Warga Tetap Tolak Tambang Pasir Besi

KM. Sukamulia – Sejak tahun 2008, kisruh pasir besi sangat menjanggaal perasaan masyarakat Kecamatan Pringgabaya, kususnya mereka yang berada di sekitar wilaya pantai (masyarakat Sukamulia Desa Pohgading Timur, masyarakat Dedalpak Desa Pohgading dan masyarakat Ketapang Desa Pringgabaya. Sejak tahun itu dan hingga saat ini masyarakat lingkar tambang tetap dan menolak dilakukannya Penambangan Pasir Besi oleh PT. Anugreah Mitra Geraha.

Pada dasarnya rencana penambangan pasir besi di wilayah Kecamatan Pringgabaya mulai ada sejak tahun 2005, namun hingga tahun ahir tahun 2007 warga belum melaku pergerakan untuk melakukan penolakan sebab mereka belum mengerti apa tujuan dan maksud dari rencana itu. Kisruh Penambangan Pasir Besi di sekitar wilayah Sukamulia, Dedalpak dan Ketapang bukanlah hal yang baru sebab sejak tahun 2008 warga lingkar tambang terus melakukan pergerakan untuk menolak kegiatan itu. Pasalnya, pemerintah dan pihak-pihak terkait selalu main kucing-kucingan dengan warga lingkar tambang. Sejak awal, Pemerintah Daerah Lombok Timur bersama beberapa PT yang pernah diajukan untuk mengelola pasir besi telah melakukan kesalahan yang patal. Mereka tidak pernah melakukan sosialisasi yang baik terhadap rencana penambangan.

Hingga PT. AMG muncul, Rencana Penambangan Pasir Besi tetap ditolak warga, lebih-lebih PT. AMG belum memiliki Analisis Dampak Lingkungan yang menjadi dasar mereka melakukan kegiatan penambangan pasir besi. Namun Pemda Lotim tetap mendukung PT. AMG untuk melakukan penambangan, buktinya pada ahir tahun 2013 hingga awal 2014, PT. AMG melakukan kegiatan penambangan di sekitar wilayah Pantai Ketapang Desa Pringgabaya. Kegiatan yang dilakukuan oleh PT. AMG itu dinilai sebagai salah satu bentuk pencurian asset oleh warga Kecamatan Pringga Baya sebab mereka melakukan kegiatan penambangan tanpa dasar hukum dan legalitas yang kuat. Anehnya, saat itu Pemda Lotim tidak mau mendengarkan suara rakyatnya yang melakukan penolakan dan bahkan seolah-olah ia sangat mendukung atas kegiatan penambangan illegal yang dilakukan oleh PT. AMG.

Setelah ditelusuri, ternyata AMG belum mempunyai ANDAL, saat itu AMG hanya memiliki Kerangka Acuan ANDAL yang belum disyahkan oleh DPT. Bahkan waktu itu, sebagian besar anggota DPR Lotim tidak setuju atas rencana Penambangan Pasir Besi sebab mereka mengaku bahwa Pemda Lotim dan AMG tidak pernah berkoordinasi dengan baik dengan angota DPR Lotim. Namun demikian AMG tetap saja nekat melakukan kegiatan penambangan di sekitar Pantai Ketapang. Hal itulah yang kemudian memicu masyarakat Kecamatan Pringgabaya melakukan demo besar-besaran pada tanggal 17 Februari 2014.

Naasnya, demo itu berahir tragis sebab Pemda Lotim mengerahkan ribuan personil kepolisian untuk yang berwajah garang untuk menghadang aksi demo. Miris, polisi membabi buta dengan senjata yang mereka bawa, warga kalang kabut dibuatnya. Hal yang sangat memperihatinkan adalah ketika para polisi mengumpulkan kendaraan warga yang kemudian mereka bakar dan puluhan motor mereka rusak dengan seenak perutnya. Bukan hanya itu, malam harinya ratusan personil polisi menggerebek rumah warga dan melakukan penjeputan paksa terhadap belasan orang warga Ketapang dan dua orang warga Dusun Sukamulia.

Saya masih ingat betul, dua hari setelah demo terjadi, sekitar 1.500 orang personil polisi datang ke Dusun Sukamulia dengan tujuan untuk menjemput 2 orang warga yang dicurigainya sebagai propokator dan penggerak demonstrasi. Satu unit mobil BARAKUDA dan peuluhan mobil serta sepeda motor yang dikendarai oleh polisi bersenjata lengkap dengan sombongnya mesuk di kampong yang saya cintai ini. Padahal waktu itu target sudah melakukan koordinasi dengan pihak POLDA NTB melalui perantaan Kades Pohgading Timur, waktu itu pihak POLDA berjanji akan melakukan penjemputan dengan damai dan tanpa melibatkan banyak personil sebab kedua orang target (warga Sukamulia) sudah siap menyerahkan diri dengan damai. Nyatanya, sesampai di Sukamulia, personil polisi membuat gaduh padahal target dan warga Dusun Sukamulia bersama Aparatur Desa Pohgading Timur sudah berkumpul di Masji Al-Ridho Sukamulia untuk menunggu kedatangan mereka guna menyerahkan target dengan damai. Saya masih ingat betul, hari itu banyak sekali anggota kepolisian yang melakukan pemukulan terhadap warga yang berada di sekitar masjid, padahal warga itu hanya ingin menyaksikan dua orang pejuangnya dijemput untuk menjalai pemeriksaan di Polres Lotim. Lucu dan menegangkan, waktu itu dengan sombong dan garangnya persenoli polis memukul warga dan bahkan mereka melakukan pengejarah bermodal senjata yang mereka isi dengan amunisi sehingga warga berlari terbirit-birit. Tragisnya, kala itu polisi juga menyakiti anak-anak yang ada disekitar masjid. Entah itu sengaja atau tidak yang jelas itu bukanlah perlakuan yang baik, lebih-lebih polisi adalah pelindung masyarakat.

Sejak tragedi itu, isu Penambangan Pasir Besi mulau mengendor dan bahkan sepanjang tahun 2014 PT AMG tidak lagi melakukan kegiatan penambangan. Namun di balik itu AMG dan Pemda Lotim terus menyusun siasat untuk mengelabuhi masyarakat lingkaar tambang agar mereka bisa mereka kuasi. Terbukti, pada tanggal 14 Maret 2015 Pemda Lotim dan pihak AMG mengumpulkan warga Dedalpak di Kantor Desa Pohgading dengan tujuan untuk mensosialisasikan pelaksanaan penambangan lagi.

Menurut berita yang dimuat Radar Lombok edisi Senin, 16 Maret 2015, dalam kesempatan itu warga mempertanyakan ANDAL yang menjadi acuan AMG untuk melakukan penambangan. Warga juga meminta pada pihak perusahaan menunjukkan dan memperlihatkan hasil kajian ANDAL untuk memperjelas legalitas perusahaan itu jelas. Namun permintaan masyarakat tersebut dijawab ngambang oleh pihak perusahaan dan pihak-pihak berkepentingan sebab memang benar hingga saat ini AMG belum memiliki ANDAL, perusahaan itu hanya memiliki Kerangka Acuan Andal yang hingga saat ini belum dianalisis sebab masyarakat lingkar tambang tetap menolak dilaksanakannya penambangan Pasir Besi. Lucunya pihak PT AMG mau bekerja dulu baru mengeluarkan Analisis Danpak Lingkungan, ini benar-benar gila. Ea mungkin saja pihak AMG berpikir bahwa warga lingkartambang adalah orang-orang dungu yang bisa mereka bohong-bohongi dan permainka.

Diberitakan juga bahwa pada pertemuan itu disepakati bahwa masyarakat lingkar tambang yang ada di Dusun Dedalpak Desa Pohgading memperbolehkan AMG mengelola Pasir Besi dengan catatan pihak PT AMG harus memenuhi 13 poin lebih dahulu. Diantaranya adalah dibuatkan taman wisata, dibuatkan tanggul pengaman, bangunkan masjid an sarana pendidikan serta saran kegiatan olahraga. Setelah poin-poin itu dilunasi maka barulah AMG boleh melakukan kegiatan penambangan. Setelah kegiatan penambangan dilaksanakan, masyarakat meminta supaya PT AMG memberikan zakat penghasilan sebesar 20% (10% untuk Pemda Lotim dan 10%-nya adalah untuk warga Dedalpak). Warga juga meminta dibangunkan sarana kesehatan, memperhatikan warga setempat, bertanggung jawab atas danpak penambangan dan lain sebagainy.

Permintaan warga Dedalpak ini disetujui oleh PT AMG, namun beberapa pihak dan sebagian besar warga memandang bahwa mustahil PT AMG akan melunasi semua tuntutan itu. Beberapa hari setelah itu, warga Dedalpak berkoordinasi dan terdengar isu bahwa masyarakat Dedalpak menyetujui AMG untuk melakukan penambangan sebab mereka yang datang pada saat itu didekte satu persatu oleh petugas, sehingga mereka terpaksa mengatakan setuju.

Isu disetujuinya penambangan Pasir Besi oleh masyarakat Dedalpak mencuat sehingga warga lingkar tambang lainnya mulai berkoordinasi untuk menghadapi rencana yang disepakati itu. Setelah mereka berkoordinasi, ternyata masyarakat Dedalpak juga Tetap Menolak Penambangan Pasir Besi. Yel-yel “Kami Menolak Tambang Pasir Besi Hidup atau Mati”, tetap hangat dalam benak dan otak warga lingkar tambang sehingga sampai kapan-pun warga lingkar tambang akan tetap menolak Tambang Pasir Besi dengan jalan apa saja yang bisa mereka lakukan. “Kita lihat saja nanti, jika AMG lagi-lagi melakukan kegiatan penambangan maka kami tidak akan tinggal diam sebab AMG cacat hukum”, kata-kata adalah ucapan sebagian besar masyarakat lingkar tambang Pasir Besi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa warga lingkar tambang Tetap Menolak Penambangan Pasir Besi bahkan berbagai organisasi Mahasiswa dan LSM sudah tetap siap mendukung penolakan itu sebab PT AMG dan Pemda Lotim terlalu ambisi untuk mengorbankan rakyat demi kepentingan dan demi mencapai tujuan mereka yang hanya sesaat. [] - 01

_By. Asri The Gila_

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru