Deradikalisasi di NTB: Tuan Guru dan Ponpes Kemana?

Posisi NTB dalam pandangan BMPT RI terkait dengan jaringan teroris (ISIS), sebagaimana yang telah diungkapkan oleh BMPT RI, bahwa ada beberapa pondok pesanteren yang teridentifiaksi memilki hubungan idiolgi yang sacara langsung terkait dengan ISIS dan teroris yang akhir-akhir ini masih dalam situasi yang disebut oleh Menkolhukam dalam kondisi bahaya dan kewaspadaan. Mencermati situasi  berbagai isu dan yang berkembang terkait dengan posoisi NTB yang disebut-sebut termsuk daerah yang upaya deradikalisasiNya yang belum berdanpak, sehingga terindiaksi beberapa pondok pesantern di wilayah NTB masih dianggap memiuliki kedekatan kuat dengan jaringan teroris/ISIS, mengapa demikian?. Jumlah pondok pesanteren di NTB lebih dari seribu dan jumlah TGH hampir sama dengan jumlah pondok pesantren, jika ditelusuri seberapa efektif peran pondok pesantren dan kehadiran para Tuan Guru sebagai kekuatan moral agama dalam upaya meminimalisir idiolagisasi yang dilakukan oleh kelompok teroris/Isis di NTB. Belum lagi pondok pesantren dibwah pembinaan dan koordinasi langsung dengan Kementerian Agama NTB yang selama ini disebut- sebut  telah banyak melakukan pembinaan terkait dengan program deradikalisasi. Bisa dibayangkan anggaran yang digelontorkan mencapai 1M dari kementerian Agama NTB dan belum lagi anggaran yang dikeluarkan oleh BMPT RI melalui FKPT NTB dengan program yang sama, yakni sosialisasi dan pembinaan terhadap pondok pesantern terkait dengan deradilkalisasi.

Apa yang salah dari pola pembinaaan dan peranserta pondok pesentern beserta para Tuan Guru sekaligus sebagai tokoh agama yang memiliki jamaah yang banyak. Ini yang harus dievaluisi secara bersama-sama, jika tidak ingin NTB yang selama ini disebut sebagai daerah yang dijuliki seribu masjid seribu pondok dan seribu Tuan Guru. Bagaimana dengan kehadiran Pemerintah derah terkait dengan program deradikalisasi dan menipis anggapan bahwa NTB adalah bagian dari jaringan teroris/ Isis  yang sudah lama terbangun. Harus diakui bahwa ternyta pemerintah NTB absen dalam program deradikalisasi, terbukti dari beberapa tahun terakhir ini program yang disebut dengan penguatan dan pembinaan tokoh agama terkait dengan program deradikalisasi di NTB cukup minim dan bahkan tidak terakomodir dalam anggaran APBD NTB, bisa dilihat dari beberapa tahun anggaran yang sevara spesifik yang menyebutkan bahwa keikutsertaan  npemerintah dalam hal program deradilkalisasi tidak terbukti.

Jaringan Teroris di NTB

Memahami jaringan terorism, tidak terlepas dari kehadiran ustadz Abu bakar Ba’syir yang diangkakan sebagai tokoh islam radikal (teroris)karena disebut-sebut sebagai tokoh jamaah islamiyah dan memilki hubungan dengan Umar alfaruq. Sedangkan jamaah Islamiyah (JI) adalah kelompok Islam islam Radikal dan ditengarai sebagai jaringan Alqedah di Asia Tenggara.

Secara geografis posisi NTB yang terdiri dari dua pulau lombok dan sumbwa, secara krakteristik geonolgis NTB juga termasuk ras malenisia, terlepas dari dua kondisi tersebut,jika ditrelusuri jejaring dan pintu masuk jaringan teroris bisa disebut dan masuk di NTB. Dari kondisi sosial keagamaan dan tingkat kesejahteraan masyarakat NTB, sangatlah tidak mungkin jika NTB bisa menjadi bagian dari jaringan teroris, namun, jika dilihat dari beberapa situasi yang membuktikan bahwa NTB sangatlah mudah menerima bagian dari idiolgisasi, sebut saja dipondok pesantern tripat Lombok Timur dan Pondok Pesntren Abu.... di BIMa, misalnya melaluil jalur darat, laut dan udara, dimungkinkan bisa masuk di pulau seumbawa, sebut saja beeberapa tahun yang silam Abu Bakar Ba’syir bisa masuk di bima, melakukan pengajian umum. dan baru-baru ini muncul lagi jaringan baru pondok pesantren bahrul ulum lombok Utara, dan hal yang sama Abu Bakar Ba’syir juga pernah memberikan ceramah agama di ponpes darul ulum lombok utara. jika dilihat dari kondisi eksistensi pondok tesebut secara idiologi dan ajaran yang sejatinya dipelajari oleh para santrinya, berbeda jauh dengan kebiasaan pondok pesantren yang dimiliki oleh NU dan NW yang ada di NTB.

Melumpuhkan Tuan Guru   

Kelemahan yang selama ini, yang selalu datang disebut NTB selalu kecolongan dan lemah dalam pengwasan dan pembinaan aliran yang secara agama bertentangan dengan ajaran  Islam yang Rahmatan lilalamin, ternyata bisa menyimpan dari kekuatan yang dimilki oleh para ulama/ TGH yang ada di NTB, mengapa bisa erjadi demikian rapuhnya posisi Tuan Guru yang sesungguhnya menjadi tauladan dan pusat pembinaan keagamaan bagi para santri dan jamaah disekitarnya. Inilah yang menjadi konsens sesungguhnya oleh pemerintah daerah, jika psisi tuan guru tidak dilumpuhkan oleh kekeuatan yang bernama idiolgisasi radilaisme yang suddah berjalan- bertahun-tahun di NTB. 

Upaya pelemahan peran Tuan guru sesungguhnya tidak disadri oleh para Tuan Guru itu sendiri dan pemerintah-pun, menjadi bagian yang melemahkan Tuan Guru, bagaimana tidak Tuan Guru hanya dimanfaatkan dalam suatuasi politik saja. Dan selain itu, sering jkali pemrintah hadir terlambat dan tidak menyiapkan perangkat kelembagaan yang memberikan ruang bagi para Tuan Guru untuk menjadi totor yang secara vis to vis dengan jamaahnya menjelaskan terkait dengan bahaya radikalisme. Terlepas dari kekuatan ormas terbesar di NTB NW dan NU, yang telah menjaga moral agama dan NKRI selama ini di NTB, harulah disadari bahwa kelemahan yang dimliki, bukan semata-mata dari kuantiutas, melaingkan kualiatas keberpihakan para Tuan Guru terhadap deradikalisasi di NTB masih minim,  jika itu benar apa yang salah dari metode dan peran serta para Tuan Guru, jika upaya deradikalisasi optimal dilakukan di NTB melalui para tokoh agama dan para Tuan Guru. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru