Salam Rindu Dari Putra-Putrimu

Sejauh apapun kaki melangkah, rindu akan kembali membawanya dekat, menempuh sekian laksa perjalanan, merekrut jarak, lalu tunduk pada pemukiman semi rimbun rembang sebuah pematang di mana kita berkumpul bersama, berbagi suka juga duka.

Perihal yang jatuh itu, Pua, barangkali gerimis agustus yang kelewat panjang hingga paritnya sampai kepada september.
Kehilangan kali kedua, sepi yang tiba-tiba, lalu amarah hampir buta ketika dadamu di-ingkari musim kecil dari yang telah kau semai. Ia merah, bahkan nyaris lebam di mataku. Tetapi arif itu kau katakan, "inilah Pua sebagai batu asah, Ananda."

Aku tidak sedang mencemaskan kesedihan, Pua. Tetapi berjalan menuju pulang, berkumpul dengan yang lain dan menunggumu dalam petuah-petuah berikutnya. Nasehat-nasehat selanjutnya.
Cukup gelap ini hampir membekap sebagian ruang dari dadaku meski tak se-duka dahulu.

"Sebab kesedihan juga suka, adalah rangkaian hidup yang tak bisa dipisahkan dari manusia, Nanda. Dan pada kehilangan, semua akan merasakan."
Seperti itu, sekalimat yang hingga kini menjadi penguat untuk anandamu yang rapuh. Hatur kasih, Pua. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru