Wing: Dua Ribu Sama Dengan Dua Juta

Itu yang disampaikan seorang kritikus hidup Wing Irawan dalam cakap malam itu. Nilai tiada lagi bermakna jika manusia telah berbincang tentang esensi. Karena makna tidak akan pernah terikat pada materi yang tampak. Dan makna dapat melampaui nilai suatu obyek material melalui sudut pandang yang tepat. Meski sadar bahwa dunia saat ini semakin menampakkan wujud materialnya. Pandangan tentang uang adalah segalanya, menjadi satu indikator realitas yang terjadi. Timpang kemudian jika kembali di hadapkan dengan sosok Wing yang juga dikenal dengan sebutan Senthot. Tampilan ala kadarnya telah menyembunyikan kegeniusannya dalam menatap hidup. Rambut gimbal ala Bob Marley, kaos oblong, dan celana pendek dengan rapi menyembunyikan kecendekiawanannya. Ke manapun ia pergi, sepeda menjadi kawan sejati yang tak letih menghantarkannya mencapai tujuan. Sekilas tidak ada yang menyangka, bahwa ia telah mengayuh sepedanya berkeliling Indonesia bahkan sebagian negara Asia Tenggara. Kesederhanaan yang ditampilkan Senthot, menjadi ruang baginya menjadi manusia "pencuri" makna. Ketika kebanyakan manusia dibuai dengan mimpi kapitalis, ia mampu berteriak "merdeka" dengan dirinya. Hadir dalam pemikiran berbeda tampak menghindarkannya dari ruang hegemoni penjajah berharta dan penguasa media. Itu yang kemudian menjadi arti dari pesan "sang pujangga" untuk "eling lan waspada" (ingat dan waspada) di tengah masa bertajuk "zaman edan" dan di antara manusia liar mencari keberuntungan. Mantan PNS di era 90an ini seringkali menyampaikan kritik tidak hanya dengan kata, melainkan juga dengan sikap. Melalui pola tingkanya, banyak kebenaran yang ingin dituangkan bagi orang lain. Meski itu seringkali tidak disadari obyek kritik sendiri. Namun dengan konsistensinya, perlahan ia mencoba menghegemoni setiap personal untuk hadir dalam "ruang sadar" atas kritik. 2 Juta Yang Semu Dalam bincang itu, dua juta tampak semakin semu. Bahkan tidak jauh berbeda dengan angka ratusan juta jika itu hanya rupa pencapaian material. Ia mencoba menganalogikan dengan kehidupan seniman. Bagaimana besarnya nominal nyatanya tidak menjamin kepuasan seorang musisi dalam berkarya. Yang didapat nyatanya tak lebih dari sekedar materi. Dan bisa jadi hal itu menyurutkan motivasi kreatif dalam me-reka karya. Realitas lain disampaikan pada seseorang yang bernyanyi hanya mendapat sebatas recehan. Pengamen sebut saja, yang seringkali hadir dalam stigma negatif di tengah masyarakat. Karena cenderung dianggap mengganggu ketertiban dalam perspektif pemerintah. Dalam konteks ini cukup sederhana, dengan mengungkung kehadiran pengamen cafe pada ruang bahasan. Bagaimana kemudian kepuasan didapati ketika pengamen mendapati sekedar recehan dua ribu dari pengunjung. Dua ribu yang kemudian dipahami secara esensial sebagai sikap mengapresiasi tentu memberi arti cukup besar dan berimplikasi pada ruang motivasi. Menstimulasi untuk me-reka karya baru sebagai wujud kreativitas. Melalui dua ribu itu seniman tahu bahwa komunikasi melalui media seni dalam "ruang pertunjukan" itu benar terjadi. Sehingga ia sadar tiada hadir hanya sebatas display pemanis suatu tempat. Terlebih jika sosok seniman itu tahu latar belakang apresiatornya, nilai apresiasi yang diberikan dapat merupakan pesan yang harus kembali ditafsir. Pun hal demikian dapat menjadi bahan baginya untuk mengukur keberhasilannya dalam bersuara. Dua ribu menyimpan makna berarti dalam ruang komunikasi, jika dipahami secara esensi. Dan hidup ini tidak seharusnya jenuh dengan perdebatan materi. [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru