Hasil UN NTB Jeblok, Salahkan Siapa?

Pengumuman hasil Ujian Nasional untuk Sekolah Menengah Atas dan sederajat telah dilaksanakan beberapa hari yang lalu. Terlihat sekumpulan anak remaja berkeliling konvoi dijalan melakukan coret-coretan menandakan dirinya lulus dalam ujian nasional beberapa bulan yang lalu. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) memang mengumumkan secara serentak hasil ujian nasional serentak seluruh Indonesia.

Namun ada yang berbeda memang pada tahun ini, yakni pelaksanaan UN dilaksanakan dengan cara baru meskipun baru uji coba, cara itu yakni Ujian Nasional Berbasis Kompyter yang kemudian di singkat UNBK. Namun ini tidak menjadi hal yang special buat kita saya rasa, jikalau peserta didik memang memiliki kemampuan belajar tinggi maka mau memakai cara apapun dalam UN tetap saja sama.

Pada tahun lalu, kelulusan tidak sepenuhya bergantung kepada hasil UN itu sendiri namun diberikan hak leluasa kepada sekolah yang melaksanakan UN. Memang ini adalah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para siswa dan orang tua murid bahwa UN bukan lagi momok yang harus ditakuti untuk dihadapi. Namun apakah ini menjadi solusi bagi pendidikan kita? Jika pertanyaan ini muncul dibenak kita bersama tentu akan sulit menjawab jika melihat realita yang ada hari ini dilapangan.

Beberapa hari yang lalu, saya kemudian terkejut setelah membaca Koran yang berjudul “Integritas UN NTB masih rendah”. Judul Koran yang dibuat tebal dan sangat besar menjadi pukulan rasanya buat diri kita bahwa integritas UN provinsi pimpinan Tuan Guru Bajang ternyata masih rendah. Kenapa hal ini dapat terjadi?

Hal ini di akibatkan bahwa hasi UN NTB tahun 2016 ini jeblok. Nilai rata-rata UN siswa kita  tahun ini mencapai dibawah lima bahkan mencapai empat. Hal ini tentunya menjadi pukulan berat bagi provinsi kita. Lantas kemudian siapa yang harus disalahkan dan bertanggung jawab atas ini semua? Inilah yang kemudian membuat tulisan ini ada, berfikir dan mengkritisi apa penyebab dari menurunnya integritas pendidikan kita khususnya di Nusa Tenggara Barat.

Mencari siapa yang salah tentu tidak semudah yang kita bayangkan, penelusuran yang harus dengan kecermatan harus dilakukan dengan metode yang baik dalam mengambil kesimpulan yang akurat. Namun sayangnya jikalau demikian memerlukan waktu yang sangat lama. Maka dalam tulisan ini, adalah kesimpulan-kesimpulan atas dasar diskusi-diskusi yang dilaukan dalam menjwab pertanyaan diatas.

Guru yang Profesional

Faktor guru yang professional memang menjadi isu yang sangat sentral terdengar hari ini di dunia pendidikan khususnya di Provinis Nusa Tenggara Barat. Permasalahan guru kita hari ini memang tidak ada habis-habisnya. Mulai dari soal kesejahteraan guru sampai kepada profesionalitasnya. Guru-guru kita hari ini masih menggunakan gaya tempo dulu yang ketika mendapatkan ilmu dengan mondok kemudian mendirikan yayasan pendidikan, tanpa melihat basis keilmuan secara formal di Negara kita yakni harus mengikuti jenjang pendidikan sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Permasalahan ini kerap melanda pendidikan kita hari ini, perekrutan tenaga pendidik (guru) yang masih menggunakan system kekeluargaan dan diterbitkannya surat keputusan mengajar oleh yayasan itu sendiri tanpa melihat basis keilmuan guru tersebut. Ini menyebabkan profesionalitas guru masih belum menemui tingkat yang seharusnya. Kita bias lihat bersama dibeberapa pondok pesantren bahwa guru-gurunya hanya bergelar DIII bahkan ada yang hanya lulus SMA. Karena memiliki keilmuan lebih kemudian diangkat oleh yayasan untuk menjadi tenaga pendidik disana.

Lantas apakah ini yang menjadi sumber masalah atas jebloknya nilai UN kita tahun ini? Saya rasa jawabannya adalah iya. Pendidikan yang baik yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia tentu harus dimulai dari tenaga pendidik yang professional. Saya masih ingat cerita ketika Malaysia dilanda oleh perang ketika perang dunia ke II. Negara Malaysia mengirim warganya untuk belajar di Indonesia menjadi guru yang kemudian yang akan menjadi guru-guru professional di Negaranya waktu itu. Kemudian cerita ketika Bom Atom di Hirosima Jepang,  yang mempertanyaan berapa jumlah guru yang masih hidup. Maka tidak salah saya rasa bahwa bagaimana kualitas dan itegritas siswanya tergantung dari sampai mana kualitas dan profesionalitas guruya.

Jika kita melihat realita yang ada, guru-guru kita hari ini masih kemudian hanya menjadi pendidik yang hanya menyampaikan pembelajaran saja, namun belum mampu menjadi teladan bagi para siswanya. Mengajar hanya dengan kehendak menyampaikan materi pembelajaran (materi oriented) tentu tidak akan efektif saya rasa. Penekanan akan apa kebutuhan dan mengembangkan minat anak tentu mulai kemudian harus dilakukan oleh beberapa guru kita jikalau menginginkan kualitas dan integritas siswanya baik dan bagus.

Jika kita hari ini menuntut profesionalitas guru, maka tidak heran pula kita juga harus bagaimana mensejahterakan guru-guru kita. Guru pernah dikatan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Lantas masihkah kata-kata suci ini masih melekat pada guru-guru kita hari ini? Melihat guru kita zaman dulu yang hanya menggunakan speda tuanya, tanpa lelah mengajar demi masa depan bangsa. atau guru kita hari ini yang menggunakan mobil mercy nan bagus. Lalu sebenarnya yang mana yang dikatakan penuhi kesejahteraan guru?

Kinerja Pemerintah Harus Lebih Serius

Jebloknya angka ujian nasional NTB memang memilukan beberapa pihak. Salah satu yang menjadi sorotan tentunya adalah kinerja pemerintah. Jebloknya angka ini tentu merupakan wajah kinerja bapak pejabat kita hari ini sampai sejauh mana keseriusan pemerintah dalam bekerja. Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) NTB tentu harus mnyikapi hasil UN ini dengan secara serius jika tidak maka akan terpuruk lebih dari ini. Pemerintah kita harus segera berbenah diri dalam menyikapi dan menemukan solusi yang tepat guna peningkatkan integritas UN kita di tahun-tahun berikutnya.

Saya rasa masyarakat akan berfikir sama bahwa salah satu yang bertanggung jawab atas jebloknya nilai UN di NTB adalah pemerintah dibawah dinas pendidikan. Jangan sampai kemudian hasil buruk ini adalah bukti bahwa pemerintahan kita hari ini khususnya di NTB masih belum optimal. Lanjut, sebagai institusi, pemerintah selayaknya memikirkan solusi kongkrit hari ini apa yang salah dan bagaimana cara menyelesaikannya, bukan kemudianmalah duduk manis saja melihat prestasi buruk yang dicatat hari ini.

Tidak hanya itu, pemeritah juga harus lebih intesif dalam menyusun kurikulus dan system pendidikan yang baik bagi peserta didik seluruh Indonesia. Saya rasa, para siswa kita hari ini tidak memiliki kekhawatiran lagi akibat dari dicabutnya penentuan kelulusan dari UN. Hal yang terjadi adalah siswa tidak lagi merasa takut dan enggan belajar dalam menghadapi UN itu sendiri.  Namun jika UN lagi-lagi dijadikan sebagai penentu kelulusan banyak siswa kita yang merasa tertekan dan berlebihan cara belajar sehingga tidak jarang kita menemukan ada siswa yang pintar peraih juara namun juga tidak lulus UN. Ini menyebabkan pemerintah harus merumuskan system UN ini lebih baik lagi agar tidak ada sedikitpun permasalahan lagi.

Kepada para peserta didik, pendidikan merupakan ujung tombak kelangsungan Negara dimasa yang akan datang. Bagaimana kualitas yang dihasilkan oleh pendidikan kita merupakan kualitas Negara kita dimasa depan. Maka seharusnya bukan UN yang di takutkan melainkan kualitas pendidikan itu sendiri. Maka jangan pernah sedikitpun untuk meragukan pendidikan karena wajah Indonesia ada ditangan kita di masa depan. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru