Tiada Hari Tanpa Puasa

Sebentar lagi umat Muslim akan memasuki bulan Ramadhan; bulan ketika mereka diwajibkan menjalankan puasa. Suasana bulan Ramadhan sudah tampak dimana-mana.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, umat Islam demikian bergairah menyambut kedatangan bulan suci ini dengan meningkatkan amalan ibadah-ibadah ritual. Selain untuk menekuni ibadah ritual, tak sedikit di antara mereka yang menjadikan bulan puasa sebagai momen memperbanyak aksi sosial. Bahkan selain itu, banyak pula dari mereka yang menjadikannya sebagai bulan untuk menahan diri dari segala sikap dan perilaku tercela, serta pada saat yang sama, mengembangkan akhlak mulia.

Hal itu memperlihatkan keberadaan bulan Ramadhan sebagai bulan yang benar-benar berbeda daripada bulan-bulan lain. Simbol dan atribut keislaman hadir di berbagai ranah. Kegiatan keagamaan pun menyebar di setiap ruang dan sudut, sehingga “semangat beragama” sekaligus bernuansa islami terasa menggetarkan dimana-mana.

Sebagai mana dipahami dari ajaran dan pesan Al Quran, ibadah akan mengantarkan seorang ke proses pencerahan. Keberibadahan akan memperkuat spiritualitas, berdampak positif bagi penajaman nurani dan pengembangan sikap serta perilaku luhur yang bermanfaat bagi diri sendiri, sesama, dan kehidupan.

Jika kegairahan ibadah Muslim yang tampak pada bulan Ramadhan berada dalam bingkai itu, carut marut kehidupan bangsa yang sampai batas tertentu mengakar pada memudarnya moralitas, dipastikan dapat ditangani lebih intens dan serius. Penguatan moralitas, akan jadi modal utama menuju perbaikan dan pencerahan kehidupan yang senyatanya.

Namun, melihat fenomena yang ada keberpuasaan yang berjalan selama ini, masih sulit untuk dimasukkan secara utuh ke dalam bingkai pencerahan tersebut. Jika dilihat secara arif, beberapa bentuk keberpuasaan yang lumrah dan umum di jalan warga Muslim, belum mencapai ideal pencerahan.

Sebagai contoh, sebagain dari mereka menjalankan puasa sekedar menahan lapar dan dahaga. Mereka mengerjakan ibadah wajib dan sunah, tetapi belum menjauhi sikap dan perilaku tercela. Mereka belum mentransformasikan pesan dan nilai-nilai puasa ke dalam kehidupan nyata.

Di samping itu, ada kelompok lain yang telah melaksanakan segala ibadah sesuai aturan formal agama, serta berupaya mengembangkan moralitas luhur dalam kehidupan dan menyebarkannya ke sekitar lingkungan mereka. Persoalannya, kelompok ini mengimplementasikan moralitas luhur itu, hanya selama sebulan Ramadhan. Selepas bulan puasa, upaya mereka pasif kembali, sehingga lambat laun, mereka bersikap dan berperilaku seperti sebelum puasa.

Selain itu, ada kelompok yang berpandangan-implisit-eksplisit-bahwa, puasa adalah, mendekatkan diri kepada Tuhan yang harus dipersentasekan melalui ketekunan dalam beribadah yang bersifat ritual-vertikal. Bagi mereka, termasuk ke dalam taqarub kepada Allah, adalah menghilangkan dan menghancurkan segala sesuatu yang dalam anggapan mereka akan mengganggu kekhusukan berpuasa. Untuk itu, mereka tak segan-segan merusak tempat hiburan dan sejenisnya.

Pola puasa semacam itu, gejala umum dalam kehidupan umat hingga saat ini. Mungkin hanya sedikit yang mengembangkan keberpuasaan sesuai substansi ajaran puasa itu sendiri.

Kendati bulan puasa, hanya satu bulan dalam setahun dalam hitungan yang bersifat lunar, umat Islam hanya diwajibkan secara ritual serta fisik, berpuasa pada satu bulan itu, mereka sejatinya, dituntut cecara teologis-sufistik melaksanakannya. Tentunya, berpuasa selepas bulan Ramadhan lebih bersifat moral.

Dengan demikian, umat Islam pada bulan Ramadhan, wajib beribadah puasa secara fisik dan moral. Melalui ibadah puasa, mereka pada siang hari, tidak boleh makan dan minum. Tidak boleh melakukan hubungan suami-istri, dalam hal-hal lain sesuai dengan ketentuan agama. Selain itu, mereka juga harus menghindarkan diri dari segala perilaku hina dan tercela, terutama merugikan orang lain. Mereka wajib menahan amarah, iri dan dengki, tidak menyakiti sesama, tidak main hakim sendiri, serta tak merusak alam dan menyebarkan keangkaramurkaan.

Pada saat yang sama, mereka mutlak mengembangkan sikap laku sabar, arif dan mengembangkan dialog dalam menyelesaikan segala persoalan. Setelah bulan puasa usai, mereka memang tidak mewajibkan berpuasa secara fisik, tetapi harus tetap mengembangkan keluhuran moral, sekaligus berupaya keras untuk tidak berada dalam kungkungan hawa nafsu mereka.

Bulan Ramadhan bagi umat Islam, selain bersifat latihan pengendalian diri, juga senyatanya lebih bersifat upaya muhasabah al-nafs, refleksi diri untuk menelusuri sejauh mana, selama sebelas bulan sebelum bulan puasa, mereka sudah berada dalam bimbingan moral agama. Jika mereka relatif sudah berjalan di atas nilai dan ajaran agama substantif, tugas mereka adalah meningkatkan kualitas. Namun, andai pernah tergelincir, mereka dituntut secepatnya kembali ke dalam rangkulan kesejatian agama. Dalam konteks ini, puasa sejatinya setiap hari, sepanjang tahun, bahkan sepanjang usia.

Melalui penyikapan puasa semacam itu, kualitas keberagamaan umat Islam, akan terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, model ini urgen untuk dikembangkan saat ini dan ke depan. Semoga kita umat Islam di Lombok Barat, di NTB, di Indonesia, masih memiliki kearifan untuk mengembangkan diri secara terus menerus dan berkelanjutan, termasuk dalam berpuasa. Semoga! [] -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru