Nuzul Sebagai Media Melatih Kepekaan Sosial


Jika orang hidup diatas dunia ini digambarkan sebagai orang yang tengah mengarungi bahtera yang luas dan menyusuri perjalanan yang panjang, Maka sudah tentu dibutuhkan kompas atau penunjuk arah sebagai panduan, sebab jika tidak, maka pasti orang akan kehilangan arah alias tidak akan pernah sampai ketujuan dengan selamat.
Berbicara soal panduan hidup, maka jelas bagi Pemeluk agama Islam secara umum adalah Al-Qur’an dan hadits. Karena Al-Qur’an merupakan panduan hidup, maka tidak Cuma ajaran yang dikandungnya tekun dijalankan, fisik ayatnya  yang terkumpul dalam Al-Qur’an juga sangat dimuliakan bahkan hari atau bulan diturunkannya selalu dirayakan, dan itulah yang dikenal dengan peringatan Nuzulul Qur’an.
Hampir di semua masjid selalu ada perayaan Nuzulul Qur’an pada bulan puasa. Model perayaan berbeda-beda sesuai dengan kesepakatan warga di masing-masing dusun atau masjid. Ada yang mengawalinya dengan aneka macam lomba dan kegiatan, ada yang mengawali dengan aneka hiburan, ada yang hanya melakukan pengajian pada malam H. yang pasti pada setiap pelaksanaan Nuzulul quran pasti ada kegiatan pengajian yang disampaikan oleh seorang Tuan Guru atau Ustaz/zah.
Beberapa kegiatan nuzul yang berhasil penulis rekam adalah mulai dari masjid Al-Haajaat Dusun Langga Lawe Lauk yang dilaksanakan pada malam tanggal 19 Bulan Ramadlah dengan penceramah TGH. Drs. Hamzah Al-Ma’hady, SH. Dilanjutkan pada malam tanggal 20 Bulan Ramadlan di Masjid Nurul Hidayah Dusun Punikasih dengan penceramah yang sama seperti di Masjid Langgalawe, lalu pada malam tanggal 21 Ramdlan di Masjid Ussisa Alattaqwa Dusun Selusuh Desa Masmas dengan penceramah TGH. Hilmi Najamuddin, QH. Dan jarak  tiga malam kemudian, tepatnya dimalam Minggu tanggal 25 Ramadlan dilaksanakan di masjid nurul Hidayah Dusun Goak Desa Masmas Kecamatan Batukliang Utara dengan Penceramah TGH. Nurdin Nawawi, QH.

Hampir dari setiap penceramah, materi yang disampaikan adalah soal sejarah diturunkannya Al-Qur’an berikut dengan kemuliaan Al-Qur’an dikaitkan dengan Pahala dan Dosa atau dengan kata lain Sorga dan Neraka, jarang sekali bahkan tidak ada yang mencoba mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari di Dunia ini, padahal hikmah dari semua itu adalah bagaimana mengaflikasikan semuanya dalam kehidupan kita bersosial dan bermasyarakat.
Begitu juga ketika para tuan guru menyinggung soal kewajiban Zakat Fitrah yang berada di Bulan Puasa, juga masih focus pada soal kelebihan pahala yang didapat bagi yang mengeluarkan zakat pada setiap butiran berasnya. Padahal justru yang harus lebih banyak dikaitkan adalah soal imbas sosialnya, misalnya kenapa zakat fitrah ini diwajibkan?, saya kira tidak semata-mata hanya menjadi media bagi si muzakki untuk mendapat pahala saja. Tapi justru sebagai media pembelajaran betapa pentingnya kita berbagi dan betapa jahatnya ketika orang hanya mau hidup sendiri. Dan jika pelajaran itu sudah bisa dipetik, maka jangan sampai kita hanya mau berbagi pada waktu mengeluarkan zakat fitrah di Bulan Puasa saja. Tapi  hendaknya kebiasaan berbagi itu harus menjadi karakter masing-masing, yang mutlaq dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari kita.
Sebagai akibat dari ibadah yang hanya berorientasi pada mencari sorga dan pahala, Orang kemudian berbondong-bondong berupaya mengejar Haji dan Umrah padahal didepan pintu mereka masih banyak orang yang masih hidup kelaparan, banyak orang berbondong-bondong mengeluarkan, zakat, infaq, sodakoh jauh di luar padahal di sekelilingnya masih banyak orang yang justru lebih membutuhkan.
Jadi sebetulnya kalau mau jujur, bahwa hajatan diwajibkan ibadah dalam bentuk apapun, adalah untuk melatih kepekaan social kita supaya lebih peduli kepada sesama disekitar kita. [] - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru