Menggagas KM Progressif. Analisa Sambang Kampung

Merancang Kampung Media yang progressif

Media pada dasarnya memeiliki fungsi sebagai katalisator setiap bentuk komunikasi yang tersumbat atau sebagai penyalur keinginan yang tidak terakomodir, beranjak dari kondisi itulah seluruh elemen public salSeperti lembaga pers dengan system etis jurnalis dituntut untuk menjawab kesenjangan informasi baik ditingkat local maupun internasional, pers dengan seluruh perangkat jaminannnya seperti Undang-Undang kbebasan Pers harus lebih professional dan progressif.

Dalam perjalanan karir dan pengabdiannya KM telah menunjukkan progressifitas yang baik terbukti dengan menjamurnya KM-KM diseluruh pelosok tanah air bahkan luar negeri  datang melakukan studi banding ke NTB untuk mengenal lebih dekat konsep pemberdayaan masyarakat berbasis Kampung Media, sejalan dengan kondisi tersebut tentu tak ada gading yang tak retak dan tak ada air yang tak keruh, semua tak berjalan mulus.

Meminjam istilah Arif, bahwa “bentuk pola sinergi yang bertujuan untuk membangun kesejahteraan membutuh factor-faktor pendukung dan pendorong” maka kehadiran KM dimanapun berada dituntut lebih progressif memberikan support kepada masing-masing stake holder pemerintah diseluruh tingkatan masih membuthkan keseriusan yang lebih. Kondisi ini  bukan saja menjadi masalah namun lebih manarik manakala KM yang ada dituntut  lebih tajam memandangnya sebagai sebuah peluang yang dalam istilah arif disebut sebaga i”Mindset of control”.

Keberhasilan yang ditorehkan oleh dinasti Orde Baru dengan mengekang lembaga Pers dalam bentuk yang sangat elegan tampa mengkebiri hak-hak untuk bersuara yang diatur oleh kode etik kedinasan dinilai sangat berhasil walaupun tidak sunyi dari kritik atas tekanan terhadap kebebasan menyampaikan gagasan, ini yang oleh arif disebut sebagai peluang, KM yang progressif dengan program Sambang Kampung yang rutin dilakukan selain sebagi wahana evaluasi semestinya lebih aktif dilakukan terutama di wilayah yang masih sangat kurang KM nya.

Tingkat aksebilitas masyarakat terhadap informasi yang di suguhkan oleh media-media social tidak sebanding dengan kondisi masyarakat di desa-desa yang tidak mengenal KM, masih rendah apabila dibanding dengan desa-desa atau kota yang sudah mengenal KM, harapan Arif dalam anallisanya adalah mendorong peningkatan dan intensitas komunikasi antar lembaga KM untuk mendongkrak semangat penyebaran dan KM terutama di wilayah-wilayah tempat KM media belum terdengar.

Tentunya tidak merupakan suatu hal yang berlebihan ketika Norman Kamaru atau Udin Sedunia tampil secara tiba karena penampilan uniknya tetapi lebih pada keberhasilan media-media social yang menjadi katalisator seperti yang disampaikan pada awal tadi, sebagai penutup harapan seperti yang di amanatkan arif bahwa setiap kita mesti memiliki kekurangan tetapi kekurangan itu tidak serta merta akan menjadikan kita lemah sehingga tidak akan berbuat sama sekali, bukankah semut dengan segala kekurangannya mampu mengangkat benda yang melebihi ukuran badannya hanya dengan modal kebersamaan, dan bukankah ikan-ikan dilaut bias lepas dari jeratan jarring nelayan karena kerasnya arus dan kuatnya sebuah perjuangan????????

 yakinlah semua usaha akan mendapat balasan……

Abu Ikbal () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru