Siswa Sebagai Penilai Dan Evaluator Autentik Pendidikan


Siswa sebagai objek dalam pendidikan terkadang harus menjadi bulan bulanan pelampiasan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru.

Tetapi pada kenyataannya kebanyakan dari guru hanya melihat siswa sebagai suatu beban dan kewajiban yang harus dituntaskan agar mencapai kompetensi yang diinginkan, terlepas apakah siswa itu sudah mahir dan mampu atau tidak. Tak banyak dari guru yang ingin mendalami apa keinginan siswanya, sehingga banyak siswa menyatakan kejenuhan dan kebosanannya terhadap guru ataupun mata pelajaran yang diajar oleh guru.

Kebanyaka
n siswa yang ditemui, selalu menjawab dengan jawaban polos tapi jujur, ketika diberikan pertanyaan “mengapa kamu tidak suka dengan guru itu”? aaaahhh males nulis terus, dikit dikit nyatet buku, atau istilah kerennya CBSA(catat buku sampai abis), ngga pernah dijelaskan apa yang dah dicatet, ga ngerti apa yang dijelaskan, ga nyambung bahasanya, kita nanya ga bisa dijawab, malah disuruh jadi PR. Dari sekian banyak jawaban  yang telah disampaikan oleh siswa, secara garis besar dapat dikatakan, siswa lebih memahami konsep kekinian dengan mengedepankan teknologi yang up to date. Apalagi  tontonan dan hiburan yang diterima selalu mengarahkan anak agar lebih bersosialisasi dengan kehidupan luar yang tergolong asing dengan lingkungan mereka.

Beberapa guru mengatakan bahwa siswa tidak boleh mengritik metode guru. Pertanyaannya adalah ketika siswa merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan guru dan tidak paham kemana arah pelajaran yang disampaikan, apakah siswa juga harus disalahkan? Sungguh tidak adil rasanya jika semua itu harus dikembalikan pada siswa. Padahal teori Behavioristik menyebutkan bahwa perilaku siswa cenderung akan mengikuti keteladanan yang dimpilkan oleh sosok yang menjadi model pembelajaran dihadapannya karena lebih pada pembiasaan . Penjelasan lebih lanjut juga menegaskan segala sesuatu yang akan disampaikan nantinya setelah sekolah merupakan implementasi dan bentuk sederhana dari daya serap ilmu pengetahuan yang dimiliki siswa.

Ada istilah baru dari serapan ilmu agama yang diperlengkap oleh beberapa pemerhati pendidikan yang menyebutkan, Tuhan memberikan ujian pada umatnya sesuai dengan kemampuannya, tapi Guru memberikan ujian pada muridnya jauh melewati kemampuan otak siswanya. Lucu ya. (kara) -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru