Pilkada dan Sayur Bening

Dalam tahun 2015 ini, ada 7 Kabuaten/Kota di NTB akan melaksanakan Pilkada - Pemilihan Kepala Daerah yang diselenggarakan secara langsung. Itulah regulasi yang disepakati. Tepatnya pada 9 Desember 2015. Belajar dari peristiwa yang kita lihat dalam satu dasawarsa terahir ini, keriuhan dan semarak pesta demokrasi ini mengisi ruang bincang di setiap jeda pertemuan serius mapun canda. Ada yang menyelenggarakannya melalui gelaran seminar dengan menghadirkan pemikir akademik dan politisi, ada pula yang memperbincangkannya dengan ringan dan jenaka namun tetap bermakna, sebagaimana celoteh Abu Macel dalam menemukan pemimpin dengan pertimbangan menu makanan berikut ini:

Tak bisakah kalian menawarkan diri untuk memimpin kami dengan pertimbangan keilmuan? Bukan karena pertimbangan partisan atau kedekatan personal? Apalagi dengan dalih Sara? Apakah karena partai ini dan itu? Atau karena kami dekat sehingga kami seolah terpaksa memilih kalian? Jika demikian, bagaimana nasib saudara kami yang tak berpartai atau yang tak dekat dengan kalian?

Apakah karena kami tak dekat dengan kalian lantas hanya partai politik itu yang kalian gunakan untuk merayu kami? Ataukah sekelompok orang tertentu saja yang kalian dekati dengan cara memanjakannya melalui bantuan disertai alasan pembenar yang masuk akal?

Bukannya kami tak percaya dengan kalian lho…. Tapi kan, kalian sendiri yang menyediakan ruang kepada kami untuk tak percaya dengan kalian. Bukannya kami tak mau dekat dengan kalian, tapi faktannya kalian saja yang tak sudi didekati kalau sudah terpilih. Lain di bibir lain di hati. Omongnya bilang sayang, nyatanya malah ngemplang

Katanya kalian mencintai kami. Nyatanya, disapa saja kalian buang muka. Katanya kalian mewakili kami. Nyatanya tak mau mendengar kami. Katanya kalian dipilih oleh kami, nyatanya hanya mementingkan mereka saja. Katanya damai, nyatanya ngajak berantem. Katanya gini…. nyatanya gitu… Katanya begitu…. nyatanya begini….. Katanyaaa… Nyatanyaaaaaaaa…………!!!

Sejak reformasi bergulir, hampir disetiap jengkal tanah nusantara ini, masyarakat merindukan pemimpin yang lahir dari rahim bumi sendiri. Itu terwujud. Tak ada satupun Gubernur, Bupati atau Walikota yang tak berasal dari tanah kelahirannya. Jika ada itu hanya satu dua daerah saja dan sangat kasuistis.

Dalam perjalanannya, tak semua berjalan mulus. Ada yang diterpa isu korupsi dan digoyang isu ranjang, hingga ahirnya lengser dari tahta kekuasaan dan harus beristirahat di bilik penjara. Namun tentu ada juga kepala daerah yang menjadi sandaran kebaikan hingga ahirnya bisa memimpin daerah dan dicintai rakyatnya.

Demikian juga dengan isu etnis yang menjadi bumbu penyedap dalam proses pemilihan kepala daerah. Isu ini menjadi makanan empuk bagi sejumlah kalangan dalam mengisi menu obrolan sepanjang satu dasawarsa. Tak sedap rasanya jika setiap obrolan tak dibumbui isu ini.

Kini, isu etnis sudah mulai tak layak jual dalam konstelasi politik lokal saat ini. Meski sebagian Timses secara diam-diam menggunakan menu kesukuan dalam menawarkan sang calon dan tak sedikit pula secara diam-diam masyarakat menolaknya. Mereka tak ingin peristiwa demokrasi ini mencederai kedamaian dalam bersaudara, dalam bertetangga, dalam bermasyarakat. Itulah kesadaran yang mulai terasa.

Kendati demikian, tak sedikit pula diantara warga terpenjara oleh perilaku politisi yang mempolitisir mereka dengan memanfaatkan keterbatasan pengetahuan warga tentang politik dan demokrasi. Ada yang mengumbar janji laksana lelaki gombal merayu wanita. Janji kedudukan dan jabatan serta materi dikunyah bagai makanan siap saji yang menggugah selera.

Birokratpun demikian. Mesin pemerintahan ini menjadi terganggu lantaran sebagian diantaranya tak mau ketinggalan memperoleh jabatan dengan cara instan. Birokrat yang berposisi nyaman dalam jabatan akan berupaya menemukan pembenaran untu mendukung sang calon incumbent misalnya. Birokrat lainnyapun tak kalah gesitnya mendukung calon lain dengan janji jabatan yang bergengsi.

Pemimpin masyarakat dalam setiap tingkatan turut pula mendendangkan nyanyian poltik demokrasi sesuai dengan syair yang difahami secara parsial dan terkotak-kotak. Pemimpin ormas, etnis dan suku serta pemimpin komunitas kecilpun sudah menjadi raja ditengah kelompoknya. Masyarakat terurai berserakan ditengah lapang negeri yang kian panas menyengat.

Hampir tak ada ruang kesejukan terdengar dalam setiap obrolan di media modern dan tradisional. Semua mengisinya dengan sajian pembenaran sendiri-sendiri. Masyarakat tak dididik untuk memilih berdasarkan pertimbangan keilmuan yang teduh dan menyejukkan. Meski sesekali terasa panas namun segera dingin oleh senda gurau pemimpin yang berilmu.

Pemimpin yang berilmu tentu akan menawarkan pemikiran yang mencerdaskan. Komentar dan pernyataannya tak mencederai perasaan lainnya. Menawarkan kebenaran dengan cara yang santun, itulah pemimimpin tegas. Mengayomi, melindungi, menemani. Serasa bagai seorang sahabat yang saling menyediakan ruang diantaranya. Dengan demikian, masyarakat akan terlatih mengelola potensi yang dimilikinya.  Bukankah ini cita-cita kita bersama dalam menemukan pemimpin yang diinginkan?

Nah… mengapa pemikiran ini disajikan? Tentu tak lepas dari keinginan agar masyarakat dapat duduk bersama diatas tanah kepulauan yang bergandengan mesra tanpa melihat suku dan ras serta asal muasal. Kita memang sudah berbeda. Itulah fakta. Berbeda itu hak, namun jangan sampai hak berbeda mengalahkan kewajiban untuk bersatu. Itulah ilmu kehidupan. Kewajiban menuju bersatu inilah yang dikelola oleh pemimpin berilmu dalam semua tingkatan.

Keinginan menuju bersatu sama semangatnya dengan menuju kenyang. Untuk menuju kenyang diperlukan makan. Dalam memilih makanan punya selera yang beragam. Ada yang suka Bubur Ayam, ada yang suka dengan Makanan Kaleng dan adapula yang tak bosan dengan Sayur Bening.

Dalam memilih pemimpin bisa ditemukan melalui pendekatan menu makanan ini. Jangan sekali memilih pemimpin seperti Bubur Ayam. Hanya enak disantap saat panas saja, setelah dingin bisa bikin nek bin anyir. Pandai mengelola kata dalam berpidato dengan oenuh semangat, namun setelah terpilih justru tak banyak berbuat untuk rakyat.

Kalau seperti Makanan Kaleng tentu lebih rumit. Meski kelihatannya segar tapi mengandung bahan pengawet, zat pewarna bahkan pemanis buatan. Agar tahan lama, makanan ini harus disimpan di lemari pendingin, sehingga membutuhkan biaya cukup besar. Jenis pemimpin ini hanya mengandalkan kemasan dan tampilan saja dan banyak menguras biaya untuk kehidupannya.

Yang perlu dicari adalah pemimpin seperti Sayur Bening. Bahan-bahannya mudah diperoleh, dapat dipetik dipagar-pagar rumah, bumbunya gampang diramu. Cukup dengan air putih, bawang merah dan garam secukupnya sudah terasa lezat. Dinikmati saat panas maupun dingin tetap bervitamin. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru