Merakit Yang Berserakan Setelah Pilkada

Pemilihan Umum di setiap jenjang, baik tingkat pusat, provinsi, maupun di tingkat kabupaten mengandung makna yang sama. Yaitu masing-masing kandidat berupaya sekuat mungkin mengajak pemilih memilihnya. Proses mengajak pemilih berada dalam suatu etika aturan yang sama. Maka, pada saat proses tersebut berlangsung tentu masing-masing calon mempertajam visi-misi sebagai gambaran dari sebuah perjuangan keras dalam kurun waktu tertentu terhadap program yang akan dilaksanakan. Gambaram program tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga pemilih merasa yakin dan percaya bahwa pilihannya akan memenuhi harapan hidup demi peningkatan kesejahteraan masa depan yang lebih menjanjikan. Walaupun pilihan pemilih semuanya tak mungkin sama. Mereka akan melakukan penilaian terhadap orangnya dan juga terhadap programnya. Pada saat itulah mulai terjadi perbedaan di antara mereka. Hal itu wajar. Dan inilah demokrasi itu.

                Namun, yang sering terjadi bahwa mereka masing-masing saling melihat, saling mencatat. Hal itu terjadi di antara sesama pemilih dan calon juga menyimpan dokumen. Karena itulah perbedaan yang tadi semakin meruncing akan mengawali kondisi kurang nyaman tumbuh dan tidak menutup kemungkinan untuk berkembang. Persahabatan putus, keluarga tidak akur, dan bahkan tidak jarang mereka putus kontak. Yang akhirnya bibit kebencian yang akn tertinggal. Bibit-bibit itu berserakan seantero wilayah. Hal itu pula sebagai suatu indikasi bahwa kita masih belum dewasa dalam menjalankan roda demokrasi sebagai sebuah system.

                Elemen-elemen yang berserakan itu akan mencari teman serupa dan bersatu sehingga terbentuklah kekuatan baru. Apabila kekuatan yang terbentuk itu bersinggungan dengan lawan yang tidak sejenis akan melahir peristiwa baru. Dalam kasat mata demo-demo tidak sedap tidak lain sebagai akibat dari dua kekuatan tak sejenis besinggungan. Jika singgungan itu tetap dalam etika demokratis tidaklah mengapa, tapi kadang-kadang kedua belah pihak tidak mampu menahan emosi sehingga benturan keras tak terhindarkan. Pada saat itu terdengarlah istilah bahwa kita masih belum bisa berdemokrasi secara dewasa. Di sisi lain, penanganan masalah tidak berdiam diri. Semua yang berkompeten selalu aktif datang. Ada yang langsung turun kelokasi, ada yang mampir berdiskusi, bahkan masyarakat awam pun terperangah menyasikan.

                Kemudian dari pihak calon yang unggul pun ikut membuka catatan. Dan, membagi wilayah pemilihan menjadi dua bagian. Wilayah menang dan wilayah kalah. Wilayah menang mendapat prioritas sedangkan wilayah kalah dinomorduakan. Bila demikian, maka calon tersebut telah mengawali tugasnya dengan kegagalan. Padahal program yang disodorkan tidak pernah ada wilayah kalah atau menang. Visi-misi selalu ditujukan untuk mengangkat kesejahteraan bersama. Oleh sebab itu, calon yang telah menjadi penguasa atas kemenangan yang diperoleh pada saat pemilihan sebaiknya mengawali tugas pengayomannya terhadap rakyat harus melepas atribut yang dipakai ketika menjadi calon. Dia harus mengangkat bendera bersama, untuk kepentingan bersama, kepentingan seluruh rakyatnya.

                Upaya yang kedua untuk merakit kembali perbedaan yang berserakan itu adalah sedapat mungkin, sesegera mungkin mewujudkan janji politik yang pernah didengung-dengungkan semasa kampanye. Kita mengakui bahwa semuanya tak ada yang berjalan serentak. Namun, sedikit tidak upaya menampakkan janji menjadi kenyataan adalah suatu investasi yang ternilaikan. Demikian seterusnya sehingga visi-misi bukanlah mimpi tanpa makna tetapi sebuah tatanan program yang sesuai harapan semua pihak sehingga dalam kurun usia jabatan yang disandang penguasa secara bertahap melangkah mendekati tujuan yang diinginkan.

                Langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi ketercapain program. Kegiatan ini  dapat dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan semua stakeholder. Banyak informasi yang akan diperoleh dalam kegiatan tersebut. Kelebihan dan kekurangan akan terbaca. Kemauan menerima menjadi kunci sebuah peningkatan yang biasanya mencuat kepermukaan. Berbekal semangat membangun yang tinggi, munculah ide penyempurnaan atas kekurangan masa silam. Maka, lahirlah konsep kalau pembangunan itu harus berkesinambungan. Bersamaan dengan itu sesekali penguasa harus menyediakan waktunya untuk turun memantau lokasi atau bertemu dengan warganya. Hal tersebut sangat membantu dalam upaya menyerap aspirasi warga dan antusias mereka terhadap program yang akan dilaksanakan.

                Kemudian, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada yang sempurna termasuk kita sendiri. Oleh sebab itu perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat sebagai riak kecil, tetapi harus diperhatikan dalam kontek penyempurnaan tersebut. Riak kecil yang dimaksud adalah sebuah gelombang dinamika agar jati diri mendapat perhatian khusus. Konsekuensi suatu dinamika yang hidup dalam suatu masyarakat akan membentuk komunitas baru sehingga berkembang menjadi lebih tampak. Dan, hal ini membuat program perubahan itu tetap berjalan serta menjadi tanda sebuah kehidupan. Kehidupan bermasyarakat dan juga kehidupan pembangunan sebagai ruh dari pembangunan itu sendiri.

                Paparan di atas hanya seberkas sinar agar jurang pemisah antara perbedaan-perbedaan yang timbul dalam masyarakat sebagai muara kehidupan berdemokrasi tidak melebar terlalu jauh. Karena demokrasi itu sendiri juga dinamis atas zaman yang tiada mengenal tanda titik. Apalagi Negara kita memiliki beragam etnis, adat istiadat, suku, golongan, geografis, dan lain-lain yang kesemuanya itu kita akui bersama-sama merupakan modal, asset pembangunan bangsa. (a.jafar mn). - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru