Mahasiswa antara Organisatoris dan Akademis

Berbicara tentang mahasiswa memang tidak akan ada habisnya. Menjadi mahasiswa adalah tidak terlepas dengan lingkungan kampus mulai dari proses perkuliahan dan dinamika perjalanan organisasinya.

Jika berbicara terkait dengan organisasi, memang menarik untuk di diskusikan dan dibahas mulai dari dinamika yang ada sampai dengan nikmat proses yang ada pada organisasi. Organisasi adalah sebuah wadah yang terdiri dari dua atau lebih orang yang memiliki tujuan yang sama.

Dalam kehidupan kampus banyak sekali tawaran organisasi yang dapat dipilih oleh mahasiswa baru. Baik yang berlatarkan dari organisasi internal kampus maupun eksternal kampus.

Jika merefleksi perjalanan, sahabat-sahabat ketika menjadi mahasiswa baru masuk menjadi seorang mahasiswa masuk perguruan tinggi banyak organisasi dengan berbagai background menjajakkan dirinya untuk dipilih, misalnya internal kampus ada Unit kegiatan Mahasiswa (UKM), ada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) kemudian Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) belum lagi organisasi yang lahir dari eksternal kampus misalnya PMII, HMI, KAMMI, IMM, SMI dan sebagainya.

Jika kita melihat setiap tahun ajaran baru mereka berebut mencari dan merekrut kader dan anggota baru. Menawarkan warna pengkaderan yang berbeda-beda dengan output kader yang berbeda pula. Tapi ini menjadi sedikit aneh jika kita fikirkan, cara rekrut seperti ini ada dua kemungkinan besar yang timbul bahwa kenyataan yang sebenarnya apakah mahasiswa yang membutuhkan organisasi ataukah organisasi yang membutuhkan mahasiswa.

Jika kebutuhan organisasi adalah merekrut anggota baru karena jalannya organisasi berjalan jika ada proses regenerasi ini tentunya akan membuat perjalanan sebuah organisasi akan mandul kualitas karena hanya berbicara kuantitas. Apakah benar atau tidaknya wallahuallam bissawaf.

Berbicara mahasiswa organisatoris memang menarik untuk dikaji. Karena mahasiswa tanpa dibarengi dengan organisasi akan terasa hampa, kenapa demikian? Menjadi seorang mahasiswa tentunya sudah siap dengan beban yang harus di pikul. Mahasiswa dikatakan sebagai agent of change (pembawa perubahan) kemudian dikatakan sebagai agent of sosial! Bagaimana ingin menjadi agent perubahan jikalau hanya mengandalkan kemampuan akademis saja? Atau hanya duduk mengkaji secara teoritis yang hanya akan mempenjarakan ilmu itu dalam sekte yang terkotak-kotak.

Memilih masuk menjadi mahasiswa organisatoris memang harus berfikir matang dan penuh dengan pertimbangan. Hari ini citra buruk terhadap organisasi sudah terdengar luas ke telinga masyarakat bahwa ketika seorang mahasiswa masuk organisasi tidak sedikit yang menyebabkan turunnya IPK kemudian menjadikan mahasiswa melawan kebijakan kampus (mahasiswa pembangkang) karena didikan di organisasi menjadikan mahasiswa kritis se kritisnya kemudian belum lagi mahasiswa yang fokus dan terlena dengan organisasi sampai lupa dan mengabaikan kulyahnya hanya gara-gara organisasi,

Ini menjadi soal yang semestinya dijawab oleh mahasiswa organisatoris. Mengapa demikian? Mahasiswa organisatoris seharusnya menjadi contoh bagi mahasiswa lain yang tidak berorganisasi. Menjadi mahasiswa organisatoris bukankah memiliki intelektual yang lebih dari pada mahasiswa yang tidak berorganisasi. Intelektualitas yang dibangun melalui proses panjang di organisasi kemudian tumpul akibat tidak ada tempat pengaplikasiannya selain dalam perkuliahan.

Berfikir sejenak melihat realita yang ada hari ini, mahasiswa organisatoris sering di identikkan dengan kulyah lama, kemudian nilai IPK rendah karena asumsi mahasiswa organisatoris adalah tidak penting berapa banyak IPK jika memiliki intelektual tinggi tapi bukannya IPK adalah legalitas formal intelektualitas seseorang yang belajar di organiasi. Sekarang bisa kita cek beberapa mahasiswa organisatoris IPKnya rendah bahkan sangat rendah ditambah lagi kulyah lama wisuda menunggu istilah cuci gudang.

Pola pikir in hari ini cobak mari kita rubah bersama, organisatoris tanpa akademi memang tidak lengkap, kombinasi dari dua item ini akan melahirkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di dunia kerja. Jika hari ini berparton hanya pada akademis tentunya tidak akan cukup, terlebih lagi misalnya kita adalah anak seorang petani, pedagang bahkan buruh yang tentunya bermimpi untuk duduk menjadi pejabat di atas sana. Melalui organisatoris para anak pinggiran ini bermimpi membangun jaringan dalam membentuk sistem untuk mengembangkan potensi dirinya.

Jika di Negara lain tampil dulu baru di kenal maka di Indonesia kita di kenal dulu baru bisa tampi. Begitulah pengandaian yang bisa kita rasakan hari ini. Jika hendak menjadi orang besar dan terkenal tentunya kita harus berani tampil. Menjadi mahasiswa organisatoris tentu ini jalan yang di tempuh, jika hari ini masih  dengan metode kulyah Datang, Duduk, Diam, Dengar maka mimpi kita bisa tampilkan diri kita dan di kenal oleh orang banyak. Hal inilah kemudian yang hanya bisa dilakukan oleh anak-anak organisatoris yang tampil dalam setiap forum, diskusi, seminar-seminar bahkan di arena bebas dengan cara aksi demonstrasi membuat dirinya dikenal oleh orang banyak.

Memang aneh bahkan sangat aneh negara kita ini, jika kita ingin besar maka kita sendirilah yang harus membesarkan diri kita melalui proses organisatoris. Pentingnya akademis tentunya harus di imbangi pula dengan organisatoris dua aspek ini harus menjadi anatomi kehidupan mahasiswa yang jika salah satunya tidak ada fungsi yang lain tidak akan berjalan ini demi kemajuan bangsa Indonesia kedepan. Bagi masyarakat jangan kemudian menganggap sebelah mata dari kami yang aktif berorganisasi, kami mampu buktikan bahwa organisasi adalah jalan kami menuju ke puncak kesuksesan akademis. () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru