Pentingya Membangun Jati Diri Bangsa

Kota Bima. Membangun jati diri bangsa tidak cukup hanya wacana, tidak cukup hanya rencana, dan teori. Membngun jati diri butuh proses dan pengembangan, sebab dia terpancar dari hati nurani, yang diaktualisasikan dalam pemikiran, sikap dan perilaku.

Saya tidak ingin terjebak dalam pembicaraan system nilai, apa itu nilai atau hal- hal yang teoritis tentang masalah tersebut. Saya menginginkan, jati diri bangsa yang didengungkan yang di dalamnya terdapat nilai tertentu, sebagai bangsa dan warga masyarakat di Indonesia, mulai dari yang mengenal huruf sampai kepada ilmuwan, mulai dari lapisan bawah sampai lapisan atas memahamai tentang jati dirinya, menghargai jati dirinya,mempertahankan nilai jati dirinya dan mengimlementasikan, sehingga membawa manfaat untuk dirinya, masyarakat dan bangsanya.

Membangun jati diri bangsa,  harus dimulai dari diri masing- masing penghuni bangsa ini  Mulai dari rumah, lingkungan keluarga, lingkungan sosial, lingkungan dinas jawatan, lingkungan politisi, lingkungan sekolah dan lingkungan lainnya dalam berbagai aktifitas. Alasannya adalah, hidup tidak cukup orang perorang, orang tertentu, tetapi semua orang, semua kelompok. Mereka saling membutuhkan, mereka saling komunikasi, dan interaksi. Bukan bagian- bagian tertentu, bukan kelompok tertentu. Satu untuk semua, semua untuk satu. Dalam pengetian, membangun jati diri bangsa adalah membangun fondasi bangsa agar kokoh, kuat, tak tergoyahkan.

Kalau  kita membangun rumah,  bukan hanya atapnya yang dilihat, bukan juga temboknya, tetapi fondasinya, yang didukung oleh kualitas bahan dan ukurannya. Kalau kita membangun jati diri bangsa, pemikiran dasar kita adalah, kekokohan dan keutuhan. Kokoh, tidak bergeser dari prinsip, tidak pelin- pelan, memiliki komitmen, tidak mudah dipengaruhi, tidak mudah terprovokasi, bertanggung jawab, tidak bermuka dua, tidak mencari rejeki di atas penderitaan orang lain, tidak korupsi, tidak mengkomsumsi narkoba. Sebab apa yang diutarakan tersebut,  tabu untuk dilakukan.  

Membangun jati diri bangsa perlu menata diri melalui kaca mata hati dan kaca mata bathin. Bukan kaca mata rasa dan rasio. Kaca mata rasa,  pasti menurut rasa masing- masing. Maka lahirlah  perbedaan, lahirlah pertengkaran, lahirlah cara dan pola hidup yang berbeda- beda. Bentrok sana, bentrok sini. Hancurlah persatuan, hancurlah persaudaraan, pupuslah harapan mencapai kedamaian dan kesejahteraan.

Visi kita sama yaitu “ membangun masyarakat yang beriman, aman sejahtera, bahagia”. Untuk membangun dan merealisasikan visi tersebut, perlu menanamkan kecintaan dan pengabdian kepada Allah melalui kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sebagai orang yang beragama haram hukumnya, mengagungkan status, jabatan, kekayaan,  tanpa pengabdian kepada Allah. Wujudnya sangat sederhana yaitu meningkatkan kualitas iman melalui pemahaman dan pelaksanaan syariat agama dengan baik dan benar.

Jati diri bangsa adalah sebuah nilai yang tertanam dalam diri setiap orang, bukan kelompok orang. Peranan agama penentu bagi setiap orang dalam mengemudikan visi dan misi hidupnya. Agama sebagai sandaran hati untuk mencari makna yang dalam dari kehidupannya, selain sejahtera dan tentram.

Kita kadang- kadang alpa dan lupa rasa, bahwa   tentram, sejatera dan bahagia,  tercipta melalui materi. Tidak heran mehilangkan stress, kelelahan menneguk minuman keras, ganja, ke diskotik, hiburan malam. Pulang, tidur, selesai. Suara azan subuh ngorok, jangankan  membangunkan anak- istri untuk sholat subuh, orang tua sendiri bangun terlambat.

Dari kaca moral dan agama, jati diri bangsa sudah bergeser, dan rapuh. Pergeseran dan keraapuhan ini akibat dari dangkalnya pemahaman dan pelaksanaan syariat agama, disamping, sebagian kita menghamba pada materi. Orang berilmu, orang berpangkat,  terhina karena kerakusannya. Orang saling memamerkan kekuatan, saling memamerkan kedudukannya. Anak- istri dimanjakan dengan uang dan harta, lupa sholat, buta membaca Qur’an. Rumah dihiasi gambar porno, lagu- lagu pop dan dangdut. Suara baca Qur’an, tidak didengar. Ini yang diperagakan oleh sebagian orang sekarang.

(Urgensi Nilai Karakter Dalam Pembangunan Moral Bangsa oleh Drs. H. Anwar Hasnun). - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru