Sejarah Dusun Tradisional Karang Bajo


KM. Sukamulia – Dusun Karang Bajo merupakan salah satu nama Dusun Tradisional yang ada di sekitar wilayah administrative Kecamatan Bayan. Dusun ini memiliki sejarah tersendiri seingga Dusun Tradisional ini disebut dengan nama Dusun Karang Bajo. Tidak banyak orang yang bertanya, mengapa dusun tersebut dinamakan Karang Bajo padahal dusun tradisional ini berada cukup jauh dari wilayah pantai sebab pada umumnya Karang Bajo merupakan nama kampung yang dihuni oleh orang-orang yang berasal dari Suku Bajo dan umumnya orang Bajo mendirikan perkampungan di sekitar daerah pesisir pantai.

Perlu diketahui bahwa saat ini Dusun Karang Bajo merupakan wilayah administrative Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan yang merupakan hasil dari pemekaran Desa Bayan Kecamatan Bayan yang didefinitifkan pada tahun 2004. Dusun Karang Bajo terletak di sebelah utara Dusun Bayan Beleq atau tepatnya berada di sebelah utara Masjid Kuno Bayan Beleq. Dusun Karang Bajo juga merupakan dusun tradisional yang memiliki peranan penting dalam kehidupan social masyarakat adat Bayan sebab setiap ritual adat harus diselesaikan di Kampu (Bale Beleq) Karang Bajo dan barulah dilaksanakan ritual agama yang diselesaikan di Masjid Kuno Bayan Beleq.

Pentingnya arti keberadaan Kampung Tradisional Karang Bajo ini menyebabkan banyak orang yang bertanya, mengapa Kampung Tradisional itu disebut dengan nama Dusun Karang Bajo padahal kampong itu terletak di sekitar perkampungan tradisional Bayan dan mengapa pula setiap ritual adat harus diselesaikan di Kampung Karang Bajo ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka dalam artikel ini penulis akan mendeskripsikan mengenai sejarah terbentuknya Dusun Karang Bajo sesuai dengan keterangan yang telah penulis kumpulkan dari beberapa orang narasumber (tokoh adat dan tokoh masyarakat Dusun Karang Bajo) dan beberapa orang narasumber yang berasal dari wilayah Kampung Adat Bayan Beleq.

Menurut keterangan yang penulis dapatkan dari sebagian besar narasumber, Dusun Karang Bajo didirikan pada abad ke XVI M (bersamaan dengan didirikannya Masjid Kuno Bayan Beleq). Perlu diingat kembali bahwa Masjid Kuno Bayan Beleq didirikan oleh Gaus Abdurrazak yang merupakan putra dari Titi Mas Supakel (Pendiri Kedatuan Bayan yang terpusat di Desa Loloan Sekarang dan Pendiri Masjid Kuno Gunung Batua Desa Obel-Obel Kecamatan Sambalia Kabupaten Lombok Timur.

Seperti yang telah penulis muat dalam artikel yang berjudul, “Rentetan Sejarah Masjid Kuno Bayan”. Masjid Kuno yang dikenal dengan sebutan Masjid Kuno Bayan Beleq adalah Masjid yang didirikan oleh seorang wali Allah yang dikenal dengan nama Titi Mas Muterin Jagat alias Gaus Abdurrazak yang merupakan putra dari Titi Mas Supakel (Pendiri Kedatuan Bayan). Gaus Abdurrazak merupakan salah seorang penyebar agama islam di sekitar wilayah Bayan. Beliau dan pengikutnya juga yang merupakan pendiri dari seluruh masjid kuno yang ada di sekitar wilayah Bayan. Masjid Kuno yang kemudian disebut sebagai masjid agung adalah Masjid Kuno Bayan Beleq yang didirikan di atas gundukan bukit (memontong: bahasa Bayan).

Menurut keterangan para tetua dan tokoh adat Dusun Karang Bajo dan tokoh adat Bayan, pada saat mendirikan Masjid Agung Bayan, jamaah yang ada pada waktu itu hanya 33 orang, sementara syarat berdirinya sebuah Masjid adalah memiliki jamaah sekurang-kurangnya 44 orang. Untuk mencukupi jamaah tersebut maka Gauz Abdurrazak mengutus pengikutnya untuk mengambil satu orang jamaah dari Labuhan Carik. Utusan tersebut kemudian membawa seorang jamaah dari Labuhhan Carik, diman orang yang dibawa tersebut adalah seseorang yang berasal dari Suku Bajo yang tinggal dipesisir pantai Labuahan Carik. Orang itu kemudian diberikan tempat tinggal di sebelah utara Masjid Kuno. Tempat itu kemudian dinamakan Karang Bajo (pemukiman orang Bajo).

Orang Bajo itulah yang kemudian berkembang menjadi masyarakat yang membangun dan menghuni kampong tradisional Karang Bajo yang sekarang dikenal dengan nama Dusun Karang Bajo yang merupakan bagian dari wilayah administatif Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan. Dengan demikian, nama Karang Bajo yang sekarang berkembang menjadi Dusun Tradisional Karang Bajo yang dijadikan sebagai pusat pelaksanaan tradisi adat masyarakat Bayan diambil dari nama penghuni awal perkampungan itu yang berasal dari Suku Bajo yang awalnya bermuki di wilayah Labuhan Carik Desa Anyar Kecamatan Bayan.

Pada tahap perkembangannya, Karang Bajo berkembang menjadi sebuah kampung yang dihuni oleh Masyarakat Adat dengan struktur pemerintahan adat tersendiri. Dalam perkembangannya, orang Bajo itu berkembang, lambat laun penghuni perkampungan tersebut semakin banyak dan mereka hidup dengan system dan tatanan adat tersendiri, namun bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Bayan. Di Kampung ini terdapat pranata-pranata adat yang terdiri dari Pembekel Adat, Perumbaq Tengaq (Amaq Lokaq Gantungan Rombong), Amaq Lokaq Pande, Amaq Lokaq Penguban, Amaq Lokaq Singan Dalem, Amaq Lokak Penjeleng, Amaq Lokak Penyunat dan dan Kyai Lebe. Pejabat pranata adat ini diangkat secara turun temurun menurut ikatan kekeluargaan.

Demikian sejarah singkaat Dusun Karang Bajo yang saat ini dijadikan sebagai Dusun Tradisional yang dijadikan sebagai pusat pelaksanaan/penyelesaian seluruh rangkaian tradisi adat masyarakat Desa Bayan dan Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat. Sekarang, kampong ini menjadi kampong tradisional yang kerap dikunjungi oleh wisatawan asing/manca negara, wisatawan  domestic dan wisatawan lokal yang bertujuan untuk mendapatkan destinasi wisata budaya, wisata religi dan wisata sejarah Bayan.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya pembaca yang berkeinginan untuk mengetahui sejarah atau latar belakang keberadaan Dusun Karang Bajo Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Semoga pula informasi ini dapat menjadi jawaban pertanyaan bagi para peniliti dan pengkaji sejarah Bayan yang selama ini merasa penasaran atas keberaraan kampong tradisional yang disebut dengan nama Dusun Tradisional Karang Bajo. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kata-kata yang kurang berkenan, terimakasih atas kunjungannya dan salam dari kampung.

_By. Asri The Gila_ [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru