Menelusuri Sejarah Makam Keramat Songak


KM. Sukamulia – Makam Keramat Songak merupakan salah satu peninggalan sejarah dan budaya dari masa perkembangan awal agama Islam di pulau Lombok, khususnya di wilayah Lombok Timur. Keberadaan makam ini kami diketahui oleh warga Desa Songak dan sekitarnya sudah sejak lama, demikian pula dengan cerita yang tersimpan pada situs sejarah islam ini. Kami mengetahui keberadaan makam ini dari saudara Sepul Haqqul Yakin. Mendengar cerita dari saudara Saepul, selesai mengikuti Saresehan Budaya dalam Even Bejango Bliq Songak (26/12/2016) kami pun melakukan penelusuran ke makam keramat tersebut guna mengetahui lokasi dan segenap cerita yang berkaitan dengan keberadaan makam tersebut.

Di Pulau Lombok terdapat banyak makam keramat yang hingga saat ini masih eksis dan banyak pula yang belum diketahui bagaimana sejarah keberadaannya. Salah satu makam keramat yang keberadaannya cukup lama dan belum begitu dikenal oleh publik adalah Makam Keramat Songak. Mengenai kekayaan sejarah dan budaya Lombok yang satu ini, awalnya kami mengetahui keberadaannya dari saudara Saeful Haqqul Yakin (Pemuda Songak). Informasi yang kami dapatkan dari pemuda yang sekaligus merupakan budayawan muda Desa Songak tersebut membuat kami merasa penasaran dan kami pun melakukan penelusuran guna mendapatkan informasi lengkap terkait dengan makam tersebut.


Penelusuran kami lakukan bersama Ust. Rusli, Badri, Sahlim serta saudara Saepul Haqqul Yakin yang menjadi juru tunjuk kami. Makam Keramat Songak berada di Dusun Songak Timur Desa Songak Kecamatan Sakra Pusat Kabupaten Lombok Timur. Makam ini berada sekitar 500 meter di sebelah timur Masjid Kuno Songak atau dengan jarak tempuh sekitar 18 menit (dengan berjalan kaki).

Kami memulai penelusuran dari Masjid Kuno Songak, dari sana kami berjalan kaki menelusuri perkampungan Dusun Songak Timur. Keluar dari perkampungan, kami berjalan menelusuri persawahan dan ahirnya kami sampai jua di lokasi makam keramat itu. Aura mistik di sekitaran makam ini cukup kuat dan kami

Setelah melakukan penelusuran bersama kawan-kawan pencinta sejarah dan budaya lokal Sasak, kamipun mengetahui bahwa Makam Keramat Songak adalah sebuah tempat yang merupakan salah satu kekayaan sejarah budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Songak Kecamatan Sakra Timur. Keberadaan makam ini tidak terlepas keberadaan Masjid Tua Songak yang disebut juga dengan nama Masjid Bengan Songak.

Benda cagar budaya tersebut merupakan dwi tunggal bagi masyarakat Desa Songak. Bagi masyarakat Desa Songak, masjid adalah tempat sujud dan makam adalah kisah terahir dari perjalanan hidup sang hamba. Kedua hal ini merupakan satu kesatuan bagi kelanjutan hidup manusia, jika ini bisa kita kaji secara benar Insya’alloh kita akan selamat dan bahagia dunia wal akhirat.


Menurut informasi yang kami terima dari warga sekitar, keberadaan makam ini tidak dapat dipisahkan dengan Masjid Pusaka Sonngak. Konon, pada zaman dahulu di sinilah biasanya para wali sembilan bersemedi baik secara bersama maupun secara perorangan. Menurut beberapa sumber, para wali datang melalui tempat ini yang kemudian ditandai dan selanjutnya para wali pun pergi meninggalkan desa ini melalui tempat ini juga (Makam Keramat Songak) sebab itulah masyarakat setempat mempercayai tempat ini sebagai tempat yang munazab untuk melakukan permohonan kepada Yang Maha Kuasa (tempat berdoa).

Tidak lengkap rasanya jika kami tidak menceritakan bagaimana awal mula keberadaan Makam Keramat Songak ini. Berdasarkan cerita yang kami dapatkan dari masyarakat sekitar, Makam Keramat Songak adalah peninggalan islam yang keberadaannya diperkirakan ada sejak ahir abad ke 13 M. Makam ini  merupakan tempat moksa atau menghilangnya Dewi Singa Mong Mertha Tilar Negari yang merupakan putri dari Datu Meraja Kusuma (Raja Selaparang). Dewi Singa Mong Mertha Tilar Negari adalah istri dari Raden Mas Pangeran Komala Jagat yang berubah nama menjadi Abdul Razak Tas’at setelah lama berguru kepada Ki Sanga Pati yang merupakan penyebar islam yang ada di Desa Songak.

Cerita mengenai asal muasal keberadaan makam ini cukup panjang sehingga kali ini kami hanya akan memaparka cerita singkatnya saja. Ceritanya seperti ini kawan… Datu Meraja Kusuma mempunyai seorang putri yang cantik jelita, ia bernama  Dewi Singa Mong Mertha Tilar Negari. Pada saat sang puteri berusi 17 tahun, datanglang seorang pemuda pengembara menyuntingnya. Pemuda itu menamakan dirinya Jagat yang kedepannya disebut dengan nama Raden Mas Pangeran Komala Jagat. Perlu diketahui bahwa Raden Komala Jagat merupakan putra dari Dewi Qomariah (Dewi Anjani  dan Gauz Abdur Razak) namun Datu Meraja Kusuma tidak mengetahuinya dan sebab itulah beliau tidak menyetujui hubungan mereka.

Konon, Datu Meraja Kusuma tidak menyetujui hubungan puterinya dengan pemuda yang bernama Jagat itu. Beliau murkan dan kemurkaannya itu menyebabkan beliu bertitah kepada Patih Kuntalan untuk membunuh kedua puterinya dan Jagat. Datu Meraja Kusuma menitahkan kepada patih Kuntala agar ke dua pasang manusia yang memadu kasih ini dibunuh di tempat yang jauh dari pusat kerajaan dan Patih Kontalan harus membawa bukti berupa dua pasang matanya di bawa ke hadapan Datu Kusuma.

Patih Kontalan merasa tidak tega untuk membunuh kedua orang itu dan atas rasa sayangnya maka beliau membawa Dewi Singa Mong dan Jagad untuk menjauh dari pusat Kerajaan Selaparang. Ketiga orang ini pun berjalan menelusuri pantai timur pulau Lombok hiungga sampai pada sebuah tanjung. Di sana lah ketiga insan ini saling tangis. Selanjut nya tempat ini di abadikan denan nama Tanjung Menangis (pantai sekitaran Pringgabaya). Perjalanan pun dilanjutkan ke arah selatan hingga menemui muara kali Maronggek (wilayah Sakra) di sana lah mereka meninggalkan pantai dengan menyusuri hulu sungi tersebut. Sesampai di Tibu Rundun, ketiga orang ini paun naik meninggalakan sungai. Ahirnya mereka menemukan sebuah bangunan tua yang dihuni sembilan orang dengan rumah berjejer. Tempat inilah yang kemudian disebut dengan nama Desa Songak.

Patih Kontalan menitipkan Dewi Singa Mong dan Raden Jagad kepada penghuni pemukiman tersebut dan beliau kembali ke Selaparang dengan membawa dua pasang biji mata kambing hitam yang nantinya akan diserahkan kepada Datu Meraja Kusuma dengan pengakuan bahwa mata itu adalah biji mata dari Dewi Mong dan Raden Jagat yang telah dibunuhnya.

Sepeninggal Patih Kontalan, Dewi Mong dan Raden Jagat menetap bersama Sembilan orang yang ada di pemukiman tersebut. Sembilan orang itu disebut Sanga Pati atau Sembalin Wali. Sanga Pati lah yang kemudian memelihara sepasang kekasih itu yang ahirnya Raden Jagat diangkat menjadi murid oleh Sanga Pati.

Waktu terus berputar konon Komala Jagat diangkat sebagai bagian dari Sanga Pati sebagai pengganti dari salah seorang dari Sanga Pati yang pada saat itu kembali ke Jawa. Sedangkan sang ibu (Dewi Singa Mong) dipanggil mertuanya (Dewi Anjani) untuk menetap digunung Rinjani untuk mengurus kerajaan Arwan di Puncak Rinjani. Sebelum, berangkat memenuhi panggilan mertuanya, Dewi Singa Mong pamit kepada anak cucunya yang ada di sebengak (wilayah Desa Songak) dengan alasan dia akan pergi sementara, jika nanti dia tidak kembali tapi dia tetap akan melindungi anak cucu dan seluruh keturunannya sampai dunia berahir.

Dewi Singa Mong pergi dengan meninggalkan wasiat “jika saya tidak kembali, tapi kalian ingin bewrtemu aku, datangilah saya ketempat saya menghilang melalui masjid Pusaka dengan membawa apa adanya jangan memaksakan diri atau dipaksa siapapun”. Setelah itu beliau pergi ke tempat pertapaan Sanga Pati yang berada di sebelah timur Masjid Bengan Songak. Di tempat itulah Dewi Singa Mong menghilang dan tidak kembali lagi sehingga anak cucunya membuat pertanda di tempat itu dan tempat itulah yang kemudian dijadikan sebagai Makam Keramat Songak sebagai pertanda atau pengingat bahwa di sanalah Dewi Singa Mong atau leluhur masyarakat Songak itu menghilang.


Kisah inilah yang melatar belakangi acara ngayu-aytu yang saat ini dikenal dengan nama ritual Bejango yang dilaksanakan setiap Senin dan Kamis bagi. Dan sejak 5 tahun yang lalu, masyarakat Desa Songak menyelenggarakan Even Bejango Bliq sebagai acara tahunan untuk mengingat leluhur mereka dan sekaligus melakukan kunjungan masal ke Masjid Kuno Songak dan Makam Keramat Songak.

Yach… demikianlah sejarah singkat keberadaan Makam Keramat Songak yang kami dapatkan setelah melakukan penelusuran. Perlu juga diketahui bahwa aura mistis di sekitaran makam tersebut juga cukup kuat, yach mungkin saja karena itu adalah tempat mokasanya orang sakti dan tempat pertapannya orang-orang berilmu tinggi pada masanya.

Perlu juga kami sampaikan bahwa jika anda ingin berkunjung ke Makam Keramat Songak maka datanglah pada hari Senin dan Kami sebab selain hari itu anda tidak akan diperkenankan untuk masuk ke makam tersebut. Untuk mengunjungi makam ini, anda terlebih dahulu mengunjungi Masjid Bengan Songak dan dari sana anda berjalan menuju Makam Keramat dengan dibawa oleh pemandu. Anda juga tidak akan bisa masuk ke makam tanpa persetujuan penunggunya (Bapak Murdia).

Di dalam makam pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan pakaian yang tidak layak dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Jika berkunjung ke makam maka di dalam makam anda harus melakukan ritual dzikir dan doa dan barulah anda boleh masuk ke makamnya. Pokonya harus perhatikan kesopanan demi keselamatan dan kenyamanan anda dalam melakukan kunjungan.

_By. Asri The Gila_ [] - 03

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru