Relokasi Pasar Masbagik

            Ini adalah gambar pasar Masbagik sehari sebelum pasar tersebut dipindahkan ke pasar baru. Pasar direlokasi karena dianggap mengganggu lalu lintas di persimpangan Masbagik. Pasar lama tersebut membuat kemacetan jalur Mataram-Lombok yang merupakan jalan Nasional atau jalan provinsi. Lokasi pasar baru yang disediakan oleh pemerintah diharapkan juga tidak kalah ramai baik oleh pedagang maupun oleh pembeli. Hal ini beralasan karena di depan pasar baru tersebut juga dilalui oleh jalan Kabupaten yaitu jalan menuju Selong sebagai ibukota kabupaten Lombok Timur. Sehingga diharapkan perekonomian masyarakat tidak akan teganggu oleh relokasi pasar tersebut.

Sementara itu di lain pihak masyarakat khususnya yang berkepentingan dengan pasar, berargumen lain. Hari itu, hari terakhir pasar lama beroperasi seorang pedagang mengatakan dengan setengah bercanda,”Amaq Sukri, dagangan harus habis hari ini. Besok kalau-kalau ada pembeli di pasar baru.” Teman lainnya, yang bernama Amaq Sukri menyambut gurauan temannya,”keh bae, ngente nurut doang.” Artinya ya biarkan saja, kita (warga) sih ngikut aja (maunya pemerintah). Ini adalah gurauan yang bernilai kekhawatiran atas menurutnya daya beli msyarakat. Pendapat ini berargumen bahwa awalnya pasar Masbagik berada di sekitar perempatan Masbagik. Tempat ini cukup ramai karena merupakan tempat yang cukup strategis, karena berada di jalur Mataram-Labuhan Lombok dan juga ke Selong.

Apapun argumen yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak, kita harus mencoba bersikap bijak dengan mengambil hikmah dari semua peristiwa tersebut. Kekompleksan masyarakat khususnya Lombok memungkinkan perbedaan pendapat dalam setiap masalah. Jika pebedaan tersebut kita biarkan dengan memperturutkan egoisme masing-masing maka kehancuran akan terjadi. Pemerintah dan masyarakat akan saling menyalahkan. Masyarakat akan menuding bahwa pemerintah sebagai penyebab menurunnya penghasilan mereka. Sedangkan pemerintah akan menyatakan bahwa ketidakpatuhan masyarakat sebagai penyebab penurunan perekenomian daerah.

            Pemerintah sebagai pengayom masyarakat harus memperlihatkan bahwa keputusan merelokasi pasar merupakan iktikad yang baik terhadap semua pihak. Sarana berdagang, tempat yang bersih, pasar yang aman, harus diperbaiki. Khusus jalur ke pasar hendaknya menjadi perhatian utama bagi pemerintah agar akses pedagang maupun pembeli menjadi lebih mudah dan nyaman. Karena jika hal ini tidak segera diperbaiki maka bukan tidak mungkin para pedagang akan meninggalkan pasar Masbagik dan berpindah ke pasar Paok Motong, misalnya. Pangkalan Ojek di perempatan Masbagik dan kendaraan becak murah mungkin dapat menjadi solusi alternatif terhadap masalah tersebut. Hal ini tentunya harus didukung oleh subsidi pemerintah.

            Masyarakat sebagai warga Negara yang baik juga harus mendukung program pemerintah termasuk merelokalisasi pasar Masbagik. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pedagang untuk meramaikan pasar baru tersebut. Jika tempat yang kurang strategis menjadi alasan utama untuk menolak program pemerintah tersebut, maka pedagang dapat berinovasi dengan meningkatkan kualitas dan menurunkan harga. Cara ini mungkin akan merugikan pedagang karena laba akan berkurang dari biasanya. Tetapi kerugian itu hanya berlangsung beberapa waktu. Pembeli akan kembali mencari pedagang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu pasar baru Masbagik juga belokasi di tempat yang tidak kalah strategis, karena berada di jalur Masbagik-Selong. Hal ini memungkinkan keramaian yang berbeda dari pasar sebelumnya.

            Perbedaan merupakan salah satu ciri manusia modern bahkan sifat alami manusia. Tetapi perbedaan juga yang membuat manusia semakin maju dengan semakin banyaknya pilihan gagasan. Maka jadikan perbedaan pendapat dan kepentingan antara pemeintah dengan masyarakat sebagai pionir memajukan perekonomian Lombok Timur melalui pasar baru Masbagik.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru