Temukan Kebahagiaan, Tentramkan Jiwa Anda

Kebahagiaan tidak muncul karena harta yang melimpah, tapi muncul dari kebiasaan hidup yang wajar dan normal” ~ James Wood ~

Manusia dalam kehidupan ini tentu mencari kebahagiaan. Sebagian dari kita menganggap bahwa kebahagiaan adalah ketika kita memiliki rumah sendiri, kendaraan tak lagi memakai nama orang tua, memiliki anak yang cantik dan lucu-lucu, mendapat akses ekonomi, memiliki keturunan orang-orang pejabat tinggi. Demikian pula dikehidupan social, kita seakan menjadi selebriti yang mendapat puja-puji karna memiliki harta yang lebih, bisashoping setiap saat, makan yang lezat setiap waktu, serta tidur yang nyenyak setiap hari.

Kita hendak lupa dengan ‘IWA RO WEKI’, tetangga-tetangga di depan rumah tak lagi sempat diperhatikan keadaannya, lupa bersilaturahmi dan berjabat tangan, lupa bersapa salam memberi senyum, bahkan kita sendiri sering lupakan hal-hal kecil seperti membantu mereka dalam kesulitan, memberi makan dalam kelaparannya, memberi arahan dan petunjuk dalam meluruskan kehidupannya.

Lagi-lagi kita lebih senang menutup diri, tak malu berlebih-lebihan tanpa batas. Seakan-seakan saling pamer siapa yang lebih hebat dan mengungguli adalah cara biasa, lalu menceritakan aib seseorang telah menjadi hal yang biasa saja, membuka aurat telah menjadi kebiasaan, pintar mencaci, menghina, mencibir, mencela. Belum lagi maraknya terjadi pertengkaran, perselingkuhan, perjudian, riba, korupsi, dan sejenisnya.

Lantas apa itu kebahagiaan! Apakah karna bisa berjalan-jalan keluar kota setiap akhir pekan lalu berselfie ria di gedung megah, di hotel berbintang, di monas, di pantai, di puncak gunung, di café dan discotik? Atau karna bisa kesalon perbaiki rambut, muka yang berminyak dan jerawatan, pijit ini pijit itu? Ataukah mungkin karna bisa keluar negeri setiap bulan, bertemu dengan konco-konco kolega seperjuangan?

Yahh..begitu bahagianya bukan. Apa lagi bisa menghadiri undangan dari kepala desa, kepala camat, ketua DPRD, Bupati, Gubernur, Mentri bahkan Presiden sekalipun. Lalu disebut-sebut nama mu dihadapan orang banyak. Seakan menjadi orang penting bangat!! Belum lagi soal persiapan, tentu harus memakai baju yang berlabel hight class, bersih, rapi, dan harum. Juga bahkan lebih cepat hadir dari jam diundangan. Kita telah terjebak standar kelas dan status sosial yang cendrung melangit.

Cobaaa…PERHATIKAN HIDUP KITA.

Kebiasaan gaya hidup ingin tinggi melangit, kadang membuat kita lupa dengan prilaku membumi. Padahal dirimu dan diriku adalah sesuatu yang diciptakan begitu sempurna dan dahsyat dari mahluk yang lain. Memiliki akal, mata, telinga, hidung, mulut, tanggan, kaki, dan HATI. Ini menjadi renungan bersama bahwa seberapa maksimalkah kita memanfaatkan segala yang ada dalam tubuh? Cek satu persatu, apa saja yang engkau lihat, dengarkan, hirup, ucapkan, berjalan, dan merasakan.

Jika sudah. Hentikan untuk menceritakan kelemahan, kita sekarang adalah menjadi hamba yang senantiasa memperbaiki proses dinamika kehidupan. Berhenti dulu sibuk memperbaiki tentang life style dan memikirkan untuk liburan kemana, berhenti dulu membanggakan diri mendapat undangan dari pejabat-pejabat daerah. Silakan bentak mereka, ajak anak kita, saudara, sahabat, kerabat untuk sama-sama meluruskan pandangan dan mengikuti ajaran Islam.

Kenapa kita tidak ingin membersihkan hati, sehatkan pikiran untuk menuju  undangan dari Allah dalam Lima kali panggilan setiap hari, secara gratis tanpa biaya bensin, tak dihiraukan? Apakah janji Allah itu tidak benar?? Jika tidak benar, lalu kenapa saat adzan  berkumandang ‘Hayya Alash Shalaah’ dan ‘Hayya Alal Falaah’ meski ada? Bukankah artinya adalah Marilah Sholat dan Marilah menuju kemenangan.

Kemenangan itu tentu adalah orang-orang yang senantiasa mengerjakan kebajikan yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Orang-orang bahagia, sejahtera, dan makmur adalah seseorang yang aku cemburui dengan ia yang taat beragama, seseorang penghafal Qur’an yang mengerti tentang Al-Hadist dan mempraktekannya.

Sekali lagi bahwa shalat itu penting, karena itu janji Allah. Dari Abu Qatadah Ra, Ia berkata : Rasullullah Saw bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku fardhukan atas umatmu shalat lima (waktu = pen), dan Aku menjanjikan suatu janji yaitu orang yang menjaga shalat itu pada waktunya maka Aku memasukkannya ke Surga. Barang siapa yang tidak menjaganya maka tidak ada janji padaKu”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah). 

Jangan ragu dengan kekuasaannya, ia benar-benar maha pemberi, maha pengasih, maha agung, maha tinggi, ia Maha Esa. Pencipta seluruh semesta beserta isinya.

Ingat. kita tidak punya daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT. Dan dunia adalah tempat dirimu dan diriku bersinggah sementara waktu. Di akhiratlah kita kekal di dalamnya. Dan PILIHANnya adalah Hanya dua arah jalan, yaitu KEBAIKAN dam KEBURUKAN.

Mari sama-sama kita berbuat kebaikan, sekecil apapun. Karena kebaikan yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadikan diri kita sadar akan banyak hal. Saling berbagi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan bersosial. Tidak memandang besar kecilnya kebajikan yang kita lakukan…

Mohon maaf, saya menulis tulisan ini semata-mata hanya untuk berbagi kebaikan, tidak lebih dari itu. Bukan berarti saya ingin menggurui teman-teman dan sobat sahabat semua, saya hanyalah seseorang lemah yang ingin berusaha untuk sadar dan memperbaiki diri. Saya berpikir bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik. Terima kasih. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru