Sepenggal Kisah Desa Wisata


Sudah menjadi bagian dari paket wisata di desa masmas, bahwa setiap tamu yang datang berkunjung, mereka diajak masuk ke sekolah untuk bisa berintraksi dengan para siswa, begitu juga bagi yang menginap, mereka akan diminta menjadi volunteer pada kegiatan belajar bahasa inggris di secretariat bersama setiap pagi yang dimulai dari jam 06:00 hingga jam 07:00 yang oleh pengelola di istilahkan “Pondok santri”. Itulah yang diberlakukan pada tamu  pagi ini. 
Setelah saya membagi pasangan asal Jerman yang nginap di masmas dalam dua malam ini untuk masing-masing mengajar di kelas yang berbeda, sang suami yang bernama Michael Wind mengajar di klas speaking A dan istrinya yang bernama Gabi Klostermann mengajar di kelas Speaking B. saya masuk ke kamar kerja dan mengotak atik computer sambil membuka FB. Saya menemukan tulisan saudara saya Yusuf yang menandai saya. Saya tertarik dengan tulisan itu, karena menyangkut desa kami Masmas tercinta, karena itu saya minta tulisan itu untuk saya publish lewat Km yang kami Kelola, tentu dengan sedikit melengkapi yang kebetulan saya lebih tau, tulisan tersebut adalah sebagai berikut ;,
“Desa Bayan dan Desa Masmas rupanya memiliki kisah yang sama dalam mengundang wisatawan datang kedesanya. Desa-desa itu ternyata pertema kali dikenal dunia setelah dikisahkan melalui hasil riset dan buku.
 
Kalau Bayan ditulis pertama kali oleh Dr.J Van Ball tahun 1940. Penelitian Van Ball lalu diterjemahkan oleh Koencaranigrat dengan judul, "Pesta Alip di Bayan" tahun 1979. Pasca kemerdekaan peneliti-peneliti lain datang satu persatu 'mengupas' dan menggali Bayan.  
 
Terlepas banyaknya kritik terhadap isinya, tulisan Van Ball itu menjadi magnet bagi peneliti - wisatawan dari dalam dan luar negeri untuk datang ke Bayan. Karya Van Ball itu kemudian menjadi acuan peneliti dan penulis-penulis lain dengan beragam kesimpulan tentang masyarakat adat Bayan.
 
Saya juga mendengar hal yang sama dialami oleh Desa Masmas yang berada di Lombok Tengah. Awalnya, wisatawan mulai datang kesana setelah Pengelola mempublishnya lewat blog yang dibuat oleh pengelola yang dipandu oleh Kae Krawdwigh asal Jerman yang kebetulan dari lembaga Jerman yang bernama DED yang diperbantukan di Bappeda Lombok Tengah, juga istri kae yang bernama Mrs Katja Keiser yang siap menjadi Volunteer bahasa Inggris di Masmas selama lebih kurang 1 tahun. Berikutnya kemudian salah seorang penulis buku guide book dari penerbit Stefan loose asal jerman yang bernama Eva, hasil penelitian itu setelah dibukukan, dicetak berulang-ulang sehingga banyak peneliti, dosen dan keluarga yang belakangan ini datang ke Masmas setelah membaca penelitian itu. Buku itu juga sudah di masukkan dalam lonely planet. 
 
Kalau Bayan kental dengan wisata budaya atau adat Wetu Telu-nya yang masih terjaga sampai sekarang, Desa Masmas justru menawarkan keindahan dan suasana alam pedesaan yang masih asri dan 'perawan'. Kata bule-bule yang berkunjung disana, kita sudah bosan dengan suasana kota yang ramai, gaduh, bising serta penuh polusi.
 
Para wisatawan itu rupanya ingin menyatu dengan alam dan tradisi masyarakat setempat. Mereka kangen dengan tegur sapa orang desa yang ikhlas tanpa dipaksa untuk membeli barang. Mereka betah dengan senyum orang desa yang apa adanya.      
 
Dari pengalaman dua desa ini kita bisa belajar ternyata menggaet wisatawan tidak harus promosi biaya ratusan sampai milyaran rupiah, promosi sampai keluar negeri. Hasil riset, tulisan sederhana dan cerita dari mulut-kemulut justru cukup efektif memancing wisatawan yang entah mereka tinggal diujung dunia sekalipun.Dan sesederhananya sebuah tulisan termasuk riset yang menulis sebuah daerah, akan 'menularkan' informasi kepada orang lain yang membacanya.
 
Pemerintah daerah, BPBD dan pelaku wisata di Lombok bisa belajar resep pengembangan wisata dari dua desa itu. Pemerintah bisa merangkul, mengajak rembuk serta aksi dengan para penggerak komunitas seperti Renadi di Bayan dan H.Habib Kemus di Masmas. Untuk tahu lebih banyak tentang kisah desa itu, tentu kedua orang itu lebih banyak tahu ketimbang saya.”
Demikian yang ditulis oleh Yusuf tantowi seorang penulis handal yang telah banyak menghasil karya tulis menarik baik soal budaya dan lain sebagainya. Ini patut di apresiasi oleh pemerintah tidak Cuma dengan kata-kata tapi juga dengan bukti nyata. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru