Orang Miskin Bersepatu

KM. Sukamlia – jika Virgiawan Listanto, SH menenarkan istilah “Oemar Bakri” sebagai ungkapan atas nasip seorang guru maka teman-teman saya menenarkan istilah “Orang Miskin Bersepatu” untuk menggambarkan kehidupan seorang guru yang penuh dengan dilemma. Setiap harinya seorang guru berpenampilan rapi memegang sepidol/kapur tulis di hadapan siswa-siswinya. Setiap pula mereka tampil dengan rambut yang rapi, baju dan celana rapi, yang tidak kalah menariknya adalah sepatu kulit yang licin dan bahkan lalat dan semut tidak bisa bertengger di sepatu yang mereka pakai. Gaya ini sudah lumrah dimiliki oleh seorang guru, hanya saja mereka tidak pernah terbebas dari penyakit KANGKER alias Kantong Kering.

Bukan rahasia lagi bahwa profesi guru bukanlah profesi yang cukup menjamin dalam sisi materi. Lebih-lebih bagi guru honorer yang hanya mengandalkan gaji/honor yang dibayar setiap tiga bulan sekali. Namun demikian seorang guru tetap saja terlihat seperti gayanya orang kaya yang kesana kemari mengunakan sepatu dan pakaian rapi. Ups… tetapi jangan khawatir kawan, menjadi seorang guru adalah profesi yang mulia, ea paling tidak kita mendapatkan HONDA alias Honor Dari Allah yang nantinya akan menjadi bekal kita di alam yang abadi.

Meskipun profesi menjadi seorang guru tidak begitu menjanjikan, namun ahir-ahir ini banyak universitas dan perguruan tinggi yang membuka jurusan pendidikan yan nantinya akan mencetak sarjana pendidikan dan jelaslah bahwa sarjana pendidikan itu harus siap-siap untuk nimberung di dunia pendidikan dengan menjalani profesi menjadi seorang guru.

Ahir-ahir ini profesi menjadi seorang guru banyak sekali digemari oleh masyarakat, misalnya saja masyarakat Nusa Tenggara Barat. Setiap tahunnya ada ribuan sarjana pendidikan yang diwisuda di berbagai universitas dan perguruan tinggi. Tamatan-tamanatan universiatan dan perguruan tinggi itu kemudian bersaing menyodorkan lamaran di sekolah-sekolah yang berada di dekat tempat tinggalnya dan bahkan ada yang menyodorkan lamaran hingga ke sekolah-sekolah terpencil dan sekolah di luar daerah dengan harapan supaya ilmu pendidikan yang mereka miliki bisa bermanfaat.

Hal yang mengherankan adalah banyaknya sarjana pendidikan yang melakukan spekulasi dengan membayar hingga jutaan rupiah supaya ia diterima sebagai seorang guru honor di sekolah yang ia kehendakia. Banyak pula sarjana pendidikan yang berani membayar hingga puluhan juta rupiah supaya ia bisa masuk sebagai tenaga Honda (Honor Daerah) dan lebih-lebih untuk mendapatkan setatus PNS (guru negeri). Hal ini bukanlah rahasia umum sebab hal semacam ini kerap disiarkan di media massa dan berita di layar tv atau berita-berita yang disirkan melalui gelombang radio serta media jejaring social.

Seorang guru memiliki andil yang cukup besar bagi kemajuan bangsa dan negara ini. Tanpa guru, tidak aka nada doctor, professor, menteri, presiden dan sebagainya. Namun demikian, kehidupan seorang guru tidak pernah berubah sebab pendapatan yang mereka peroleh dari profesi itu tidaklah besar. Untuk itu jangan heran jika saat ini banyak guru yang sepulang sekolah bekerja sebagai tukang ojek, buruh tani, buruh bangunan, tukang ngampas, menjadi guide dan sebagainya sebab jika mereka hanya mengandalkan gaji/honor sebagai seorang guru maka mereka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, lebih-lebih mereka yang sudah berkeluarga.

Penampilan seorang guru boleh melebihi penampilan seorang konglomerat yang setiap waktu berpenampilan rapi dengan sepatu licin sebagai pembungkus kakinya. Namun penampilan itu tidak bisa dijadikan sebagai ukuran isi kantong mereka. Untuk itu, tidak salah jika sahabat-sahabat dan warga kampung saya menyebut guru dengan istilah “Orang Miskin Bersepatu”. Ea, meskipun miskin namun seorang guru selalu menjaga penampilannya, lebih-lebih jika ia adalah seorang perempuan.

Namun demikian bukan berarti kita harus berkecil hati sebab menjadi seorang guru adalah profesi yang mulia. Meskipun banyak orang yang mengatakan bahwa kita (golongan guru) adalah Orang Miskin Bersepatu namun janganlah itu kita jadikan sebagai alasan untuk meninggalkan profesi yang kita geluti ini. Mari kita tunjukkan bahwa Orang Miskin Bersepatu dapat merubah negeri ini ke arah yang lebih baik. [] - 05

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru