Kemana Kabar NTB Bumi Sejuta Sapi?

Lebih kurang satu tahun sudah pencanangan “Bumi Sejuta Sapi (BSS)” digulirkan oleh Gubernur NTB. Tepatnya pada tanggal 17 Desember 2008 menjadi saksi sejarah bagi masyarakat NTB, labih khusus lagi para peternak yang berada di pelosok dan daerah terpencil. Terobosan ini, bukanlah sebuah obsesi yang berlebihan. Jika ditelusuri potensi yang dimiliki daerah ini, memang diakui oleh daerah lain. Sejarah mencatat NTB adalah daerah penyuplai ternak yang paling anyak sejak zaman pra kemerdekaan. Apa yang telah dilakukan oleh Gubernur NTB menjadikan NTB sebagai pusat perdagangan dan pendistribusian sapi unggulan yang dikelola secara swakelola yang melibatkan stake holder dari pihak Bank sebagai penjamin.

Mengapa NTB mencanangkan program NTB Bumi Sejuta Sapi (NTB BSS)? Tentu pertanyaan ini akan terjawab jika kita sejenak mengupas secara sosialogis dan historis peternakan sapi di NTB. Sapi bagi sebagian besar masyarakat NTB dipandanganya bukan sekedar sebagai hewan peliharaan (ternak) untuk tujuan ekonomi semata, melainkan juga memiliki peranan penting dalam kegiatan adat, budaya dan religius. Hewan yang satu ini menjadi modal sosial yang hamper tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kehidupan ekonomi dan sosial budaya secara turun temurun. Dan bahkan melekat di dalam masyarakat dan menjadi pendukung utama aktivitas kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat NTB yang agaris dan religius, sapi (lembu) dan kerbau, termasuk kambing menduduki tempat yang istimewa dibandingkan hewan/ternak-ternak lainnya. Dalam bidang pertanian, hewan berperan mulai dari pengolahan lahan, pertanian, kemdian spesies ternak ini bermanfaat untuk pupuk dan ketika panen. Sapi atau kerbau memantu dalam hal pengangkutan (alat transportasi tradisional). Demikian pula dalam kegiatan sosial budaya (ritual adat dan acara agama), sapi dan kerbau bukan saja disembelih untuk pesta adat (ruwahan), sesajian dan lain-lain, melainkan juga tidak jarang menunjukkan status sosial. Misalnya pada ritual adat tertentu dengan menyembelih sapi akan menunjukkan status sosial yang lebih tinggi dibandingkan hanya dengan hewan atau menyebelih kambing atau ayam. Disisi lain, sapi atau lembu juga tidak jarang digunakan sebagai mas kawin pada adat perkawinan pada zamannya.

Namun, seiring perkembangan zaman, kini sapi mejadi salah satu koditi ekonomi tinggi sebagai sumber utama kehidupan masyarakat. Beternak sapi tidak lagi sekedar untuk kepentingan adat dan budaya yang dikelola secara konvensional, melainkan telah menjadi sebuah profesi dan komoditas ekonomi yang dikelola secara professional dan pendekatan agribisnis (baca:RPJMB NTB).

Secara historis, peternakan sapi telah mendarah daging menjadi suatu tradisi budaya yang dilakoni secara turun temurun oleh masyarakat NTB. Di Pulau Sumbawa, tradisi penggembalaan ternak sapi oleh masyarakat Samawa misalnya sejak zaman dulu dilakukan pada lahan yang luas dan dilepas secara liar pada areal yang disebut “Lar”. Di Bima dan Dompu-pun, pada zaman dulu seorang petani bisa memiliki ternak sapi atau kerbau hingga beribu-ribu ekor dengan cara melepas pada padang pengembalaan yang disebut “So”. Bahkan diungkapkan Gubernur NTB, daerah ini sudah mngekspor sapi sejak tahun 1831. Itu disampaikan gubernur ketika menjadi narasumber pada acara Agrinex Expo 2009 di Jakarta Convention Center (Jumat, 13/309).

Potensi dan Pengolahan

Potensial pengembangan ternak di NTB mencapai 1.928.300 hektare dengan ketersediaan pakan ternak mencapai 7.967.243 ton dan daya tamping ternak diperkirakan mencapai 2.655.294 animal unit (AU). Namun populasi sapi saat ini sebanyak 546.114 ekor. Padahal volume permintaan pasar mencapai 50.000 ekor per tahun (baik permintaan ternak potong maupun ternak bibit). Saat ini tingkat produksi rata-rata mencapai 93.500 ekor pertahun dan produksi kerbau mepacai 27.000 ekor pertahun, dengan tingkat secaran potensi ternak sapi mecapai 90 % dari 913 desa di NTB, dan daya serap tenaga kerja sebanyak 169.109 orang serta sumbangan PDRB mencapai 14,27% dari total PDRB pertanian. Selain itu, NTB merupakan tempat permurnian sapi Bali Nasional, pusat pengembangan sapi Hissar (Dipenyaring Kabupaten Sumbawa) serta yang lebih penting lagi NTB bebas dari berbagai penyakit hewan menular strategis.

Untuk itu diharapkan adanya sikap dan langkah strategis yang harus idlakukan oleh Pemerintah Propinsi dalam merespon peluang dan tantangan menyangkut persoalan pertanian, peternakan dan kelautan. Maka, kedepan keberpihakan pemerintah terhadap persoalan dia atas dan langkah-lagnkahnya adalah Pertama, harus lebih fokus dalam memfasilitasi warganya, untuk mendapat akses dan informasi program yang telah dicanangkan oleh Pemerintah,  seperti program Sejuta Sapi dan program unggulan kelautan. Kedua dan selain itu, Pemerintah Daerah kedepan seharusnya membuka akses informasi yang seluas-luasnya bagi masyarakat terkait dengan program-program bantuan dan pembinaan bagi masyarakat tanpa membeda-bedakan. Ketiga Pemerintah Daerah harus lebih inovasi dan berani untuk memanfaatkan lahan atau tanah milik pemerintah dalam rangka efesiensi pengelolaan program BSS dan program lainnya.

Jika lagnkah dan keberanian itu dapat dilaksankan, harapan ke depan, posisi peternakan sapi NTB yang saat ini menduduki 8 besar nasional, masih terbuka peluang megnembangkan peternakan sapi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru