Selamatan, Sebuah Ruang Pengharapan Dalam Tradisi Muharram

Jika dikatakan sebagai sunnah, maka berbagai ritual dalam bulan Muharram adalah termasuk dalam al-sunnah al-tsaqaffiyah (tradisi baik yang yang berbasis pada akar budaya lokalitas masyarakat).

(KH. Muhammad Sholikhin, 2009)

Hampir terbenam matahari di ufuk barat Pulau Lombok, di hari terakhir bulan Dzulhijah. Berbondong-bondong masyarakat muslim hadir di balik dinding-dinding masjid berdiri. Bukan tanpa tujuan masyarakat berkumpul dalam satu ruang, melainkan hadir dengan ungkapan syukur atas hidup dan penghidupan dalam perjalanan satu tahun berlalu serta membawa segenap asa dan pengharapan. Laki-laki dan perempuan, dari anak hingga mereka yang telah memasuki usia senja. Dalam ruang kebersamaan itu mereka bersatu menyaksikan tenggelamnya matahari terakhir dalam perjalanan satu tahun Hijriyah. Selamatanorang menyebut tradisi yang terselenggara setiap tahun itu.

Hampir malam, sajian dzikir dilantunkan untuk senantiasa mengingat keberadaan Tuhan Semesta Alam yang tiada pernah melupakan hamba-hambaNya. Kesadaran mengingat itu dilantunkan bersamaan, dilanjutkan kemudian dengan permohonan. Doa dilantunkan untuk menutup perjalanan satu tahun berlalu. Segalanya dilakukan dengan khidmat hingga matahari benar tenggelam mengganti hari. Adzan maghrib, berkumandang menjadi penanda berakhirnya bagian pertama dari rupa tradisi itu tersaji. Masyarakat bersama menjalankan ibadah shalat maghrib seperti biasanya. Itu menjadimomentum shalat berjamaah kali pertama yang dirasakan oleh masyarakat Islam di bentang pulau Lombok.

Usai maghrib, masyarakat Lombok sejenak terjaga di dalam masjid. Ruang kebersamaan begitu terasa dalam kerangka mengawali tahun baru Hijriyah. Di setiap masjid berdiri, tampak disesaki lantunan bunyi ayat-ayat suci. Masyarakat Islam secara bersama membaca beberapa surat dalam kitab Al Qur’an seperti halnya surat Yasin. Kembali usai melantunkan ayat-ayat suci yang merupakan firman Allah SWT, masyarakat hadir dalam konstruksi mengingat Tuhan kembali. Berdzikir bersama di masa awal sebuah perjalanan tahun. Di ujungnya, doa kembali dilantunkan sebagai sebuah bentuk permohonan kepada Sang Khalik. Doa awal tahun menjadi penanda dimulainya kembali kehidupan masyarakat di tahun yang baru. Dari keseluruhan rangkaian acara perayaan tahun baru Hijriyah di pulau Lombok, shalat Isya’ berjamah benar menjadi penutup rangkaian kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya itu.

Berbagai Perayaan Muharram di Indonesia

Tidak hanya di Lombok perayaan tahun baru yang identik dengan keberadaan Islam dilaksanakan. Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia sejalan dengan bagaimana kehadiran bulan Muharram dirayakan. Islam berpadu dengan tradisi baik yang pernah hidup sebagai adat dan kebudayaan masyarakat lokal. Di beberapa daerah lain perayaan serupa dapat disaksikan dengan rupa berbeda. Sebut saja kirab (arak-arakan) dalam adat kehidupan masyarakat Jawa. Arak-arakan dengan pengharapan hadirnya keselamatan di kehidupan, sampai saat ini masih hidup di antara benteng keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Arak-arakan disajikan dengan menampilkan simbol-simbol pengharapan masyarakat kepada Sang Pencipta. Begitu khusuk masyarakat membangun keheningan di tengah malam dengan tanpa sekat dan batasan status sosial. Masyarakat berkumpul dan berjalan bersama sembari berdoa berkeliling di antara bangunan tembok istana dengan pengharapan serupa.Tidak berbeda pula ketika hadir di kota Madiun, sebuah kota di Jawa Timur. Sajian tari tradisi hadir dalam arak-arakan sebagai bentuk perayaan atas hadirnya bulan Muharram. Dongkrek masyarakat sekitar menyebut sajian tari topeng dengan musik iringan berkeliling mengintari tempat desa tempat mereka tinggal. Melalui prosesi itu, doa dilantunkan untuk memohon keselamatan dan dihindarkan dari mara bahaya dalam perjalanan hidup mendatang. 

Pengharapan masyarakat dalam menyambut Tahun Baru dipresentasikan dalam ekspresi berbeda. Akan tetapi secara esensial seluruhnya menyuarakan makna yang serupa atau bahkan sama.Keselamatan dan kehidupan yang lebih baik dari tahun kehidupan setahun sebelumnya. Di dalam konteks perayaan ini, sesungguhnya manusia menghadirkan diri dalam ruang penghambaannya. Ia mengakui kuasa Tuhan Semesta Alam, yang benar hanya Ia yang dapat memberikan keselamatan dan kehidupan yang lebih baik. Manusia dalam momentum itu tengah hadir dalam pengakuan ketidak-berdayaan.Tidak satupun dari prosesi yang berlangsung mengungkap makna ‘pengingkaran’ atas kuasa Tuhan.

 

Syukur dan Pengharapan, Rupa Hakiki Manusia

Dua hal yang dilakukan masyarakat di antara tembok masjid berdiri, dalam konteks mengakhiri dan mengawali perjalanan satu tahun Hijriyah. Ungkapan syukur dilantunkan melalui dzikir dan doa di penghujung. Pengungkapan akan kuasa Tuhan dan atas segala kasih sayangNya, dengan tulus diungkapkan. Ini menjadi satu pemahaman bahwa manusia hanya entitas ciptaan. Di dalam ruang ini, manusia menyadari atas segala keterbatasannya. Bahwa tiada yang dapat dilakukan tanpa kehadiran Tuhan sebagai sosok Pencipta. Maka mengungkap syukur yang secara esensial merupakan wujud terima kasih, wajib dilakukan.

Apa yang telah diberikan dalam perjalanan satu tahun terlewati adalah rupa campur tangan Tuhan. Meski secara entitas itu merupakan wujud yang terkadang dipandang nikmat ataupun cobaan. Namun keduanya memunculkan pemahaman yang sama dalam pemaknaan positif manusia terhadap Pencipta. Nikmat dan cobaan diberikan sebagai konstruksi romantisme Tuhan dengan makhlukNya. Bagaimana Ia menguji makhluknya dengan sesuatu yang dipandang ‘enak ataupun tidak’. Hal itu merupakan stimulan bagi manusia untuk semakin mendekat dan mengadu rindu padaNya. Konstruksi kedekatan makhluk dengan Penciptanya yang kemudian menghadirkan realitas kedamaian dalam menapakkan langkah  kehidupan.

Pengharapan, merupakan sebuah ruang keniscayaan manusia yang lahir dengan bekal akal sehat. Di mana manusia senantiasa mengkonstruksi mimpi untuk mendapati kehidupan yang lebih baik dalam setiap perjalanan waktu. Manusia selalu berekspektasi di kehidupan mendatang. Segala yang hadir dalam lukisan angan tidak satupun menyuarakan rupa keburukan atau kesengsaraan. Seluruhnya merupakan harapan indah dan baik untuk kemudian direalisasi. Di dalam tradisi Selamatanruang pengharapan manusia tengah mengkonstruksi rupa ketidak-berdayaannya. Secara implisit, itu menjadi wujud pengungkapan kepasrahan. Sehingga Tuhan menjadi tumpuan pasti untuk merealisasi segala bentuk pengharapan adalah satu pemahaman atas kesadaran.

Melihat entitas tradisi ini, tentu menjadi satu stimulan bagi masyarakat untuk kembali menilai dan menimbang setiap nilai yang hidup di tengahnya. Mengikis atau tetap mempertahankan keberadaannya merupakan pilihan. Hal ini kembali perlu dipikirkan, oleh karena banyaknya tradisi yang mengalami gradasi dewasa ini,terkikis dan hilang dari kehidupan masyarakat. Tentu secara pribadi saya tidak berharap Selamatanmengalami hal serupa, termasuk dengan bentuk-bentuk tradisi lain yang hidup di antara masyarakat Lombok khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Ruang itu merupakan sebuah tawaran perenungan bagi seluruh masyarakat, untuk kembali berfikir tentang apa dan bagaimana menyikapi suatu realitas tradisi. () -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru