Kepanikan Politis Dibalik Banjir Bandang Kota Bina

KM TNC. Catatan MUHAMMAD ISNAINI, AR. Bencana apapun namanya, besar atau kecil selalu melahirkan dan meninggalkan traumatik yang mendalam khususnya bagi korban yang terkena dampak secara langsung. Selain melahirkan traumatik, bencanapun menghadirkan solidaritas antar sesama. Menyatukan batas-batas masyarakat, baik batas wilayah, ras, suku, agama dan lainnya. Bencana menarik seluruh unsur lapisan untuk terlibat didalamnya dengan bentuk dan cara yang berbeda, termasuk unsur lapisan kepentingan.

Kota Bima yang secara geografis nampak bagai mangkok pecah, yang bagian selatan, timur, utara di kelilingi gunung dan di bagian barat di kelilingi oleh lautan sesungguhnya sangatlah rawan terkena bencana khususnya bencana banjir. Maka tak heran, pada saat hujan besar melanda kota Bima dan daerah penyanggah Kota Bima, banjir dapat melanda kota Bima.

Akhir Tahun 2016, kota bima di landa banjir bandang, banjir terdahsyat dalam sejarah Bima. Banjir yang menghantam 5 Kecamatan (seluruh kecamatan di kota Bima) dan 32 kelurahan mencakup 90% wilayah kota Bima dengan kerugian sementara 1.089 M (data pos komando /selasa 27 desember 2016). Kota Bima yang sedang mengalami perkembangan dan kemajuan dalam pembangunan sekejap saja luluh lantah yang dimana membutuhkan sekitar 10 tahun lebih untuk membangun kembali (bisa lebih cepat atau lebih lama) kota yang mempunyai julukan Kota Tepian Air tersebut. Untuk itu, seluruh lapisan masyarakat harus bahu membahu membangun kembali Kota bima. Tidak bisa hanya mengharapkan pemerintah kota Bima, melainkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun masyarakat harus terlibat membangun kembali Kota tepian air tersebut.

Bicara bencana banjir bandang yang melanda kota bima, di tengah alpanya media nasional memberitakan secara masif atau setidak-tidaknya hanyalah diposisikan sebagai berita running teks maka medsos sangat membantu dan berkonstribusi memberitakan kejadian banjir bandang. Seluruh Lapisan masyarakat nusantara, baik masyarakat bima rantauan maupun masyarakat lainnya dapat mengakses informasi (walau tidak utuh) kejadian bencana banjir yang melanda kota bima di tengah hegemoni berita Om Telolet Om (berita sampah yang di manfaatkan untuk mengalihkan isu-isu nasional, seperti pencetakan uang rupiah baru). Itulah segi positif medsos, dapat dijadikan media alternatif bahkan menjadi arus utama dan terdepan mengabarkan setiap kejadian.

Selain manfaat positif, medsos juga memiliki manfaat negatif. Tak heran jika para pengguna medsos di tuntut untuk sangat cerdas dalam memanfaatkan dan mengkonsumsi setiap informasi yang berkembang di Medsos. Menyelipkan kepentingan individu atau kelompok cukuplah mudah bagi yang sangat paham dan cukup cerdas dalam memanfaatkan Medsos. Kepentingan umum (publik) begitu mudah di samarkan sebagaimana samarnya kepentingan individu atau kelompok terselip dalam kepentingan umum tersebut. Siapa korbannya.? Korbannya tentu mereka yang cukup polos dan tulus yang telah menjadikan dirinya sebagai volunter dari kepentingan tersebut. Baik Volunter secara langsung maupun volunter secara tidak langsung.

Dari pengamatan penulis terhadap perkembangan informasi di medsos, psikologis masyarakat sangat mudah di permainkan terlebih dalam keadaan bencana. Jika yang di informasikan adalah tentang kesedihan lalu kesedihan tersebut dikemas dengan ketidakhadiran pemerintah, maka informasi tersebut menjadi sangat laku. Masyarakat yang secara psikologis sedang traumatik dimana sesungguhnya mereka sangat pula mudah di naikkan tensi emosinya hanya dengan sulutan kata-kata, langsung menjadikan dirinya sebagai volunter (setidaknya volunter di medsos dengan menyebarluaskan info tersebut tanpa mengkroscek kebenaran informasi yang disuguhkan). Hal demikianlah yang penulis katakan sebagai kepanikan politis, kepanikan secara sengaja di ciptakan dengan memanfaatkan psikologis masyarakat.

Apakah ada yang tega memfaatkan momentum bencana untuk kepentingan pribadi atau kelompok.? Penulis ingin mengatakan bahwa kemungkinan akan adanya hal tersebut cukup besar untuk terjadi. Seba itu penulis meminta masyarakat memposisikan diri sebagai masyarakat yang cerdas. Masyarakat yang tidak mudah emosinya tersulut oleh riak-riak informasi yang berkembang. Dan masyarakat pun harus memahami bahwa dalam penanganan bencana HUMAN ERROR pastilah terjadi, maka informasi langsung dari masyarakat cukup membantu memperbaiki human error tersebut jika disampaikan secara langsung bukan melalui Medsos.

Esensinya kehadiran Pos Komando ketika bencana terjadi dimanapun tempat dan daerahnya adalah untuk memperbaiki human error dilapangan. Memberi informasi human error di Medsos malah akan menciptakan human error baru. Inilah penyebab terjadinya kekurangan logistik di tengah surplusnya bantuan yang masuk ke kota bima. Ada pendistribuan logistik secara ganda (double) ke korban. Relawan yang satu dengan yang lainnya tidak terkoordinir dengan baik. Berdasarkan informasi daerah terparah, lalu mendistribusikan bantuan ke daerah yang dimaksud. Terjadi ketidakadilan dan pemerataan pendistribusian pembagian bantuan (logistik). Maka penting pula bagi relawan memahami psikologis korban bencana untuk menghindari perasaan emosional ketika bertemu para korban.

Penulis ingin mencontohkan secara sederhana, ketika satu relawan turun ke lokasi lalu bertemu dengan korban dan korban mengatakan belum dapat bantuan. Jika perasaan emosional yang di kedepankan olen relawan, perasaan tersebut melahirkan sebuah informasi dimana informasi tersebut ternarasikan dengan baik di medsos yang kemudian menarik relawan lain untuk hadir secara berbondong-bondong. Di sinilah letak human errorNya.

Tentu penulis memiliki alasan, mengatakan kemungkinan terjadinya pemanfaatan bencana untuk menciptakan kepanikan politis. Alasan tersebut muncul ketika penulis mencoba mengikuti perkembangan di medsos. Sangat banyak relawan yang telah melibatkan dirinya membantu para korban. Selain membantu para korban, secara langsung para relawan juga telah membantu meringankan tugas-tugas pemerintah. Banyak relawan yang berbuat tanpa berusaha menyudutkan dan menyalahkan pemerintah. Sebagian dari mereka mendistribusikan bantuan ke korban secara langsung sebagian lainnya mempercayakan pendistribusian bantuan kepada pemerintah (pos komanda), sebagian mereka tidak menampilkan identitas diri sebagian dari mereka juga menampilkan identitas diri dalam memberikan atau mendistribusikan bantuan. Apakah hal demikian salah? Hal demikian sangat-sangatlah dapat di benarkan sebab dalam urusan kemanusiaan, kita tidak bicara benar atau salah melainkan lebih dulu melakukan upaya penyelamatan kemanusiaan. Yang tidak boleh dilakukan adalah mencoba menghegemoni kebenaran diri bahwa diri dan kelompok tertentu yang paling benar dan paling nyata berbuat.

Selain dari tipikal di atas, ada pula tipikal relawan yang hadir bagaikan Hakim. Mencoba mendiskreditkan peran-peran pemerintah tanpa berpikir bahwa korban banjir bandang kota bima lebih dari 100 ribu jiwa dimana penanganannya tentu tidak begitu mudah sebagaimana yang di pikirkan dan di inginkan. Angka rasional yang mampu di jangkau oleh para relawan berkisar di angka 25%-30%, tentu yang menjangkau sisa korban 70% bukanlah setan atau malaikat melainkan pemerintah.

Relawan emosional inilah yang penulis katakan relawan kaget. Relawan lebay relawan puber relawan yang mencoba mencari popularitas dengan menciptakan kepanikan politik. Relawan yang selalu merasa benar dari yang lain bahkan dari pemerintah (BNPB,TNI, POLRI, TAGANA, DLL) yang setiap tahunnya di latih untuk menghadapi dan menangani bencana di bawah Payung Undang-undang.

Tidakkah mereka menyadari bahwa sangatlah tidak etis dalam keadaan duka, kita mencoba mencari kambing hitam.?

Penangan bencana tidak semudah yang kita pikirkan. Ada metode standar dan pola baku yang menjadi acuan penanganan bencana. Mengedepankan perasaan emosional tidak akan mampu menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah.

Untuk mengakhiri catatan ini, penulis ingin mengatakan bahwa para korban tidak akan menutup kemungkinan melakukan swepiing, penjarahan atau perebutan logistik terhadap logistik bantuan pemerintah atau bantuan relawan itu sendiri jika kita masih terus menerus menarasikan bahasa-bahasa kepanikan yang dapat menyulut emosi korban. Hati-hatilah.! Sebagai relawan, para relawan tidak saja membantu memberi dan mendistribusikan logistik akan tetapi juga memiliki peran penting dalam menenangkan dan mengembalikan psikologis korban.

Jika ada yang tersinggung saya minta maaf terlebih dahulu. Saya hanya menulis apa yang saya yakini berdasarkan perkembangan informasi di medsos dan fakta yang saya temukan di lapangan. Silakan lakukan bantahan dengan cara yang sama sebagaimana para pendahulu kita telah membudayakannya.

Sekian..!!!! () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru