Bergaya di Atas Panggung Sandiwara

Dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia. Goffman mengambil pengandaian kehidupan individu sebagai panggung sandiwara lengkap dengan setting panggung dan akting yang dilakukan oleh individu sebagai aktor “kehidupan” dan Manusia adalah aktor dalam panggung kehidupannya.

            Seseorang atau kelompok yang bergaul di kalangan sosial menengah – atas sering kali kita lihat sebagai trend anak muda zaman sekarang, bahwa kebanyakan orang yang pergi ke mall sebagai ajang pamer atau menunjukan kelebihan yang dimilikinya, sebagai gambaran awal dicontohkan bahwa , seseorang yang pergi ke mall itu harus menggunakan barang yang ber-merk meskipun barang yang ia gunakan itu adalah kwalitas ke-2 atau bahkan kwalitas ke-100 yang terpenting adalah merk atau brend barang tersebut”.

Disini menunjukan seseorang tersebut berperan sebagai orang yang di anggap keren,kaya, memilik segalanya, dan berpengaruh. Berpengaruh disini menjelaskan bahwa apa yang ia gunakan dapat menjadi trend anak muda yang lain. Seperti baju,sepatu,tas dan gadget yang ia gunakan.

 Pengembangan diri sebagai konsep oleh Goffman tidak terlepas dari pengaruh gagasan Cooley tentang the looking glass self. Gagasan Cooley ini terdiri dari tiga komponen. Pertama, ia mengembangkan bagaimana ia tampil bagi orang lain; kedua, ia membayangkan bagimana peniliaian mereka atas penampilan dirinya; ketiga, ia mengembangkan sejenis perasaan-diri, seperti kebanggaan atau malu, sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut. Lewat imajinasi, ia mempersepsi dalam pikiran orang lain suatu gambaran tentang penampilannya, perilaku, tujuan, perbuatan, karakter teman-temannya dan sebagainya, dan dengan berbagai cara ia terpangaruh olehnya.

Dari gambaran tersebut menjadi nilai plus bahwa ketika ia mampu melakukan itu ia bisa dikatakan sebagai anak mall yang trendi atau pengakuan dari teman sepergaulannya itu sendiri.

Konsep yang digunakan Goffman juga berasal dari gagasan-gagasan Burk. Dengan demikian pendekatan dramaturgi sebagai salah satu varian interaksionisme simbolik yang sering menggunakan konsep “Peran Sosial” dalam menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater. Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir.

Mall  bagian dari gaya hidup

Mall menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan seiring perkembangan zaman. Mall seperti bagian dari gaya hidup bukan hanya dari kaum sosialita bahkan kalangan menengah ke bawah ingin bergaul dengan kaum sosialita menengah ke atas.

 Rizki (22) mengaku sangat suka ke mall. Karena di mall ia dapat bergaul dengan teman-temannya . Setiap kali datang ke mall, rizki bisa berjam-jam. Minimal dalam satu minggu ia datang ke mall sebanyak 4 kali. “biasanya untuk main di Fun city, dan sama teman-teman biasanya kumpul untuk ngobrol. Untuk menghabiskan waktu kalau tidak ada pekerjaan,” kata pegawai honorer di rumah sakit daerah mataram ini,

Menurut rizki, mall menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong. Disana ia bisa berjam-jam bermain di fun city sama teman-teman dan orang yang baru ia kenal disana . Menurut pengalamannya, meski berlama-lama di mall ia belum pernah ditegur petugas. “Mall itu banyak pilihan. Kalau bosan di satu tempat, bisa jalan-jalan dan cari tempat lain di mall tersebut,” katanya.

Selain nongkrong untuk menunjukan kelebihan yang ia miliki seperti pacar yang cantik atau HP yang keren dan terbaru.

Bobby (20) mengatakan setiap kali pergi ke mall (fun city) ia mendapatkan uang sekitar 50-150ribu/hari dari hasil bermain di fun city, ia menjual koin yang ia dapatkan kepada pengunjung mall yang datang ke fun city. Walaupun hal itu tidak diperkanankan adanya,  selama tidak ketahuan tidak masalah untuk dia,”tuturnya . lulusan SMA.

Dan sebagian hanya datang untuk melihat lihat saja, itu sebabnyatak sedikit counter di dalam mall yang sebenarnya tak meraih keuntungan, karena pengunjung memang hanya ingin rekreasi, dan bukan belanja”.

Rekreasi dan belanja

Tujuan orang pergi ke mall ada banyak hal, selain karena ingin memenuhi kebutuhan hidup seperti belanja pakaian dan makanan. Mall juga menjadi trend anak muda agar tidak dikatan ketinggalan zaman. Selain itu fashion anak muda yang di antaranya   Berburu diskon,  Pamer aksesoris (baju, sepatu, gadget) Atau pamer pacar.

Agar terlihat seperti orang kaya yang trendi masa kini atau “GAUL”. Banyak dari mereka yang sebenarnya tidak memiliki status sosial tetapi memilih untuk berteman dengan kaum borju atau sosialita dan berprilaku seolah sebagai kaum sosialita. Peran sosial ini tidak terlepas dari adanya pengaruh globalisasi atau budaya barat yang tidak tersaring dengan tepat. Contoh : berbelanja, makan makanan jungfood (sampah) , bergaya kebaratan, atau berprilaku kebaratan.

Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi pengunjung Mall yang ingin berbelanja dengan yang hanya datang untuk bergaya, adanya  perilaku  yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. menciptakan sebuah mekanisme tersendiri, dimana dengan permainan peran tersebut ia bisa tampil sebagai sebuah sosok  mempunyai peran yang sangat berpengaruh.

Dapat kita pahami, bahwa banyak sekali yang pergi ke mall itu hanya untuk bergaya, atau akting berperan sebagai aktor dalam kehidupannya, hanya agar dapat pengakuan dari teman sepergaulannya bahwa dirinya adalah orang yang gaul dan trendi tidak ketinggalan zaman,

(Teori goffman, internet, google 2014, Sosiologi Kontemporer)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru