rakyat Indonesia karena kesederhanaan dan ke dekatannya dengan rakyatnya. Sikap dan karakter dalam memimpin tentu dimiliki oleh setiap pemimpin yang itu sifatnya berbeda-beda. Presiden Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus dur) misalnya memimpin dengan gaya guyonannya. Kemudian Soekarno dengan ketegasan orasinya, Soeharto dengan ke Otoriterannya, B.j. Habibi dengan Teorinya, Megawati dengan Perintahnya dan SBY tentu dengan ketegasan dan formalnya, semua pemimpin dengan gaaya dan karakternya masing-masing.

Rakyat Indonesia pada saat SBY memimpin terjadi degradasi kepercayaan kepada pemerintah, karena begitu baanyak kasus-kasus besar yang menjerat para elit politik dan cs nya. Kepercayaan rakyat dengan pemerintah waktu itu kemudian terobati dengan munculnya pak Joko Widodo yang berawal dari memimpin kota kecil dengan jumlah penduduk kurang lebih 399.915 jiwa  (data pemilih 2015) yakni kota Solo.

Keberhasilan beliau memimpin kota Solo waktu itu, terdengar sampai ke telinga elit parpol di Ibukota Jakarta sehingga dirinya di calonkan menjadi calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki Djahya Purnaama atau yang sering kita dengar dengan nama Ahok. Pada pilkada DKI Jakarta inilah nama Jokowi mulai terdengar se antera plosok Negeri. Sampai kepada beliau memenangkan pilkada pada saat itu. Dan perlu di ketahui bersama bahwa jumlah pemilih di tahun 2017 ini di provinsi DKI Jakarta adalah sekitar 7,2 juta jiwa.

Terpilihnya beliau menjadi gubernur semakin membuat rakyat Indonesia jatuh hati kepadanya,  kerja serius dalam menata ibukota negara yang memiliki segudaang permasalahan mulai diselesaikan dengan kerja keras. Melihat kinerja dan kesederhanaan beliau dan sangat dekat dengan rakyat membuat dirinya terpilih mengemban amanat rakyat pada pilpres 2014.

Pertanyaanya adalah jika kuantitas yang menjadi acuan maka Jokowi juga tidak akan bisa menjadi presiden ke 7 (Tujuh) Republik Indonesia. Jika di tambahkan kota Solo dan provinsi DKI Jakarta juga masih jauh dari Jumlah penduduk Indonesia yang 200 juta lebih. Lalu apa yang istimewa dari Jokowi, jawabanya adalah beliau memiliki Branding yang dijual, appa branding itu yakni "blusukan". Lantas kalau begini,  apa branding TGB?

Jika melihat isu nasioNal yang berkembang beberapa tahun terakhir, mmasih berkutik soal bagaimana melemahkan kredibiltas rakyat terhadap Jokowi. Berbagai isu strategis di mainkan, namun setidaknya ada 3 isu nasional yang tetap bertahan yakni isu agama, korupsi dan komunis.

Pada tiga isu strategis ini, Jokowi hanya mampu menelesaikan isu korupsi. Pemerintahan Jokowi yang disebut "Revolusi Mental" mengakibatkan beberapa elit tinggi Negara ini satu demi satu kasus skandal korupsinya terbongkar. Tidak tanggung-tanggung beberapa elit politik Negara ini mulai ketar-ketir bahkan orang yang di anggap bersih di pemerintahan yang lalu mampu beliau angkat permukaan.

Menangani kasus korupsi meemang merupakan catatan khusus bagi pak Jokowi. Hal inilah yang kemudian menjadikan pak Jokowi tidak di sukai pada tataran elit negeri ini. Ketidak sukaan inilah yang membuat para elit berkumpul menyusun strategi untuk bagaimana menggulingkan kekuasaanya. Hal yang dimainkan iyalah dua isu tadi Komunis dan Agama.

Isu agama misaalnya, di berbagai media sosial (medsos) perbincangan soal Jokowi anti terhadap Islam bermunculan. Hinaan dan cacian dari beberapa orang menjadi hal yang biasa kita lihat dengan membenturkan Jokowi dengan Islam. Misaalnya beberapa kasus dem besar di Jakarta kala kasus penistaan agama, yang melakukan penistaan orang lain yang di suruh mundur malah beliau.

Lain isu agama lain pula isu komunis. Beberappa finahan muncul di medsos yang menyatakkan bahwa Jokowi ada keterkaitannya dengan PKI di masa lampau. Beberapa foto yang di tuduhkkan mirip Jokowi pada saat kegiatan PKI beredar di medsos. Isu ini mampu meruntuhkan kepercayaan rakyat Indonesia terhadap Jokowi.

Kedua isu inilah jawaban dari Branding TGB. TGB kita ketahui merupakan sosok pemuda yang sukses dalam memimpin provinsi NTB selama 2 periode. Tidak hanya itu, sebagai sosok pemimpin dari kaalangan muda, yang menjadi kebanggaan masyarakat NTB adalah beliau menjadi gubernur dan ulama'. Jika melihat branding ini, dua isu besar untuk mengallahkan Jokowi pada pilpres mendatang akan terjawab jikaa menggandeng TGB sebagai pasangannya. Mengapa demikian?

Kesuksesan TGB dalam memimpin NTB tentu menjadi pelajaran berharga jika menjadi pendamping Jokowi nanti. Dalam membendung setiap isu agama dan isu komunis yang daapat menjadikan Jokowi terpental, TGB lah sosok yang dapat menjadi pelengkap dari permasalahan itu. Sosok TGB juga tidak pernah memiliki catatan buruk soal isu agama, karena kita ketahui bersama beliau merupakan pimpinan tertinggi organisasi terbesar di NTB Nahdlatul Wathan (NW). Belum lagi tentang isu PKI, TGB tentu memiliki catatan khusus, karena kakek beliau TGH. KH. Abdul Majid (Maulana Seh) pada saat itu dengan terang-terangan melawan PKI dengan para santri.

Lalu kenapa TGB yang hharus menjadi pilihan? bukankah masih banyak tokoh nasional di Indonesia yang mampu membendung ketiga isu itu mendampingi Jokowi? Pertanyaan ini tentu mucul di benak kita bersama. Namun mari kita kaji secara tuntas melalui pengamatan saya. Tokoh nasional yang lengkap seperti TGB hari ini bisa dibilang sangat kurang. Ulama yang terjun di dunia politik misalnya, kuantitasnya tentu banyak namun jika di deretkkan dengan tokoh secara Nasional, pasti akan kalah dengan TGB. Ulama'  yang mampu menyaingi TGB banyak namun sudah tua, dan tidak maksimal dalam berpolitik. Lalu bagaimana dengan tokoh politik?

Tokoh-tokoh nasional politik kita di Indonesia hari ini, tidak lepas dari jeratan kasus korupsi. Beberapa tokoh-tokoh nasionaal kita banyak yang dibayang-bayangi dengan sederetan kasus yang menimpa politikus lainnya. Seakan layaknya seperti kue tar saat pesta ulang tahun di bagi-bagi. Sehingga jika ada tokoh politik nasional yang ingin mendampingi Jokowi naanti isu korupsi merupakan isu yang krusial untuk menjatuhkannya nanti.

Jika sudah seperti ini tentu pilihan yang sangat pas adalah TGB. Jika melihat realita, ini seolah-olah takdir yang telah di gariskan Allah SWT, bahwa TGB merupakan pemimpin yang di tunggu-tunggu Ummat. Pemimpin yang akan mendampingi Jokowi dalam memimpin Indonesia di pilpres 2019 nanti agar Indonesia menuju kejayaannya kembali, kasus Korupsi di tuntaskan habis oleh Jokowi, isu agama dan isu PKI yg ingin membenturkan antar sesama juga akan mampu di bendung oleh TGB.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru