MTQ dan Pesan Presiden: Inspirator Generasi Muda

Kemegahan dan kemeriahan serta antosiasme masyarakat Nusa Tenggara Barat dalam acara pembukaan MTQ ke 26  yang dipusatkan di Islamic Centre menjadi tanda kebesaran  dan kecintaan Umat Islam di NTB, bukan saja warga Kota Mataram yang berdatangan ke lokasi MTQ, melainkan seluruh NTB  dari ujung Barat Ampenan (Mataram) sampai  ujung Barat  Sape Pulau Sumbawa Kabupaten Bima berdatangan meyaksikan MTQ yang secara langsung di buka oleh Presiden RI (Jokowi Dodo). Kehadiran  Presiden RI yang kesekian kalinya di NTB bukann tidak membawa pesan dan kesan bagi masyarakat NTB secara eksplisit  pesan Presiden RI terkandung beberapa makna yang secara khusus Presiden mengungkap beberapa idealitas dan realiatas  yang terjadi dimasyarakat dan bangsa kita hari ini, sebut saja apa yang terjadi di media sosial dan dunia maya Presiden menyangkan masih banyak orang saling mencela mengumpat, merendahkan orang lain serta menjelekkan orang lain. Dan nilai sopan santun hilang dan diabaikan. Ungakapan kebencia itu semakin pedas dan menghebat saat terjadi kontestasi politik, seperti pemilihan Bupati, Walikota, Gubernur dan Pilpres serta Legislatif yang akibatnya hilang rasa persaudaraan, orang tidak lagi melihat sebagai sahabat, saudara, teman dan mitra. Melainkan dianggap sebagai musuh dan harus dihabisi . Wajar saja Presiden menyampaikan realitas sosial kehidupan hari ini. sebab hampir merabah diseluruh segmen kehidupan masyarakat, bukan saja politisi, birokrasi,pengusaha, pelajar, mahasiswa dan bahkan dimasayarakat paling bawah. Mungkin saja suatu saat nanti akan merambah kepada para tokoh agama yang kita anggap sebagai pengayom dan panutan bagi jamaahnya dan umat Islam. 

Dalam konteks MTQ ke 26 ini Presiden juga menaruh harapan besar secara idealitas bahwa MTQ sudah membudaya ditengah masyarakat, selain berkembang  dari segi syariat dan kualitas penyelenggaraanya dapat mewarnai  wajah umat Islam dan bangsa Indonesia. Wajah Islam Indonesia yang  ramah, toleran dan moderat serta   saling tolong menolong menjadi obat yang mujarab bagi bangsa di dunia, sebab bangsa-bangsa lain di dunia masih mencari-cari formula Islam yang ideal. Bukan itu saja bangsa-bangsa lain harus melihat dan belajar di Indonesia dan sudah saatnya  bangsa Indonesai menjadi sumber pemikiran Islam dan  sumber peradaban  islam  di dunia. Landasan Presiden RI melihat Kekuatan Islam Indonesia yang direpresentasikan oleh organisasi kemasyarakat, seperti Nadlatul Ulama, Muhammadiyah dan Nadlatul Wathon  menjadi model yang mewarnai kehiduapan berbagsa dan bernegara. Begitu  dahsatnya pemikiran dan gagasan besar para pendiri organisasi Islam terbesar di Indoesia, mencinta  dan melindungi Negaranya.  Hal yang sama juga dilakukan oleh para Wali songo yang menyiarkan Islam di Indonesa, dengan pendekatan budaya dan kemanusian yang paling diutamakan, maka alhasilnya Indonesai  menjadi muslim terbesar  ketiga didunia, bukan itu saja para wali songo telah meninggalkan warisan tradisi keIslaman yang kuat dan kokoh dimasyarakat. Tradisi yang ditinggalkan oleh para Wali Songo mengokohkan kekuatan Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Dan  ini lah yang dilanjutkan oleh para Ulama besar  di Indonesia, seperti Hodratusyaikh  KH. Hasyim Asy’Ari, (Nadlatul Ulama),  KH .Ahamad Dahlan  (Muhammadiyah)  dan Hodratusyaikh KH. Muhammad  Zainuddin Abdul Majid (Nadlatul Wathon) yang telah mengobarkan panji ke Islaman yang ditandai dengan cinta tanah air ( Hubul wathon minal iman). Bagi generasi Islam masa kini, bahwa wajah Islam  yang diajarakan oleh para ulama terdahulu, sejatinya menjadi modal dan kekauatan terbesar bagi umat Islam. Wajarlah jika para pendiri Organisasi Islam terbesar di Inodonesai menyediakan wadah dan kelembagaan pendidikan sebagai pusat peradaban Islam yang memberikan pembelajaran dan penguatan ke Islamanabagi generasi Islam yang melanjutakan studi baik di tingkat dasar, menengah samapai di perguruan tinggi.

Jika ditarik  dari sudut pandang ke –NTB- an, maka MTQ ke 26 adalah titik balik dari kegembiraan dan senyuman masa lalu masyarakat NTB menyambut dan memeriahkan MTQ pada tahun 1973 yang pada saat itu masyarakat NTB. secara suka rela  menyediakan  rumah untuk   kafilah se kafilah se Indonesia. Kegegembiraan dan senyum yang sama ditampakkan oleh oleh masyarakat NTB dalam menyambut  MTQke  26 dengan penuh suka cita memadati arena MTQ sampai malam perlombaan.  Bukanlah sesuatu yang  tanpa dasar, kegembiraan dan senyum masyarakat  Kota Mataram dan masyarakat NTB pada umumnya, mengapreresiasi MTQ kali ini dilandasi oleh se semangat ke-Islaman yang ditanamkan yang  oleh para ulama (Tuan Guru) yang menjadi simbol panutan. Jika melihat Kota Mataram sebagai tuan rumah MTQ, maka kita akan melihat sejarah perjuangan para Tuan Guru , sepe, seperti TGH Hanan (Dasan Agung). Tuan Guru Abhar Pagutan dan nmasih banyak lagi Tuan Guru di Kota Mataram yang telah mengabdikan dirinya untuk masyarakat, membimbing dan  merawat tardisi Islam yang santun, ramah dan toleran serta moderat. Sepenggal cerita sejarah  keIslaman di Kota Mataram dan NTB pada umumnya, tentu banyak lagi para Tuan Guru yang ada di NTB yang telah menanamkan nilai-nilai keIslaman yang kokoh disertai dengan pengabdian yang tulus terhadap bangsa dan Negara, seperti Tuan Guru Mohammad Saleh Hambali (Lombok Barat), Tuan Guru Muhammad Faesal di Lombok Tengah dan Tuan Guru Umar Kelayu di Lombok Timur serta Tuan Guru Abdul Gani di Kabupaten Bima.  Inilah buah dari perjuangan para ulama dan Tuan Guru yang ada di NTB melahirkan generasi dan tokoh  Islam yang ada di NTB.

Jokowi Dodo Inspirator

Teringat ketika, pemilu presiden tahun 2014 Lombok Post TV mengundang para Tokoh Muda berdiskusi dalam diolag Politik menjelang Pemilihan Presiden. Hadir sebagai pembivcara ketua KNPI NTB Sulhan Mukhlis, Ketua Pemuda NW (Ahmad Syarif Husen dan penulis sendiri sebagai Ketua GP Ansor NTB yang sdipandu oleh Wartawan Lombok Post Kusmayadi. Dalam dialog tersebut diawali dengan pancingan pertanyaan “ siapakah Presiden Pilihan Kaum Muda “ pertayaan sang moderator memancing suasana dialog semakin hangat dan mengarah kepada masing-masing pembicara yang kebetulan dari tiga pembicara 2 orang yang mendukung  Jokowi  yakni Sulhamn Mukhlis dan Penulis sendiri ,sedangkan  Ketua Pemuda NW  Ahmad Syarif Husen mendudkung Prowobo. Dari perdebatan  dan perbincangan   yang cukup hangat penulsi sendiri mencoba menjawab secara jenaka “ bukankah Jokowi hampir mirip dengan gaya TGB?. Bisa dilihat dari cara kedua pemimpin ini, sebut saja TGB sebagai Gubernur NTB yang sehari-hari sebagai Gubernur menjalankan rutinitasnya, tetapi tetap menyempatkan dirinya hadir ditengah masyarakat dalam pola pendekatan melalui ,majlis pengajian dan hampir setiap minggu dulakukan oleh TGB ,selain menjadi khotib dibeberapa Masjdi TGB juga memberikan pengajian rutin di Jamaahnya yang hadir ribuan orang dan ini dinilai cukup efektif dalam menyampaikan informasi pembangunan   sekaligus mengajak masyarakat . Hal yang sama juga dilakukan ole Ahyar Abduh sebagai Wali Kota Mataram, menyambangi masyarakatnya  di malam hari tanpa konfermasi. Dan ini dilakuan  hampir setiap  malam menyeleleaiakan masalah masyarakat dan  kepepentingan warga Kota silaturahmi.  Dari rekam jeDari rekam jejak para pejak para pemimpin kita ini,  dari Jokowo Dodo , TGB dan Ahyar Abduh,bisa menjadi pebisa menjadi pemimpin dengan ciri dan kraktengan ciri dan krakter yang berber yang berbeda-beda-beda. Lalu pertanyaan kita adalah bagaimana dealu pertanyaan kita adalah bagaimana dengan gengan genenerasi serasi selanjutnya. Wallahua’lam bissawab. () -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru