Banyak Cerita Dari Nanggi Lampion Festival


Kabar Sembalun – Wisata alam seperti bukit akhir-akhir ini menjadi tren para wisatawan terutama masyarakat lokal yang berada di seputaran lombok. Mendaki bukit tentuya jauh berbeda dengan mendaki gunung seperti halnya gunung rinjani yang barang tentu akan membutuhkan persiapan yang mateng dengan bekal yang cukup Selain itu, fisik menjadi modal utama oleh pendakinya dan harus selalu fit mengingat jarak dan kondisi jalan yang sangat menantang selain itu juga pendaki harus bermalam sekitar 2 sampai 3 malam pada sekali trip pendakian. Berbeda dengan pendakian bukit, para wisatawan hanya mengambil program pendakian satu malam saja selain itu juga jarak pendakian  yang tidak terlalu jauh maka tak heran jika para muda mudi lebih memilih melakukan pendakian pada bukit bukit seperti bukit nanggi yang menawarkan panorama alam yang eksotis sangat cocok untuk mengabadikan momen  pada lensa-lensa terbaik para wisatawan.

            Mengingat banyak peminat dari wisataa alam, bukit nangi yang memiliki ketinggian 2300 Meter dari atas permukaan laut (mdpl) dengan kemiringan  sekita 40 hingga 85 derajat ini,  untuk menggait banyak wisatawan sebanyak banyaknya, pengelola dari bukit nanggi ini memberikan sebuah terobosan baru dengan mengadakan sebuah festival yang dinamakan dengan “ Nanggi Lampion Festival” yang terbukti mampu menyedot ribuan para wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara. Festival yang memiliki konsep pelepasa ratusan balon lampion dari gunung nangi ini,  memberikan keindahan yang sangat luar biasa, sebuah maha karya yang tentunya memberikan memori-memori yang susah dilupakan oleh wisatawan yang terlibat pada saat itu, bisa dibayangkan bagaimana indahya jika ribuan balon lampiun yang diterbangkan secara bersamaan bagaimana  indahnya bukit nanggi pada saat itu, bagaimana senang dan bahagia para wisatawan yang terlibat langsung di dalam kegiatan tersebut.  

           
Acara yang dilakasanakan pada 4-5 Juni 2016 kemarin menyisakan banyak cerita dan sejarah buat para pendakinya. Baik cerita bahagia, cerita lucu sampai cerita sedikit suram. Ada yang terpisah dengan rombongannya, ada ditinggal sama pacarnya, ada yang terjepit karena jalan yang begitu sempit, bahkan ada yang jatuh sehingga akibat lecet pada beberapa bagian tubuhnya . Hal yang yang unik pada momen pendakian Nanggi Lampiun festival ini adalah adanya antrian yang panjang sehingga banyak para wisatawan  membuat istilah istilah untuk menggambarkan kejadian saat itu seperti “mengatri bahan bakar minyak di SPBU” adapula yang mengistilahkan” mengantri jatah Raskin”. Tentunya istilah istilah tersebut keluar untuk menghilangkan rasa bosen para pendaki nanggi. Hal yang lebih berbeda dengan pendakian-pendakian lainnya, Festival lampion nanggi ini tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi para pengelola namum memberikan banyak nilai ekonomi yang meningkat bagi para pedagang-pedagang yang menjajakan barang dagangannya.

            Nanggi lampion FestivaL jika diceritakan secara detail tidak akan pernah habis jika diceritakan dalam satu malam. Festival yang mampu menyedot 3.000 wisatawan ini, tidak cukup hanya sekedar memberikan manfaat refesing bagi para pendakinya, namun disamping itu ajang seperti ini memberikan wadah bagi bagi para wisatawan itu sendiri untuk saling mengenal satu sama lainnya, dengan demikian kegiatan semacam ini akan sangat disambut meriah oleh lapisan masyarakat terutama oleh para pendaki itu sendiri.(TW)

 

           

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru