Bagaimana Merayakan Hari Kartini?

Siapa yang tidak tahu R.A Kartini?

R.A Kartini adalah icon emansipasi wanita yang dimiliki oleh Indonesia. Seringkali saya pribadi bingung bagaimana merayakan Hari Kartini. Apakah dengan memakai kebaya saja sudah cukup? Saya tidak bermaksud menyalahkan hanya saja saya dalam kebingungan yang besar mengenai hari Kartini. Saya sangat menyukai Kartini dan saya ingin mengikuti langkah beliau untuk kemajuan perempuan, khususnya di Lombok.

Tahun lalu saya pernah meneliti mengenai perbedaan kepuasan pernikahan istri yang menikah dengan cara merariq dan belakoq. Saya menemukan dua variabel dalam pernikahan dengan cara merariq atau selarian yakni perempuan yang menikah atas dasar kemauannya sendiri dan perempuan yang menikah karena terpaksa. Beberapa sumber yang saya baca, sebenarnya pernikahan di Lombok ini sudah diatur dengan baik dan bagus. Dasarnya saja jika ingin menikah sebenarnya oleh persetujuan perempuan, "mau tidak menikah dengan pria tersebut?, mau dijemput dimana?, kapan?" semua itu harus ditanyakan pada perempuan, laki-laki tidak bisa seenaknya saja mengambil gadis lain tanpa meminta persetujuan si perempuan untuk menikah. Ada beberapa alasan yang dijumpai, misalnya: terlambat pulang setelah keluar rumah, dijebak oleh laki-laki, tekanan laki-laki, dan lain sebagainya. 

Jika sudah seperti itu, terjadi pelanggaran hak terhadap perempuan: hak untuk memilih siapa pendamping hidupnya dan hak untuk meneruskan pendidikan (bagi perempua yang masih sekolah). Lain halnya jika menikah dengan cara merariq atau selarian namun atas dasar kesepakatan bersama-sama. 

Apakah berhenti sampai disitu saja? Ternyata, pun ketika menikah perempuan masih saja menjadi kaum yang inferior dibandingkan dengan laki-laki yang superior. Padahal kesamaan peran merupakan kunci dalam kepuasan pernikahan. Kadangkala istri sakit, laki-laki yang memasak atau mencuci pakaian oleh tetangga di cap "Suami Takut Istri". Istri bekerja diluar rumah, eh suami nganggur. 

Saya bingung bagaimana cara merayakan hari kartini jika lingkungan sekitar saya saja masih ada pelanggaran hak perempuan. Jika usia SMP saja sudah menikah dan menjadi janda yang bergantung pada orang tuanya. 

Lalu, bagaimanakah cara saya merayakan hari Kartini?

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru