Menakar Pemimpin Berkualitas

Pemilukada serentak yang digelar pemerintah di seluruh tingkatan mulai dari tingkat paling rendah hingga tingkat presiden ,tidak hanya menghabiskan dana yang jumlahnya hingga triliyunan rupiah namun juga akan menyisakan sesak di dada apabila output pemimpin yang dihasilkan juga tidak sesuai dengan amanat yang dititipkan rakyat di tingkat bawah. Problem utama negeri kita bukan saja pada kebijakan, tetapi adanya hambatan-hambatan yang membuat kebijakan tidak berjalan.

Kunci kepemimpinan sekurang-kurangnya tiga :

Berkarakter

Orang awam bicara kehebatan dirinya. Orang pintar bicara kepandaian dirinya. Orang berkarakter bicara kekurangan dirinya. Presiden yang baik mestinya diemban orang berkarakter. Dia mengakui kekurangan diri dan sadar berbenah. Jangan sekadar orang pintar apalagi orang awam. Karena kemelut bangsa ini bakal berlangsung tiada akhir.

Lembaga negara harus dikelola orang-orang berjiwa pemimpin bukan pimpinan. Dengan rendah hati, presiden sesungguhnya telah perankan diri sebagai pemimpin. Dengan tinggi hati jadilah pimpinan. Rendah hati sumber kebaikan, tinggi hati sumber masalah. Presiden yang rendah hati dalam kondisi normal tetap waspada. Yang tinggi hati dalam kondisi tenang merasa paling pintar, paling hebat, dan paling tahu. Dalam kondisi tak normal, presiden yang rendah hati merasa bersalah tak mampu tuntaskan semua persoalan. Sebaliknya, dalam kondisi tak normal, presiden yang tinggi hati salahkan orang lain. Percayalah tak jadi hina presiden yang rendah hati. Malah sebaliknya, presiden yang rendah hati jadi besar karena tidak besar-besarkan dirinya.

Ingat, kualitas pemimpin bisa dilihat dari kualitas pengikutnya. Apakah pengikutnya sekumpulan pasukan atau pemimpin lain. Dalam buku The Swordless Samurai, Hideyoshi punya sebuah filosofi,“Pasukan menggunakan pedang untuk memenggal kepala orang. Tapi pemimpin menggunakan kepala untuk menanggalkan pedang."

Pemimpin harus lebih bijak dan matang ketimbang pasukan. Jika hari ini, aksi hujat dan saling fitnah antar pendukung mengemuka, kita bisa menakar seberapa berkualitas figur calon pemimpin bangsa kita dan para pengikutnya. Dan perlu dipahami, persoalan bangsa pun tak bisa selesai dengan aksi saling hujat dan fitnah.

Maka sebagai pemimpin, dia harus sadar untuk tak lahirkan pasukan tetapi pemimpin-pemimpin baru. Pemimpin paling baik adalah yang siapkan dirinya jadi batu loncatan untuk perkembangan bagi lahirnya pemimpin berikutnya di masa depan. Ibarat menyiapkan anak-anak, salah satu puncak kepemimpinan adalah menyiapkan generasi berikut untuk melanjutkan cita-cita. Tentunya bukan cita-cita untuk melanggengkan kekuasaan partainya sendiri, melainkan memajukan kehidupan bangsa. Layani rakyat dengan segala kerendahan hati dan berikan apa pun hal terbaik yang dimiliki, itulah tugas tertinggi seorang pemimpin. 

Ingat, KH Agus Salim pernah berujar,“Tradisi bangsa kita hanya melahirkan raja-raja kecil bukan pemimpin besar”. Yang perlu direnungi, mengapa bangsa ini sulit melahirkan kembali pemimpin Indonesia yang spirit dan kualitas perjuangannya seteguh para pendiri bangsa terdahulu? Semoga momentum lahirnya pemimpin Indonesia, bukan raja-raja kecil yang pintar membesar-besarkan dirinya sendiri.

Kepedulian Pemimpin DanPemimpin yang Melayani

Baik-buruknya organisasi, bangsa, dan negara, hal itu sangat ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Jika organisasi yang anggota-anggotanya berkualitas pemimpin, organisasi tersebut akan berkembang dan kuat. Pemimpin harus berkomitmen, konsisten, memikirkan persoalan masyarakatnya, dan menolong mereka dari kesukaran hidup.

Prinsip ini bukan hanya di wilayah kenegaraan, tapi juga dalam lingkup perusahaan. Prinsip inilah yang membedakan manajer dan pemimpin di perusahaan. Konsep kepemimpinan modern memperlihatkan, pemimpin yang berhasil menggerakkan dan mentransformasi orang adalah pemimpin yang berorientasi pelayanan. Bukan mencari pujian atau pencitraan diri.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang peduli pada pertumbuhan dan dinamika kehidupan bangsanya. Ia mendahulukan kepentingan bangsa dan Negara daripada ambisi pribadi/kelompoknya. Motivasi melayani dimulai dari dalam, kemudian ke luar melayani mereka yang dipimpinnya, bukan dibuat-buat sebagai bagian dari political acting. Pelayanan sejati buah dari cinta kasih.

Pola kepemimpinan baru diperlukan dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Pengalaman menunjukkan pola kepemimpinan lama, dengan gaya parlente, pragmatis, dan hedonis, tidak mampu menjawab tantangan masa depan dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Sederhana, Kerja Keras

Timbul harapan, budaya kompetisi dengan bekerja untuk rakyat akan tumbuh, dan rakyat akan memilih pemimpin nasionalis yang sederhana, kerja keras, tegas, dan mau melayani. Pemimpin yang gagal membawa kesejahteraan tidak akan terpilih lagi.

Kita merindukan pemimpin bangsa dan korporasi sebagaimana dikatakan Lao Tze: “Seorang pemimpin yang terbaik adalah ketika orang hampir tidak tahu dia ada, ketika kar yanya selesai, tujuannya terpenuhi, orang-orang berkata: ‘kami melakukannya sendiri.”

Abu Ikbal () -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru